Asy-Syaikh Abdul Aziz As-Salman rahimahullah berkata:

من سوء الأدب في المجالسة : أن تقطع على جليسك حديثه أو تبدُرَهُ إلى تمام ما ابتدأ به تريه أنكَ أحفظ له منه.

“Termasuk adab jelek saat berbincang ialah kamu memutus ucapan temanmu dan mendahului dia untuk melengkapi ucapan yang dia mulai. Dalam rangka menampakkan padanya bahwa kamu lebih tahu tentang hal yang dibahas daripada dia.” (Iyqazhu Ulil Himam, hlm. 7)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:24) 28 Jumadil Awal 1440 / 03 Februari 2019

Dari Aslam Al Qibthi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن غسَّلَ مسلِمًا فَكَتمَ علَيهِ غفرَ لهُ اللَّهُ أربعينَ مرَّةً

“Barang siapa yang memandikan mayit dan dia menutupi aib yang ada padanya; maka Allah akan mengampuninya empat puluh kali.” -SHAHIH- (Ahkam Al Jana’iz, hlm 69) HR. Al Hakim (I/354) dan Al Baihaqi (III/395)

Dalam riwayat Ath-Thabrani dengan lafazh:

 أربعين كبيرة..

“.. maka Allah akan mengampuni empat puluh dosa besarnya.” -SANAD-NYA KUAT- (Ad-Dirayah, 140 melalui Ahkam Al Jana’iz, hlm. 69)

Dengan syarat yang tertera dalam hadits di atas. Dia menutupi kekurangan yang dia jumpai pada si mayit, tidak dia ceritakan pada siapapun.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (19:26) 29 Jumadil Awal 1440 / 03 Februari 2019

Asy-Syaikh Abdul Aziz As-Salman rahimahullah berkata:

يبقى الصالحُ صالحاً حتى يُصَاحِبَ فاسدا فإذا صَاحَبَهُ
فَسَدَ. مِثل مياه الأنهار تكونَ حلوة عَذَبة حتى تخالط ماء البحر فإذا خالطته ملحت وَامترَت وفسَدَت

“Orang shalih (baik) akan tetap shalih selama dia tidak bersahabat dengan orang yang rusak. Jika dia sudah akrab dengan orang rusak niscaya ia akan jadi rusak.

Persis seperti air sungai yang tawar lagi segar [ yang akan terus baik ] hingga ia bercampur dengan air laut. Jika air tawar sudah bercampur dengan air laut; niscaya ia akan menjadi asin, pahit, dan rusak [ rasa tawarnya ].” (Iyqazhu Ulil Himam, hlm. 9)

Sebagian beralasan, saya berteman dengan dia supaya bisa membimbing mereka ke jalan kebaikan.

Simaklah kembali nasihat dari Asy-Syaikh Abdul Aziz As-Salman berikut ini:

واحذر أن تغتر بقول المغفلين نُخَالِطُهُمْ لنَجْذبَهُم إلى الاستقامة. وهذا غلط… والصحيح هو الذي يتضرر بمخالطة المريض. وأما المريض فلا يبرأ بمخالطة الصحيح

“Jangan sampai kamu tertipu dengan pernyataan sebagian orang bodoh yang mengatakan, ‘Kami bergaul dengan orang yang jelek [ agama dan akhlaknya ] agar bisa menuntun mereka pada kebaikan.’ Ini hal yang keliru!..

[ Di mana-mana ] Orang sehat yang akan terkena dampak jelek saat bergaul dengan orang sakit. Sedang orang sakit sendiri tidak akan bisa sembuh dengan bergaul bersama orang-orang sehat.” (Idem, hlm. 9)

Bukan artinya kita menutup pintu nasihat untuk mereka. Tapi pernyataan beliau ini lebih terarah kepada orang yang bergaul secara intens (sering) kepada pihak-pihak di atas. Karena semua kita tahu, mana yang sebatas teman dengan mana yang berteman akrab.

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:35) 28 Jumadil Awal 1440 / 03 Februari 2019

Asy-Syaikh Abdul Aziz As-Salman rahimahullah menyatakan:

القلوب الفارغة من طاعة الله مُوكلة بالشهوات

“Hati yang kosong dari ketaatan akan diserahkan pada syahwat.” (Iyqazhu Ulil Himam, hlm. 9)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:02) 28 Jumadil Awal 1440 / 03 Februari 2019

Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah menyatakan:

ما أحسن العلم، أحسن من الذهب والورق، وأحسن من النساء الجميلات، وأحسن من الملك

“Alangkah luar biasanya ilmu! Dia lebih berharga daripada emas dan perak! Lebih indah daripada wanita-wanita yang cantik jelita! Dan lebih baik daripada kerajaan!.” (Beliau sampaikan ini pada hari Senin terakhir di bulan Shafar 1420 H, kami nukil melalui Nubdzah Mukhtasharah, hlm. 22)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (16:50) 27 Jumadil Awal 1440 / 02 Februari 2019

Al Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah mengatakan:

أتريد أن تقدم للإسلام شيئا ولا يتكلم فيك
أتريد أن تقدم للإسلام شيئا وتجدهم يمسحون جنبك، ويقولون: كثّر الله في الرجال من أمثالك

“Apakah maumu saat berbuat sesuatu untuk Islam lalu tidak ada orang yang membicarakanmu?! Dan apakah harapanmu kala melakukan sesuatu untuk Islam lalu ada orang-orang akan mengelus pundakmu sambil mengatakan, ‘Semoga Allah memperbanyak orang sepertimu?!” (Nubdzah Mukhtasharah, hlm. 20)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (15:44) 27 Jumadil Awal 1440 / 02 Februari 2019

Bahkan pun bila rasa sayang dan kasihan itu tertuju pada hewan yang akan disembelih.

Dari Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَحِمَ وَلَو ذَبِيحَةَ عُصْفُورٍ رَحِمَهُ اللهُ يومَ القيامَةِ

“Siapa yang mengasihani seekor burung yang akan disembelih¹; maka Allah akan merahmatinya² pada hari kiamat.” -HASAN- (Shahih Al Jami’, 6261) HR. Al Bukhari (Al Adab Al Mufrod, 381)

¹ Bila dia sendiri yang akan menyembelihnya; itu terwujud dengan menajamkan pisaunya namun tidak di hadapan hewan tersebut. (Syarah Al Adab Al Mufrod Syaikh Muhammad Ruslan, II/1715)

Hal demikian ini otomatis akan dilakukan oleh orang yang memiliki rasa kasihan dan rahmat pada hewan.

² Rahmat Allah pada hamba itu berarti Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Jadi ini balasan yang tidak main-main.

Jika seperti ini janji bagi mereka yang sayang pada hewan; lantas bagaimana lagi besarnya pahala untuk mereka yang peduli pada sesamanya.

— Masjid Abu Hurairah @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (18:.) 26 Jumadil Awal 1440 / 01 Februari 2019

Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ومن أعظم الكذب: ما يفعله بعض الناس اليوم، يأتي بالمقالة كاذبًا يعلم أنها كذب، لكن من أجل أن يُضحك الناس

“Termasuk kebohongan paling besar adalah yang dilakukan sebagian orang di zaman sekarang. Yaitu dia menyampaikan sebuah hal bohong yang dia tahu itu kebohongan; supaya orang tertawa.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/296)

Baca juga tentang ini di : https://t.me/nasehatetam/1772

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (13:05) 24 Jumadil Awal 1440 / 30 Januari 2019

Kita memang belum melihat pahala apa yang Allah persiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang mendapatkan musibah lalu menyikapinya dengan kesabaran.

Namun Nabi Muhammad ﷺ memberikan sedikit gambaran tentang betapa besarnya pahala untuk mereka.

Saking besarnya pahala mereka, orang-orang yang sehat dan aman dari ujian di dunia ini berangan-angan agar dapat ujian yang sangat pedih supaya juga dapat pahala besar tersebut. Berikut ini riwayatnya.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَوَدُّ أهلُ العافيةِ يومَ القيامةِ – حين يُعْطَى أهلُ البلاءِ الثوابَ – لو أن جُلُودَهم كانت قُرِضَتْ في الدنيا بالمَقارِيضِ

“Pada hari kiamat nanti -ketika orang-orang yang kena musibah diberi pahala-; mereka yang aman dari musibah sangat ingin andaikata di dunia dulu kulit mereka dipotong-potong dengan gunting.” -HASAN LI GHAIRIH- (Takhrij Al Misykah, 1514) HR. At-Tirmidzi (2402), Ath-Thabrani (Ash-Shagir, 241)

Karena kaum shalih terdahulu memahami benar hakikat ini, mereka pun justru suka terhadap musibah yang mengenai mereka. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

وقد كان السلف يفرحون بالمصائب نظرًا إلى ثوابها قال أبو الدرداء رضي الله عنه : ثلاث يكرههن الناس وأحبّهن الفقر والمرض والموت

“Kaum salaf dahulu, mereka gembira terhadap musibah karena melihat pada pahala di baliknya. Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu menyatakan, ‘Tiga perkara yang dibenci oleh orang-orang namun aku menyukainya; kemiskinan, sakit, dan kematian’.” (At-Tabshiroh, hlm. 762)

Bukan artinya musibah itu ditunggu-tunggu, tapi saat datang, kepedihannya cepat berlalu dari mereka karena ingat besarnya pahala. Semoga kita bisa terapkan ini.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:48) 25 Jumadil Awal 1440 / 31 Januari 2019

Malik bin Dinar rahimahullah mengatakan:

البكاء على الذنوب يحط الخطيئة كما تحطّ الريح الورق اليابس.

“Menangis saat mengingat dosa bisa menggugurkan kesalahan sebagaimana angin menggugurkan daun-daun kering.” (At-Tabshiroh oleh Ibnul Jauzi, hlm. 791)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:57) 25 Jumadil Awal 1440 / 31 Januari 2019