P : Adakah doa khusus sebelum memasuki ramadhan?

J : Tidak diketahui ada doa khusus yang dibaca saat masuk bulan ramadhan. Yang ada hanyalah doa umum ketika melihat hilal (masuknya bulan hijriyah). Dan doa itu dibaca saat melihat hilal ramadhan maupun bulan lainnya. Lafazh doanya ialah sebagai berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالْإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allaahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah.”

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Ahmad III/17, At-Tirmidzi 3451, dan yang lainnya)

Jika dia ingin berdoa agar bisa menjalankan puasa secara sempurna dan agar pahala dari ibadah yang dikerjakannya diterima oleh Allah; maka ini juga tidak masalah.

Demikian kesimpulan dari keterangan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah dalam « http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/7445 »

— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi

Al-Allamah Muhammad Nashirudin Al-Albani rahimahullah menyatakan,

لم يثبت في النهي عنه شيء كما قال الحافظ ابن حجر، والمطلوب تجنب الرشاش فبأيها حصل بالقيام أو القعود وجب

“Tidak ada satu riwayat shahih pun yang melarang dari kencing dengan berdiri sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Yang jadi inti ialah agar menghindari percikannya. Manapun, baik dengan berdiri atau duduk yang bisa menghindarkannya dari percikan maka cara itulah yang wajib dia ambil.” (Jami’ Turats Al-Allamah Al-Albani fil Fiqh, I/136)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:19) 23 Sya’ban 1440 / 29 April 2019

Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

مبادرة الصحابة -رضي الله عنهم – إلى الأعمال الصالحة، وأنهم لا يتأخرون فيها، وهذا شأنهم؛ ولهذا كانت لهم العزة في الدنيا، وفي الآخرة

“Para sahabat -semoga Allah meridhai mereka semua- demikian bersegera melakukan amal-amal kebaikan dan mereka tidak menunda-nundanya. Demikian keadaan mereka! Karena itulah mereka meraih kehormatan di dunia dan di akhirat.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/26)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (21:56) 21 Sya’ban 1440 / 27 April 2019

Al-Allamah Ibnu Baaz rahimahullah menyatakan,

السنة للمؤمن أن يقدم سنة الفجر فيصليها في البيت ثم يخرج إلى المسجد، فإذا جاء والصلاة لم تقم صلى تحية المسجد ركعتين هذا هو السنة

“Yang sunnah bagi seorang mu’min dia mendahulukan shalat sunnah fajar di rumahnya kemudian baru berangkat ke masjid. Jika saat di masjid shalat subuh belum dimulai maka dia shalat tahiyatul masjid. Demikian yang sunnah.” (Majmu’ Fatawa, XI/377 melalui Al-Ikhtiyaraat hlm. 99)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:17) 21 Sya’ban 1440 / 27 April 2019

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan,

الرفاهية هي التي تدمر الإنسان؛ لأن الإنسان إذا نظر إلى الرفاهية وتنعيم جسده ؛ غفل عن تنعيم قلبه، وصار أكبر همّه أن ينعم هذا الجسد الذي مآله إلى الديدان والنتن

“Kemewahan ialah faktor yang bisa menghancurkan seseorang. Jika seorang hamba sudah memandang pada kemewahan dan kenikmatan jasadnya dia akan jadi lupa terhadap kenikmatan hatinya.

Saat itulah obsesi terbesarnya hanya untuk memanjakan fisik yang padahal ujungnya kepada cacing dan kemudian membusuk.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/36)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (22:25) 21 Sya’ban 1440 / 27 April 2019