Al-Allamah Musa bin Ahmad Al-Hajjawi rahimahullah berkata,

كل ما يؤذي طبعاً يقتل شرعًا

“Semua jenis hewan yang karakternya mengganggu maka dibunuh berdasarkan ketetapan syar’i.” (Syarah Manzhumah Al-Adab, hlm. 343)

— Sungai Mahakam || Kalimantan Timur
— Hari Ahadi, (20:58) 10 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Kita penting tahu hal ini karena ada perbedaan arti antara ‘fitnah’ dalam Bahasa Indonesia dengan ‘fitnah’ yang ada di Bahasa Arab. Simaklah makna fitnah dalam tinjauan syar’i dan Bahasa Arab-nya berikut.

Selengkapnya

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata (Fathul Bari, II/8),

وَمَعْنَى الْفِتْنَةِ فِي الْأَصْلِ الِاخْتِبَارُ وَالِامْتِحَانُ ثُمَّ اسْتُعْمِلَتْ فِي كُلِّ أَمْرٍ يَكْشِفُهُ الِامْتِحَانُ عَنْ سُوءٍ وَتُطْلَقُ عَلَى الْكُفْرِ وَالْغُلُوِّ فِي التَّأْوِيلِالْبَعِيدِ وَعَلَى الْفَضِيحَةِ وَالْبَلِيَّةِ وَالْعَذَابِ وَالْقِتَالِ وَالتَّحَوُّلِ مِنَ الْحَسَنِ إِلَى الْقَبِيحِ وَالْمَيْلِ إِلَى الشَّيْءِ وَالْإِعْجَابِ بِهِ وَتَكُونُ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ كَقَوْلِهِ تَعَالَى وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فتْنَة

“Makna asal fitnah adalah ujian dan cobaan. Lalu setelahnya digunakan pada segala sesuatu yang terungkap kejelekannya melalui adanya ujian.

Kata ‘fitnah’ juga digunakan untuk makna;

– kekufuran dan sikap berlebih-lebihan dalam tafsiran yang jauh,
– suatu keaiban,
– bencana,
– adzab,
– peperangan,
– kondisi berpindahnya keadaan dari baik jadi buruk,
– kecenderungan dan rasa takjub pada sesuatu.

Dan ‘fitnah’ ini ada yang berbentuk kebaikan dan ada pula berupa hal yang jelek. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

 ۖوَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” QS. Al-Anbiya’: 35SELESAI DARI AL-FATH

Dan ini sangat bermanfaat ketika kita mendengar sebuah ceramah agama dari guru-guru kita atau membaca buku agama lalu bertemu dengan kata ‘fitnah’.

Ambil satu contoh, kita biasa mendengar ungkapan bahwa banyak laki-laki terfitnah oleh wanita, maka fitnah di sini bisa dimaknai dengan tergodanya laki-laki dan lantas bisa menjadi rusak keadaannya dikarenakan wanita. Ini bentuk gambaran dari keterangan Al-Hafizh di atas.

Wallahu waliyyut taufiiq.

— Tanjung Laong || Ma. Pahu @ Kutai Barat [ sedikit penyempurnaan di Kota Raja ]
— Hari Ahadi, (10:30) 09 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

 

Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

لو صلى إلى جانبك رجل فيه رائحة كريهة، وعجزت أن تتحمل البقاء، فلك أن تنصرف، وتصلي في جانب آخر بعيد عنه، وبهذه المناسبة أود أن أقول: إن كل إنسان ذي رائحة كريهة تؤذي الناس لا يحل له أن يأتي إلى المسجد فيؤذى الناس

“Jika seseorang yang shalat di sampingmu aroma badannya tidak sedap dan kamu merasa tidak sanggup bertahan di sana maka kamu boleh membatalkan shalatmu lalu shalat di bagian shaf lain yang jauh dari orang itu.

Di kesempatan ini saya juga ingin mengingatkan bahwa semua orang yang bau badannya mengganggu orang lain dia tidak halal untuk datang ke masjid hingga menyebabkan orang lain terganggu.” (Fatawa Nuur ‘alad Darb, kaset. 205)

— Sungai Mahakam || Kalimantan Timur
— Hari Ahadi, (20:51) 10 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan,

وَقد روى بن أبي شيبَة عَن ابن مَسْعُودٍ أَنَّ الْمُرُورَ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي يَقْطَعُ نِصْفَ صَلَاتِهِ

“Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa lewatnya seseorang di hadapan orang yang shalat itu memutus setengah dari shalatnya.” (Fathul Bari, I/584)

— Tanjung Laong || Ma. Pahu @ Kutai Barat
— Hari Ahadi, (10:03) 09 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Barang siapa yang membacaasyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh, rodhitu billaahi robbaa, wa bi muhammadin rosuulaa, wa bil islaami diinaa¹ ketika dia mendengar mu’adzin niscaya akan diampunilah dosa-dosanya.” HR. Muslim (386)

¹ Artinya; saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad ialah hamba dan utusan Allah, saya ridha Allah sebagai Tuhan bagiku, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama.

SETELAH LAFAZH YANG MANA DZIKIR INI DIBACA

  • Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa dzikir di atas dibaca setelah lafazh adzan ‘Asyhadu anna muhammadan rosuulullah..’ [ Syarah Shahih Muslim, II/109 juga di Asy-Syarh Al-Mumti’, II/86 ]
  • Berbeda dengan Syaikh Al-‘Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad Ali Adam Al-Ityubi hafizhahullah berpendapat bahwa dzikir ini dibaca setalah mu’adzin membaca, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaahu..’ [ Al-Bahr Al-Muhith, IX/123 ]

Sehubungan tidak adanya riwayat yang tegas tentang waktu membaca dzikir ini; maka manapun dari dua pendapat ulama di atas yang dia pakai kita berharap dia bisa mendapatkan fadilahnya. Kita mohon keutamaan dari Allah.

— Sungai Mahakam @ ??
— Hari Ahadi, (23:09) 08 Syawal 1440 / 11 Juni 2019

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan,

إِخْبَارُ الْمَرْءِ عَنْ نَفْسِهِ بِمَا فِيهِ مِنْ عَاهَةٍ وَلَا يَكُونُ مِنَ الشَّكْوَى

“Boleh bagi seseorang mengabarkan penyakit yang dideritanya. Dan hal itu bukan termasuk berkeluhkesah.” (Fathul Bari, I/522)

Meski memang bisa dihukumi mengeluh bila dia maksudkan untuk mengeluh. Namun pada asalnya, itu bukan tindakan yang tercela.

— Punang || Ma. Pahu @ Kutai Barat
— Hari Ahadi, (17:28) 08 Syawal 1440 / 12 Juni 2019

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

إن لم يكن الفقهاء أولياء الله في الآخرة، فما لله ولي

“Jika ulama bukan wali Allah di akhirat; maka tentunya Allah tidak memiliki wali lain.” (Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, 138)

— Tepian Mahakam @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (10:05) 23 Jumadil Akhir 1440 / 28 Februari 2019

Al-Allamah Musa bin Ahmad Al-Hajjawi rahimahullah menyatakan,

وينبغي للطالب ألاً يترك الطلب، ولو وصل من العلم في ظنّه إلى أعلى الرتب

“Sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk tidak berhenti belajar. Meski menurut persangkaannya dia telah sampai pada tingkatan ilmu paling tinggi.” (Syarah Manzhumah Al-Adab, hlm. 73)

— Sungai Kedang Pahu @ Ma. Pahu || Kutai Barat
— Hari Ahadi, (16:16) 09 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

EBOOK GRATIS: MUTIARA HIKMAH KEHIDUPAN SALAFUS SHALIH DALAM KEIKHLASAN

MUTIARA HIKMAH KEHIDUPAN SALAFUS SHALIH DALAM KEIKHLASAN

Judul Buku
MUTIARA HIKMAH KEHIDUPAN SALAFUS SHALIH DALAM KEIKHLASAN

Penyusun
Hari Ahadi

Info Buku
26 Halaman

Publikasi
Nasehatetam
Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

 

Silahkan download ebook gratis di halaman tautan berikut;

https://www.nasehatetam.net/wp-content/uploads/2020/06/MUTIARA-HIKMAH-KEHIDUPAN-SALAFUS-SHALIH-DALAM-KEIKHLASAN.pdf

Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan,

إِنْ أَنَا عَمِلْتُ بِمَا أَعْلَمُ فَأَنَا أَعْلَمُ النَّاسِ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمَا أَعْلَمُ فَلَيْسَ فِي الدُّنْيَا أَحَدٌ أَجْهَلَ مِنِّي 

“Jika saya mengamalkan ilmu yang saya tahu maka saya jadi orang paling berilmu. Tapi jika saya tidak menerapkan ilmu yang sudah saya tahu; maka tidak ada di dunia ini yang lebih bodoh daripada saya.” (Al-Jami’ lil Khathib, no. 33)

— Tanjung Laong || Ma. Pahu @ Kutai Barat
— Hari Ahadi, (12:02) 08 Syawal 1440 / 12 Juni 2019