Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

ينبغي على الإنسان أن يستعمل المال كما يُستَعْمَلَ الحمار للركوب، وكما يُسَتعمل بيت الخلاء للغائط .

“Sepantasnya bagi seseorang untuk ia menggunakan dunia sebagaimana menggunakan keledai untuk dikendarai. Atau sebagaimana halnya kamar kecil bagi seseorang yang buang hajat.” (Dinukil secara makna oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin, II/37)

Masjid Abu Hurairah @ Kota Raja
Hari Ahadi, (19:53) 06 Ramadhan 1440 / 10 Mei 2019

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan,

يجوز للإنسان أن يقول: لأفعل كذا في المستقبل، وإن لم يقل: إن شاء الله.. إخبارا عما في نفسه، لا جزمًا بأن يفعل

“Seseorang boleh mengatakan, ‘Saya akan melakukan ini nanti‘ tanpa ia mengucapkan insyaallah.. Yaitu sifatnya hanya mengungkapkan keinginan dirinya bukan bermaksud memastikan bahwa ia akan melakukan hal itu.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/49-50)

Sehingga yang mesti beriring insyaallah ialah saat ia sudah memastikan dirinya akan melakukan hal itu. (Idem, II/49)

Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi, (16:09) 06 Ramadhan 1440 / 11 Mei 2019

Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

ويشق على بعض المُبتلين بهذا الدخان أن يدعه، مع أنه لو عود نفسه على تركه شيئا فشيئا، وابتعد عن الذين يشربونه لسَهُل عليه الأمر، وصار يكره شمّ رائحته، لكنّ المسألة تحتاج إلى عزيمة قوية وإيمان صادق.

“Begitu berat bagi sebagian orang yang merokok untuk meninggalkan rokok. Padahal, jika dia membiasakan dirinya untuk meninggalkan rokok secara bertahap sedikit demi sedikit dan menghindari orang-orang yang merokok maka akan mudahlah hal tersebut. Dan ia pun akan membenci bau rokok. Namun hal ini memerlukan tekad kuat serta iman yang jujur.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/54)

Cukup ringkas namun memerlukan kesungguh-sungguhan dalam menerapkannya.

Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi, (16:31) 06 Ramadhan 1440 / 11 Mei 2019

Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

ونحن نشاهد أن الغنى يكون سببا للفساد والعياذ بالله ، تجد الإنسان في حال فقره مُخبتا إلى الله، مُنيبًا إليه، مُنكسر النّفس، ليس عنده طغيان، فإذا أمده الله بالمال ؛ استكبر – والعياذ بالله ـ وأطغاه غناه .

“Betapa kita menyaksikan langsung bahwa kekayaan dapat jadi penyebab seseorang rusak, wal ‘iyaadzu billaah. Ada orang yang kamu lihat saat dia masih susah taat pada Allah, selalu kembali pada-Nya, hatinya halus, dan ia tidak angkuh. Namun ketika Allah beri padanya harta yang lebih –wal ‘iyaadzu billaah– lantas ia jadi sombong dan angkuh karena hartanya.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/41)

Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi, (11:54) 06 Ramadhan 1440 / 11 Mei 2019

P : Sulit bagi kami untuk mendapati orang miskin di tempat kami. Bolehkah jika satu orang miskin diberi fidyah beberapa kali?

J : Boleh. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan “memberi makan orang miskin” tanpa ada ketentuan atau keharusan bahwa yang diberi mesti orang miskin yang berbeda. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

فَيَجُوزُ صَرْفُ أَمْدَادٍ كَثِيرَةٍ عَنْ الشَّخْصِ الْوَاحِدِ وَالشَّهْرِ الْوَاحِدِ إلَى مِسْكِينٍ وَاحِدٍ أَوْ فَقِيرٍ وَاحِدٍ

“Boleh memberikan beberapa jatah fidyah dari orang yang tidak mampu puasa selama sebulan kepada satu orang miskin atau satu orang fakir saja.” (Al-Majmu’, VI/420)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah juga mengatakan terkait masalah ini,

لا أعلم في هذه المسألة أنه يجب تعدد المساكين في الإطعام للقضاء عن الصيام

“Saya tidak mengetahui adanya dalil yang mengharuskan fidyah diberikan pada orang yang berbeda-beda.” (Al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh al-Fauzaan, IV/96)

Arsip Tulisan Lama
Hari Ahadi