Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً، فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ، حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ

“Jika kalian bertiga, maka janganlah berbisik-bisik berdua sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian berbaur dengan yang lain. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi merasa sedih.” HR. Al-Bukhari (6290) dan Muslim (2184)

Dari larangan Nabi Muhammad ﷺ ini kita mengetahui bahwa penting sekali melihat keadaan dan menjaga perasaan teman atau saudara kita.

Selanjutnya

Pada intinya, jangan sampai membuat teman kita jadi sedih disebabkan sikap kita. Pun sama, seumpama sedang kumpul berlima, jangan berempat berbincang diam-diam lalu yang satu ditinggal tidak dilibatkan, dst.

Al-Hafizh al-‘Iraqi rahimahullah mengatakan,

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَكَذَلِكَ الْجَمَاعَةُ عِنْدَنَا لَا يَتَنَاجَوْنَ دُونَ وَاحِدٍ لِوُجُودِ الْعِلَّةِ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَقَعُ فِي نَفْسِهِ أَنَّ الْحَدِيثَ عَنْهُ بِمَا يَكْرَهُ أَوْ أَنَّهُمْ لَمْ يَرَوْهُ أَهْلًا لِاطِّلَاعِهِ عَلَى مَا هُمْ عَلَيْهِ

“Al-Mawardi berkata, ‘Pendapat kami, sama halnya jika yang berkumpul jumlahnya banyak. Tidak boleh mereka berbicara diam-diam tanpa melibatkan satu orang, karena penyebab larangannya juga ada [ yaitu membuat sedih ].

Sebab bisa pula muncul dalam perasaan (yang tidak diajak bicara) bahwa yang sedang dibicarakan ialah tentang perkara yang dia benci yang menyangkut dirinya. Atau dia akan mengira bahwa mereka tidak melibatkannya karena tidak pantas untuk ikut membahas hal itu.” (Tharh at-Tatsrib, VIII/142)

Jadi di samping membuatnya sedih, perbuatan ini juga bisa memunculkan dugaan yang tidak-tidak.

TERMASUK BERBICARA DENGAN BAHASA YANG TIDAK DIPAHAMI OLEH SALAH SATU TEMANNYA

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata,

ومثل هذَا إذا كان رجلانِ يَعرفانِ لغة لا يعرفها الثالث، فجعلا يَتَحَدَثانِ بها، فهذا كالمتناجيين؛ لأنّ هَذَا الثالث لا يدري ما يقولانِ، وسوف يُحْزِنُه سيقول: لماذا يتخاطبانِ بلغة لا أفهمها، وربما يظنّ بهما ظنّ السوء.

“Semisal ini apabila ada dua orang yang mengerti suatu bahasa yang tidak dipahami oleh orang ketiga, lalu mereka berdua berbicara dengan bahasa itu (di depannya), secara hukum ini seperti berbincang rahasia juga.

Karena yang satunya tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh dua temannya. Hal ini juga akan membuatnya sedih, dan ia akan berkata, ‘Kenapa mereka berdua bicara dengan bahasa yang tidak saya pahami.’ Dan bisa saja juga akan muncul buruk sangka kepada dua temannya di dalam hatinya.” (Asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram, III/647)

Artinya meskipun mereka tidak berbisik-bisik maka hukumnya tetap tidak boleh. Ini layak kita ingat, karena di negeri kita ini, keanekaragaman bahasa terhitung sangat banyak.

TIDAK MASALAH APABILA;

(1) Di sana ada banyak orang.

Jika kondisinya demikian maka tidak masalah ada dua orang yang berbicara sendiri. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ di atas,

حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاس

“.. sampai kalian berbaur dengan yang lain..”

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,

أما إذا كان الناس كثيراً في المجلس يزيدون عن ثلاثة، فلا بأس أن يتناجى الاثنانِ لعدم المحظور؛ لأن الباقين كثيرون، فلا يقع في نفوسهم شيء

“Apabila di perkumpulan itu ada banyak orang, lebih dari tiga, maka tidak masalah jika dua orang berbincang diam-diam karena tidak ada pelanggarannya. Dikarenakan yang lain banyak sehingga tidak akan menimbulkan apapun dalam perasan mereka.” (Tashil al-Ilmam, VI/162)

(2) Dia mengizinkan

Jika mereka berdua minta izin ingin berbicara berdua saja lalu dia mengizinkan maka hukumnya jadi boleh. Berkata Sa’id bin Musayyib rahimahullah,

إلَّا أَنْ يَسْتَأْذِنَاهُ

“Terkecuali jika mereka berdua meminta izin kepadanya.” (Dinukil dalam Tharh at-Tatsrib, VIII/142)

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah menyatakan,

أنه إذا كان الثالث لا يحزن ولا يبالي فلا بأس.. ومثل ذلك لو كانوا ثلاثة، فتناجى اثنان دون الثالث بإذنه،؛ لأنّ العلة في النهي من ذلك «أنَ ذَلِكَ يُحْزِنُه»، فيدل على أنه إذا كان بإذنه فلا بأس، وهذا يحدث كثيرًا

“Jika satu orangnya itu tidak sedih dan tidak peduli maka tidak masalah… Seperti pula, jika mereka bertiga lalu yang dua berbicara secara khusus tanpa melibatkan yang ketiga tapi sudah dia izinkan, (ini juga tidak masalah).

Karena alasan dilarangnya ialah, ‘bisa membuat orang yang ketiga merasa sedih‘. Ini menunjukkan bahwa jika dia mengizinkan maka tidak masalah. Perkara seperti ini sering terjadinya.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, XV/36)

(3) Mereka sudah berbincang lebih dulu berdua lalu datang seseorang.

Al-Hafizh al-‘Iraqi rahimahullah berkata,

مَحَلُّ النَّهْيِ عَنْ تَنَاجِي اثْنَيْنِ دُونَ ثَالِثٍ إذَا كَانَ ذَلِكَ الثَّالِثُ مَعَهُمَا فِي ابْتِدَاءِ النَّجْوَى، فَأَمَّا إذَا انْفَرَدَ اثْنَانِ فَتَنَاجَيَا ثُمَّ جَاءَ ثَالِثٌ فِي أَثْنَاءِ تَنَاجِيهِمَا فَلَيْسَ عَلَيْهِمَا قَطْعُ التَّنَاجِي

“Waktu larangan ini ialah ketika dua orang berbicara dan orang ketiga bersama mereka dari awal. Sedangkan jika ada dua orang berbicara rahasia kemudian setelah itu datang orang ketiga di tengah-tengah mereka berbicara maka tidak ada keharusan bagi mereka untuk menghentikan perbincangan.” (Tharh at-Tatsrib, VIII/143)

JANGAN MENYAKITI PERASAAN TEMAN KITA

Ini salah satu kandungan inti yang terdapat dalam hadits.

Asy-Syaikh Al-Utsaimin berkata,

وفي قوله : «مِنْ أجلِ أنَّ ذَلِكَ يُحزنه» دليل على أنه يجب على المرء أن يتجنّب كلّ ما يُحزِن أخاه المسلم، فكلّ ما يُدخل عليه الحزنَ والانقباض وضيق الصدر فإنّه يجب عليه أن يَتَجَنّبه، وعكس ذلك ما يُدخل عليه السرور والانشراح فإن هذَا من الأمور المطلوبة، سواء كان جليسَك أو لقيته في السوق أو ما أشبه ذلك.

“Pada sabda Nabi Muhammad ﷺ, ‘Karena bisa membuat orang yang ketiga tadi sedih’ ini merupakan dalil bahwa seseorang wajib menjauhi segala bentuk yang dapat membuat saudara muslimnya bersedih.

Segala macam yang bisa membuatnya sedih, tertekan, dan sesak maka wajib dihindari.

Dan lawannya, yaitu semua hal yang dapat membuatnya senang dan lapang maka termasuk perkara yang dianjurkan, bersama dengan teman dudukmu, atau dengan orang yang kamu temui di pasar, atau yang semisalnya.” (Asy-Syarh al-Mukhtashar’ ala Bulughil Maram, III/648)

Tapi sebagai manusia, meskipun sudah tahu ilmunya, terkadang sadar atau tidak tetap saja kita menyakiti perasaan saudara kita. Bila itu kembali terjadi, maka segera bertaubat pada Allah, dan jangan segan-segan untuk meminta maaf kepadanya. Semoga Allah menyelamatkan kita.

Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi [ Kandungan hadits ke 4 dari Kitab al-Jami’ Bulughul Maram ]

Dari An-Nawwas bin Sim’an radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Saya pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang makna kebajikan dan dosa. Beliau ﷺ menjawab, ‘Kebajikan itu ialah akhlak yang baik. Sedangkan dosa ialah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada, dan kamu tidak senang jika perbuatan itu diketahui orang lain.’.” HR. Muslim (2553)

Selengkapnya

SABDA NABI MUHAMMAD ﷺ: ‘Kebajikan itu ialah akhlak yang baik

Di sini ada 3 poin pembahasan,

01. AKHLAK BAIK ADA DUA; KEPADA ALLAH DAN KEPADA SESAMA

Tentang makna berakhlak baik kepada Allah, Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

حُسْنُ الخلق مع الله عز وجل، بأن يَتلقى الإنسان أحكام الله الكونيّة والشرعيّة بانشراح صدر وطمأنينة، فإذا أمر الله بشيء لا يضيق صدرُه به، وإذا نهى عن شيء لا تتعلق نفسُه به، وإذا قضى الله عليه بأمر قدري من مرض أو حادث أو غير ذلك فليكن منشرح الصدر، وليرض بالله عَزَوَجَلَّ رَبّا

“Berakhlak baik kepada Allah terwujud dengan seseorang menerima hukum Allah yang kauni [ seperti musibah, sakit, dan sebagainya ] serta yang syar’i [ perintah dan larangan dalam agama ] dengan hati lapang dan tenang.

Jadi jika Allah memerintahkan sesuatu hatinya tidak sempit. Jika Allah melarang dari sesuatu maka jiwanya tidak tertarik untuk melakukannya.

Ketika Allah menetapkan suatu perkara takdir pada seseorang, apakah berupa penyakit, kecelakaan, atau yang lainnya; hendaklah dia terima dengan hati yang lapang dan ridha kepada Allah sebagai Dzat yang mengatur segala urusannya.” (Asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram, III/644)

Sebatas gambaran, apabila kita masih;
– berat menerima kewajiban shalat 5 waktu,
– masih tertarik dengan riba padahal jelas Allah sudah haramkan,
– marah ketika Allah memberi kita penyakit,
Berarti akhlak kita kepada Allah belum baik. Harus kita ubah.

Lalu bagaimana dengan akhlak baik kepada sesama? Cakupannya pada 4 hal. Dari 4 hal ini bercabang banyak sekali bentuk bentuk akhlak baik.

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin mengatakan,

أما حسن الخلق مع الناس فقد سبق أنه : بذل الندى، وكف الأذى، والصبر على الأذى، وطلاقة الوجه

Sudah lewat tentang makna berakhlak baik kepada manusia, yaitu;
– memberi,
– tidak mengganggu,
– sabar saat diganggu,
– dan berwajah ceria saat bertemu.” (Syarah Arba’in, hlm. 294)

(1) Memberi bisa dengan memberi harta, pinjaman uang, bantuan tenaga, dukungan moril, dan yang semisal ini.
(2) Tidak mengganggu yaitu tidak menjahili, tidak mengoloknya, tidak memukulnya, tidak menakut-nakutinya, dan seterusnya.
(3) Saat dia mengganggu kita entah dengan ucapan atau sikap, kita bersabar dan memaafkan jika dia memang berhak dimaafkan. Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

كانوا يقولون؛ أفضل أخلاق المؤمنين العفو

“Dahulu para salaf mengatakan, ‘Akhlak orang beriman yang paling utama ialah memaafkan’.” (Az-Zuhd oleh Imam Ahmad, hlm. 233)
(4) Saat bertemu, dia menampakkan wajah ceria pada orang-orang. Dan tentunya, bukan kepada lawan jenis yang bukan mahramnya.

Ini semua sebatas penggambaran, sebab akhlak terpuji pada sesama manusia memiliki banyak sekali bentuk.

Al-Allamah Ibnu Baaz berkata,

يدل على فضل حُسن الخلق، وعدم الغلظة، وعدم الاكفهار، وعدم العبس

“Hadits ini menunjukkan keutamaan akhlak yang baik, tidak kasar, dan tidak bermuka masam atau cemberut.” (Transkrip Syarah Riyadhus Shalihin, dari situs beliau)

Semoga kita bisa mengamalkannya.

02. AKHLAK MULIA TERMASUK KEBAIKAN PALING BESAR

Maka orang yang bersemangat dalam melakukan amal shalih jangan sampai melupakan akhlak yang baik. Karena akhlak baik merupakan salah satu pintu amal terbesar.

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,

أَنّ حُسنَ الخُلُقِ نَوعٌ عَظيمٌ مِن أنواع البرّ، وَلَيْسَ أنّ البرَّ كُلَّهُ محَصُورٌ في حُسنِ الخُلقِ، وَإِنَّمَا حُسنُ الخُلق هُوَ أغظَمُ أنواع البر

“Sabda beliau ﷺ, ‘Kebajikan itu ialah akhlak yang baik‘ maknanya; akhlak baik merupakan satu bentuk kebajikan besar dari berbagai jenis kebajikan yang ada. Bukan maknanya bahwa kebajikan terbatas pada akhlak baik saja. Tapi maknanya akhlak baik ialah jenis kebajikan yang terbesar.” (Al-Minhah ar-Rabbaniyyah, hlm. 218)

Nabi Muhammad ﷺ banyak menyebutkan tentang balasan untuk orang yang punya akhlak baik. Di antaranya, derajat orang yang akhlaknya baik akan menyamai mereka yang rajin shalat malam dan puasa sunnah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ

“Seorang mukmin dengan akhlak baiknya benar-benar mendapatkan derajat orang yang shalat malam dan puasa di siang hari.” –SHAHIH– (Shahih at-Targhib, 2643) HR. Ahmad (24355) ini lafazh beliau dan Abu Dawud (4798)

Allah paling cinta dengan hamba-Nya yang memiliki akhlak mulia. Rasulullah ﷺ bersabda,

أحب عباد الله إلى الله أحسنهم خلقا

“Hamba yang paling Allah cintai adalah yang paling bagus akhlaknya.” –SHAHIH– (Shahih al-Jami’, 179) HR. Ath-Thabrani (Al-Kabir, 471)

Akhlak mulia juga memiliki kelebihan dari sisi beratnya ketika nanti ditimbang di akhirat. Sampai-sampai, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada satu amal pun yang lebih berat ketika ditimbang melebihi akhlak mulia.” –SHAHIH– (Ash-Shahihah, 876) HR. At-Tirmidzi (2003) dan Abu Dawud (4799)

Bahkan, Rasulullah ﷺ menjamin surga tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak terpuji. Beliau ﷺ bersabda,

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِيْ رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبَيْتٍ فِي وَسْطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحاً ، وَبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku penjamin suatu rumah di surga yang paling bawah bagi orang yang meninggalkan debat walaupun dia benar.

Aku penjamin suatu rumah di surga bagian tengah bagi orang yang tidak berdusta walaupun bercanda.

Dan aku penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” –HASAN LI GHAIRIHI– (Ash-Shahihah, 273) HR. Abu Dawud (4800)

Masih banyak manfaat lain yang akan hadir dengan akhlak terpuji yang dimiliki seseorang. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata,

فَحُسنُ الخلقِ يَسْتَمِلُ عَلَى خَيْرَاتٍ كثيرة، وَيُكسبُ محَبَةَ النّاس لِصَاحِبِ الخُلقِ الحَسَنِ، وَأَيْضًا إِذَا كَانَ الدّاعية ذا خُلق حَسَنٍ أدّى ذَلِكَ إلى هداية النّاس بِقَبُولِ دَعْوَتِهِ، وَهَذَا هُوَ أَعْلَمُ أنواع البر.

“Akhlak terpuji mengandung banyak kebaikan dan akan membuat manusia suka kepada orang yang memiliki akhlak baik. Ditambah lagi, apabila dia seorang da’i yang mempunyai akhlak baik maka bisa mengantarkan orang dapat hidayah dengan diterimanya dakwah yang dia sampaikan. Dan ini jenis kebajikan paling besar.” (Al-Minhah ar-Rabbaniyyah, hlm. 219)

03. BAGAIMANA CARA MEMBENTUK AKHLAK BAIK PADA DIRI KITA?

Caranya dengan berusaha sungguh-sungguh dan maksimal untuk membiasakannya pada diri kita.

Al-Allamah Ibnu Baaz rahimahullah menerangkan,

فالواجب على المؤمن أن يُجاهد نفسَه حتى يبتعد عن الغلظة والشدة وسُوء الخلق مع إخوانه المسلمين، وحتى يكون طيب الخلق، حسن الخلق، لين الجانب مع إخوانه المسلمين

Wajib bagi orang beriman untuk berjuang melawan dirinya sampai dia bisa jauh dari sikap kasar, keras, dan buruk akhlak kepada saudara saudaranya sesama umat Islam. Hingga dia dapat berakhlak baik, indah, dan lembut pada sesama umat Islam.” (Transkrip Syarah Riyadhus Shalihin, dari situs beliau)

Jadi umpamanya;
(1) hati kita merasa sayang untuk berbagi makanan yang kita miliki, padahal untuk kita dan keluarga sudah tercukupi, maka saat itu paksa diri kita untuk berbagi.
(2) atau suatu waktu diri kita memiliki keinginan untuk berbohong, maka di saat itu paksakan diri kita untuk tetap jujur. Jangan mengikuti keinginan hati untuk berbohong.
(3) contoh lain, ketika kita bertemu dengan seseorang kita sedang malas tersenyum, maka jangan perturutkan rasa malas itu. Tetap tampakkan wajah ceria.
Dan hal ini terus dia biasakan sampai terbiasa dan akhlak baik pun melekat padanya.

SABDA NABI MUHAMMAD ﷺ: ‘Sedangkan dosa ialah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada, dan kamu tidak senang jika perbuatan itu diketahui orang lain

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata,

“Sabda beliau ini hanya berlaku bagi orang yang hatinya bersih dan sehat.” (Syarah Arba’in, hlm. 294)

Lebih jelas, beliau mengatakan di kesempatan yang lain,

ولكن هذا خطاب للمؤمن، أما الفاسق فإن الإثم لا يحيك في صدره، ولا يهمه أن يطلع عليه الناس؛ بل يجاهر به ولا يبالي، لكن المؤمن لكون الله سبحانه وتعالى قد أعطاه نوراً في قلبه، إذا هم بالإثم حاك في صدره، وتردد فيه، وكره أن يطلع عليه الناس، فهذا الميزان إنما هو في حق المؤمنين.

“Sabda nabi ﷺ ini terarah pada orang beriman. Adapun orang fasik, maka dosa tidak akan membuat sempit dadanya. Dan tidak masalah buatnya kalaupun manusia melihatnya melakukan dosa. Bahkan dia terang-terangan berbuat dosa tanpa peduli.

Sedangkan orang beriman, dengan cahaya yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hatinya, pada saat dia mau melakukan dosa akan jadi sempit dadanya, merasa bimbang, dan dia merasa tidak senang apabila manusia melihatnya melakukan hal itu. Jadi timbangan semacam ini hanya dimiliki oleh orang orang yang beriman.” (Syarah Riyadhus Shalihin, III/565)

DUA JALAN UNTUK MENGETAHUI BAHWA SUATU PERBUATAN ITU DOSA

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Terkait dosa, ulama menetapkannya berdasarkan dua dalil,

[1] dalil dalil syar’i (Al-Qur’an dan hadits). Yang ditunjukkan oleh dalil itu perbuatan haram maka statusnya dosa. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ

“Katakanlah, ‘Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar.” QS. Al-A’raf: 33

Maka semua perbuatan dosa hukumnya haram. Yang seperti ini diketahuinya dari dalil dalil.

[2] Jika tidak nampak dalam dalil yang ada maka kembalilah pada dirimu, ketika kamu tidak menemukan dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan itu haram atau terlarang maka kembali pada dirimu.

Jika kamu merasakan ketenangan untuk melakukannya maka ketahuilah bahwa hal itu baik.

Sedangkan jika perasaanmu ada rasa ingin menghindarinya, tidak mau menerimanya, dan tidak merasa tenang maka ini bukti bahwa perbuatan itu jelek. Karena hati orang yang beriman tidak akan merasa nyaman dengan perkara buruk, hatinya hanya tenang dengan kebaikan…

Dan ketika seseorang merasa malu melakukannya di depan orang orang ini juga bukti bahwa perbuatan itu dosa. Karena jika itu kebaikan maka dia tidak akan malu pada manusia.” (Tashil al-Ilmam, VI/161)

Dan sudah lewat bahwa untuk poin kedua yang diterangkan oleh Asy-Syaikh al-Fauzan ini tertuju pada orang beriman yang berhati bersih. Semoga kita dijauhkan dari berbagai dosa yang besar atau kecil, yang nampak ataupun tersembunyi.

Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi [ Kandungan hadits ke 3 dari Kitab al-Jami’ Bulughul Maram ]

P : Kepada siapa kami mesti membayarkan fidyah?

Penjelasannya

J : Fidyah diberikan pada orang miskin sebagaimana yang disebutkan dalam ayat (Al-Baqarah : 184), baik dia orang dewasa maupun anak kecil. Namun tidak boleh diberikan pada orang kafir. Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimiin rahimahullah berkata,

الصغير الذي يأكل الطعام لا بأس أن يطعم منه، وأما الكافر فلا يجوز أن يطعم من الكفارات؛ لأنه يشترط في الكفارات أن يكون مصرفها إلى المسلمين؛ لكن الزكاة أوسع؛ لأنها تجوز للكافر المؤلَّف الذي يؤلَّف على الإسلام، وأما الكفارات: كفارة الصيام، أو كفارة اليمين، أو كفارة الظهار، فإنها لا تجزئ إذا صرفت إلى الكافر

“Anak kecil miskin yang sudah bisa makan makanan boleh diberi fidyah. Adapun orang kafir; maka tidak boleh diberi sesuatu yang sifatnya kafarah (seperti halnya fidyah, pent). Pada pembayaran kafarah dipersyaratkan pihak penerima harus beragama Islam.

Berbeda dengan zakat yang peruntukannya lebih luas. Zakat boleh diberikan pada orang kafir dengan tujuan melunakkan hatinya terhadap Islam. Pada kafarah; kafarah puasa (salah satunya fidyah, di sana ada pula kafarah jima’ pada siang ramadhan -pent), kafarah sumpah, maupun kafarah zhihar tidak sah jika diberikan pada orang kafir.” (Jalasat Ramadhaniyyah)

Dan lebih baiknya, fidyah diberikan pada orang miskin yang shalih, bukan kepada orang yang malas shalat atau yang semisal. Disebutkan dalam kitab Min Fiqh al-Imam Muqbil (II/85) :

تدفعها للمسكين الذي هو رجل صالح، لا يكون قاطع صلاة

“Fidyah diberikan kepada orang miskin yang baik. Bukan yang tidak shalat.”

Arsip Tulisan Lama
Hari Ahadi 

P : Bagaimana cara pembayaran fidyah yang benar? Apakah boleh sekaligus di awal bulan ramadhan?

J : Fidyah tidak boleh dibayar sekaligus di awal ramadhan. Oleh karena fidyah terkait dengan ibadah puasa yang tidak boleh dimajukan, maka demikian pulalah fidyah.

Apakah boleh seseorang menunaikan kewajiban puasa ramadhan di bulan Sya’ban?? Tentu tidak, bukan. Maka demikian pula halnya fidyah. Jika dia belum melalui hari-hari bulan ramadhan, bagaimana bisa dia membayar sesuatu yang belum dia tinggalkan?!

Namun jika sudah dia lewati dengan tanpa puasa; maka telah boleh baginya membayar fidyah. Boleh dibayar sehari-sehari, boleh juga dibayar setelah selesai ramadhan-nya sekaligus. (Baca : Asy-Syarh Al-Mumti’, VI/326)

Arsip Tulisan Lama
Hari Ahadi

 

P : Bagaimana dengan kondisi orang yang tidak mampu membayar fidyah?

J : Selama tidak mampu maka tidak ada kewajiban lain yang mesti dia tanggung. Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan,

فإِن كَانَ عاجِزًا عَنِ الإِطْعَامِ أَيضًا فَلَا شَيءَ عَلَيهِ وَ {لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ }

“Apabila tidak mampu membayar fidyah; maka tidak ada kewajiban apa-apa lagi atasnya. Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Mughni, IV/396)

Di saat nanti sudah punya kelonggaran untuk bayar fidyah; maka barulah ia bayar fidyahnya.

Arsip Tulisan Lama
Hari Ahadi

P : Kami memiliki kakek yang sudah tua dan tidak mampu lagi berpuasa. Apakah ada kewajiban lain atas beliau?

J : Ya. Orang tua yang sudah tidak kuat puasa dan atau orang sakit yang tidak diharapkan bisa sembuh memiliki kewajiban lain; yaitu memberi makan orang miskin (baca : fidyah) dengan sejumlah hari yang ditinggalkan (bisa 29 bisa 30 tergantung jumlah hari pada ramadhan itu).

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, saat berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah al-Baqarah 184 mengatakan :

الشَّيْخُ الْكَبِيرُ، وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Kakek atau nenek tua yang sudah tidak mampu berpuasa; mereka mesti memberi makan satu orang miskin pada tiap hari yang ditinggalkan.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4505)

Arsip Tulisan Lama
Hari Ahadi

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Kami nii sebenarnya kawanan lawas kita dulu, yang sebagian dari kita insya Allah pernah betemu dengan kami, meski dulu. Kami,, sekolah di sekolah yang sama juwa dengan kita waktu itu. Lalu dengan berjalannya waktu, Allah takdirkan etam melalui situs ini untuk kembali bertemu.

Kami berharap, pertemuan etam yang sekarang bukan lagi pertemuan yang tegak etam masih halus di masa lalu. Yang gawalnya cuman bemainan, seru-seruan, begurauan, dll. Sekali lagi takdir. Itu pulalah yang saat ini menjadikan kami saat ini bisa mengampu situs ini. Situs, yang kita pahamlah pasti, datang dengan membawa sebuah misi.

Misi yang kami maksud ialah… hendak mbawa’i diri kami dan kita segalanya untuk sama-sama untuk sadar lagi akan pentingnya urusan agama. Alhamdulillah, mayoritas etam kan muslim. Nah, semua muslim kan pasti yakin dengan sepenuh jiwa dan raga bahwa dunia itu fana, sementara, dan tak lama. Dan akhirat, itu yang abadi selama-lamanya.

Dan di akhirat cuma ada dua tempat, surga dan neraka. Sementara Dzat yang sudah nyipta etam dah enjelaskan, bahwa masuk surga itu dilalui dengan menjalankan agama.

Mungkin ini sedikit perkenalan kami, bagi yang hendak betemuan lagi insya Allah mudah kok. Kami saat ini maseh di Tenggarong-an nih, ada yang di Pandjaitan, Loa Ipuh, Mangkuraja I, Gunung Belah, Triyu, Kampung Jawa, dll. Beraya’an hak yo…

بارك الله فيكم..

MEDIA LAIN NASEHAT ETAM

Telegram: t.me/nasehatetam
Instagram: instagram.com/nasehatetam

 

P : Berapa ukuran memberi makan orang miskin bagi yang tidak mampu puasa lagi?

Penjelasannya

J : Berselisih para ulama terkait ukurannya jika diberikan dalam bentuk makanan pokok yang mentah (di tempat kita beras -edt).

– Madzhab Syafi’i dan Maliki mengatakan wajibnya satu mud perhari yang ditinggalkan (kisaran 6 sampai 7,5 ons) [ Baca dalam Ash-Shaum wa Al-Ifthar, hlm. 196 ].

– Madzhab Hanbali dan ini pula yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah (XI/164) ialah setengah sha’ (kisaran 1,3 sampai 1,5 kg).

Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam (An-Nail, V/496) menyatakan bahwa tidak ada dalil tegas yang bersumber dari Nabi Muhammad ﷺ tentang berapa ukuran pembayaran fidyah tersebut. Sehingga, wallahu a’lam, sifatnya luas bila ingin mengambil salah satu dari dua pendapat di atas.

Dan jika ingin lebih sederhana, fidyah bisa dibayarkan dengan makanan siap saji sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah ﷺ, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu (Riwayat Al-Baihaqi, IV/271).

Sebab jika membayar fidyahnya dengan makanan yang sudah masak; maka tidak ada ukuran tertentu, selama itu disebut memberi makan maka telah mencukupi, seperti memberikan satu nasi bungkus atau satu nasi kotak, umpama.

Dan yang mesti diperhatikan pula, bahwa pembayaran fidyah harus dengan menggunakan makanan, bukan uang, sebab itulah yang Allah subhanahu wa ta’ala tegaskan dalam ayat-Nya,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184)

Arsip Tulisan Lama dengan Sejumlah Tambahan dan Pengurangan
Hari Ahadi

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian. Hal itu lebih layak membuat kalian tidak mengingkari nikmat Allah yang ada pada kalian.” HR. Al-Bukhari (6490) dan Muslim (2963) dan ini lafazh beliau

Selengkapnya
Sering kali kita sudah merasa nyaman dengan kondisi kita tapi tahu-tahu rasa nyaman itu hilang dan berganti sesak disebabkan kita membandingkan yang kita punya dengan milik orang lain yang lebih di atas. Dan jalan untuk hidup tenang bukan dengan memiliki materi seperti yang dimiliki oleh orang lain, karena jika cara ini ditempuh maka tidak ada habis-habisnya, sebab manusia tak mengenal kata puas. Tapi cara hidup tenang yang benar ialah dengan menjalankan isi kandungan hadits ini. Asy-Syaikh Abdullah al-Bassam rahimahullah mengatakan,

الطمأنينة القلبية لا تحصل إلاَّ بحسن النظر، والقناعة بما قسم الله للعبد، فإذا قنع نفسه، وألهم شعوره بنعم الله تعالى عليه، حصلت له راحة نفسية، وطمأنينة قلبية

“Ketenangan hati tidak akan tercapai kecuali dengan memiliki cara pandang yang baik dan merasa cukup dengan rizki yang Allah bagikan untuk hamba. Jika seseorang membuat dirinya merasa cukup dan mengingatkan perasaannya dengan nikmat nikmat Allah yang ada padanya maka saat itu dia akan merasakan ketentraman jiwa dan ketenangan hati.” (Taudhih al-Ahkam, VII/288) NASIHAT PARA ULAMA DARI HADITS INI Berkata Imam Nawawi,

قال ابن جرير وغيره: هذا حديث جامع لأنواع من الخير؛ لأن الإنسان إذا رأى من فضل عليه في الدنيا طلبت نفسه مثل ذلك، واستصغر ما عنده من نعمة الله تعالى وحرص على الازدياد ليلحق بذلك أو يقاربه، هذا هو الموجود في غالب الناس

“Ibnu Jarir dan selain beliau mengatakan, hadits ini mengumpulkan banyak jenis kebaikan. Karena jika orang melihat pihak lain yang melebihi dia dalam hal dunia maka hatinya juga jadi menginginkan hal yang sama serta akan menganggap kecil nikmat Allah ta’ala yang ada padanya, dan dia pun berambisi untuk menyamainya atau mendekatinya. Keadaan ini terjadi pada kebanyakan manusia.” (Al-Minhaj, XVIII/97) Al-Aini rahimahullah mengatakan,

قوله “فلينظر إلى من هو منه” ليسهل عليه نقصانه ويفرح بما أنعم الله عليه، ويشكر عليه وأما في الدين وما يتعلق بالأخرة فلينظر إلى من هو فوقه لتزيد رغبته في اكتساب الفضائل

“Sabda beliau, ‘Hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya’ tujuannya agar ringan baginya jika ada hal yang kurang, gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya, dan mensyukurinya. Adapun dalam masalah agama dan yang terkait akhirat hendaklah dia melihat pada yang di atasnya, agar bertambah semangatnya dalam melakukan berbagai kebaikan.” (Umdah al-Qori, XXIII/79) Rasa ‘ingin sesuatu yang belum dimiliki’ ini yang sering membuat hati sesak. Baru merasa lega saat sudah punya. Maka pemicu rasa ingin itu harusnya ditutup. Al-Allamah al-Munawi mengatakan,

فَيَنْبَغِي للْعَبد أَن لَا ينظر إِلَى تجمل أهل الدُّنْيَا فَإِنَّهُ يُحَرك دَاعِيَة الرَّغْبَة فِيهَا

“Hendaknya seorang hamba tidak melihat kepada berbagai keindahan yang dipakai ahli dunia. Sebab hal itu dapat memunculkan rasa ingin memilikinya.” (At-Taisir Syarah Jami’ ash-Shaghir, I/381) Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz,

فالإنسان إذا نظر إلى مَن فوقه في المال والجمال ونحو ذلك قد يتحسَّر، وقد يتألم، لكن ينظر إلى مَن دونه من الفقراء الآخرين الذين هم دونه في المال والخلق ونحو ذلك؛ حتى يعرف قدر نعمة الله عليه

“Jika seseorang melihat pada yang lebih dari dia dalam hal harta, keelokan wajah, dan lain-lain maka dia bisa merasa sedih dan tersiksa. Maka hendaklah dia melihat pada orang lain yang di bawahnya, dari kalangan orang orang fakir lain yang di bawah dia dalam masalah harta, fisik, maupun yang lainnya sehingga dia dapat menyadari kadar nikmat Allah.” (Transkrip Syarah Riyadhus Shalihin, dari situs beliau) Kadang, pekerjaan kita yang mungkin serba susah lantas membuat kita mengeluhkan keadaan, kurang tepat demikian, padahal di sana ada yang bahkan tidak punya pekerjaan meski sudah mencari dan berusaha. Asy-Syaikh Ibnu Baaz berkata,

فانظر إلى مَن دونك حتى تعرف قدر نعمة الله عليك، فأنت عندك أسباب: أنت نجَّار، وحداد، وخراز، والآخر ما عنده سبب.

“Perhatikanlah orang yang kondisinya di bawahmu maka kamu akan menyadari bagaimana kadar nikmat Allah yang ada padamu. Kamu memiliki pekerjaan, (entah) kamu tukang kayu, atau pandai besi, atau penjahit tapi orang lain ada yang sama sekali tidak punya pekerjaan.” (Idem) DAMPAK BURUK MELIHAT PADA ORANG YANG LEBIH DARI KITA Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz,

لأنه إذا نظر إلى مَن فوقه في الدنيا تعب، وربما استحلَّ ما حرَّم الله، وأخذ بالشبهات، واجترأ على المحارم

“Jika dia melihat pada orang yang di atas dalam hal dunia maka dia akan capek. Bahkan terkadang, [ demi mendapatkan yang dia mau ] dia akan menghalalkan yang Allah haramkan, mengambil yang syubhat [ tidak jelas halalnya ], dan berani melakukan perbuatan perbuatan haram.” (Syarah A’lam al-Muwaqqi’in, no. 4 dari situs beliau) Artinya, agamanya bisa saja dia jual demi mewujudkan yang dia inginkan. Dan obsesi itu berawal dari melihat milik orang. INGATLAH, DI LUAR SANA BANYAK ORANG YANG KONDISINYA JAUH DI BAWAH KITA Hanya saja, kita tidak mengenal mereka. Atau mungkin, mereka di sekitar kita dan dekat dengan kita, namun kita tak pernah memikirkan tentang mereka. Imam ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,

وما من مبتلى في الدنيا بخير أو شر إلا ويجدُ مَنْ هو أعظم منه بليةً

“Tidak ada seorang pun yang diuji di dunia apakah dengan kebaikan atau keburukan kecuali pasti dia dapat temukan orang yang musibahnya lebih berat daripada dia.” (Subul as-Salam, VIII/138)

Hal yang mirip, disampaikan oleh Asy-Syaikh Abdullah al-Bassam. Kami nukilkan, semoga dapat jadi renungan. Beliau mengatakan,

فإنَّ العبد مهما افتقر، فسيجد من هو أفقر منه، ومهما مرض فسيرى من هو أشد منه مرضًا، وإنْ كان ذا عاهة، فسيجد من هو أعظم منه عاهة، وأشد بلاءً، فإذا أمعن النظر، فسيجد أنَّ الله تعالى فضَّله على كثيرٍ ممَّن خلق تفضيلا.

“Sesungguhnya sefakir apapun seseorang maka dia akan dapati orang yang lebih fakir lagi daripada dia. Bagaimana pun sakit yang diderita seseorang maka dia akan melihat orang yang lebih parah sakitnya daripada dia. Jika dia memiliki cacat fisik, maka dia akan menemukan orang yang lebih besar cacatnya daripada dia dan lebih berat cobaannya. Bila seseorang merenungi hal ini, maka dia akan dapati bahwa Allah telah memberikan banyak kelebihan pada dirinya di atas banyak makhluk Allah yang lain.” (Taudhih al-Ahkam, VII/288) Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah mengatakan,

فما من فقير إلا وهناك من هو أفقر منه، وما من مريض إلا وهناك من هو أشد مرضًا منه، وما من ذي جاه إلا وهناك من هو أقل جاها منه، وهكذا المسائل الأخرى

“Tidak ada satu orang fakir pun melainkan di sana ada yang lebih fakir darinya. Tidak satu orang sakit pun kecuali di sana ada yang lebih parah sakitnya. Tak seorang pun yang punya kedudukan kecuali di sana ada yang kedudukannya lebih rendah darinya. Dan demikian juga masalah masalah lain.” (Syarah Kitab al-Jami’, hlm. 32) MENGAMALKAN HADITS INI AKAN MEMBUAT KITA LEBIH MUDAH SABAR DAN MENERIMA KETETAPAN ALLAH Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,

أن الإنسان لا يرغب في هذه الدنيا، ولا يجزع بما أصابه، بل يصبر ويحتسب سواء كان فقيراً أو مريضاً أو غير ذلك، فالدنيا دار ابتلاء، فلا يجزع من المصائب ومن الابتلاء، والذي يسهل عليه ذلك ما أرشد إليه النبي ﷺ في هذا الحديث

“Hendaklah manusia tidak condong pada dunia dan mengeluh ketika kena musibah. Bahkan seharusnya dia sabar dan mengharapkan pahala, apakah itu ujian hidup susah, penyakit, dan lain-lain. Sebab dunia memang tempatnya cobaan. Jangan dia mengeluh karena musibah dan cobaan. Dan hal yang dapat memudahkannya ialah yang dibimbingkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits ini.” (Tashil al-Ilmam, VI/158) YANG TERBAIK UNTUK KITA IALAH PADA YANG ALLAH TETAPKAN BUKAN PADA YANG KITA INGINKAN Meski tentunya, bisa saja yang kita inginkan itu juga yang Allah tetapkan. Tapi ingat, saat yang Allah tetapkan untuk kita berbeda dengan yang kita inginkan itu bukan karena Allah semata ingin menggagalkannya. Tapi karena Allah tahu bahwa yang terbaik untuk kita bukan pada sesuatu yang kita inginkan itu, tapi pada hal yang Dia tetapkan. Asy-Syaikh Muhammad Ali Adam al-Ityubi berkata,

فإن الله عز وجل هو قسّم الأرزاق، والمعيشة حسب مقتضى حكمته، فلا ينبغي للعبد النظر إلى غيره؛ لأنه يؤديه إلى ازدراء ما رزقه الله تعالى على مقتضى حكمته، وحكمه، قال الله تعالى: وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [البقرة : 216] وقال تعالى: فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا [النساء : 19]

“Sesungguhnya Allah ialah yang membagikan rizki dan penghidupan sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Tidak layak seorang hamba melihat pada orang lain. Sebab akan membuatnya menganggap remeh rizki yang sudah Allah berikan kepadanya berdasarkan hikmah dan hukum-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Allah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” QS. Al-Baqarah: 216 Dan Allah ta’ala berfirman,

فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” QS. An-Nisa’: 19 (Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajjaaj, XLV/78) Maka berhentilah membandingkan keadaan diri kita dengan orang lain. Karena Allah yang lebih paham apa yang paling pas buat kita. JADILAH PRIBADI YANG PANDAI BERSYUKUR Al-Allamah Abdurrahman as-Si’di rahimahullah berkata,

فهذا يدل على الحث على شكر الله بالاعتراف بنعمه، والتحدث بها، والاستعانة بها على طاعة المنعم، وفعل جميع الأسباب المعينة على الشكر. فإن الشكر لله هو رأس العبادة، وأصل الخير، وأوْجَبُه على العباد

“Hadits ini berisikan anjuran untuk bersyukur pada Allah, menyadari nikmat nikmat-Nya, menceritakannya, dan menggunakannya untuk taat pada Pemberi nikmat. Sekaligus melakukan segala sebab yang dapat membantu untuk bersyukur. Karena bersyukur pada Allah merupakan inti ibadah, pondasi kebaikan, dan amalan paling wajib atas para hamba.” (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 54) HIKAYAT SALAF TENTANG MELIHAT ORANG YANG LEBIH DI BAWAH Aun bin Abdillah rahimahullah bercerita,

صحبت الأغنياء فلم يكن أحد أطول غماً مني، فإن رأيت رجلاً أحسن ثياباً مني وأطيب ريحاً مني غمني ذلك، فصحبت الفقراء فاسترحت

“Aku bergaul dengan orang orang kaya dan saat itu tidak ada manusia yang lebih panjang kesedihannya melebihi diriku. Saat aku melihat salah satu mereka memakai pakaian yang lebih baik dariku dan dia lebih wangi daripada aku maka itu membuatku sedih. Kemudian aku bergaul dengan orang orang miskin hingga aku pun merasakan ketenangan.” (Tahdzib al-Hilyah, II/95 melalui Hayatus Salaf, hlm. 570) Ibnu ‘Allan menyatakan,

قال بعض السلف: صاحبت الأغنياء فكنت لا أزال في حزن أرى دار واسعة ودابة فارهة ولا عندي شيء من ذلك، فصحبت الفقراء فاسترحت

“Sebagian orang terdahulu mengisahkan, ‘Saat saya bergaul dengan orang orang kaya saya selalu sedih. Saya melihat rumah yang luas juga kendaraan mewah yang saya tidak miliki. Ketika saya berteman dengan orang orang fakir hati saya pun bisa istirahat.” (Dalil al-Falihin, II/403)
Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi

Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

يجب على الإنسان أن يبادر بقضاء دينه إذا كان حالاً، إلا أن يسمح له صاحب الدّينِ فلا بأس أن يؤخر، أما إذا كان لم يسمح له ؛ فإنه يجب عليه المبادرة لأدائه ، حتى إنّ العلماء – رحمهم الله – قالوا: إنّ فريضة الحج تسقط على من عليه الدّين

Wajib bagi seseorang untuk segera melunasi utangnya saat telah jatuh tempo. Lain halnya bila sang pemilik memberikan izin untuk ditunda.

Tapi bila dia tidak mengizinkan maka wajib segera dilunasi.

Sampai-sampai sebagian ulama mengatakan, ‘Kewajiban haji gugur atas orang yang punya hutang hingga dia lunasi’.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/24)

Ma’had Ibnu Katsir @ Sangatta [ Kutai Timur ]
Hari Ahadi, (13:43) 16 Sya’ban 1440 / 21 April 2019