![]() |
| BAGAIMANA DENGAN HADITS ‘SETIAP BAYI YANG LAHIR TERLAHIR DI ATAS FITRAH’ |
Al-Hafizh Ibnu Rajab menjelaskan,
فالإنسان يولد مفطوراً على قبول الحقِّ، فإنْ هداه الله سبَّب له من يعلمه الهدى، فصار مهتدياً بالفعل بعد أنْ كان مهتدياً بالقوَّة، وإنْ خذله الله، قيَّض له من يعلمه ما يُغير فطرته كما قال – صلى الله عليه وسلم -: ((كلُّ مولودٍ يُولد على الفطرة، فأبواه يهوِّدانه ويُنصرانه ويمجسانه))
“Tiap manusia terlahir di atas fitrah untuk menerima kebenaran. Apabila Allah memberinya petunjuk, maka Allah akan memberinya jalan sehingga akan ada orang yang mengajarkannya nilai-nilai petunjuk (kebaikan). Sehingga dia jadi mendapatkan petunjuk secara praktik nyata, yang sebelumnya dia mendapatkan petunjuk dari sisi potensi (kesiapan menerima kebenaran).
Namun jika Allah membiarkannya, maka Dia akan datangkan orang yang akan mengajarkan nilai-nilai yang merusak fitrah tersebut.
Seperti yang disabdakan oleh Nabi ﷺ,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
‘Tidak ada seorang bayi pun yang terlahir, melainkan terlahir di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanya yang merubahnya menjadi Yahudi, atau menjadi Nasrani, atau menjadi Majusi.'” (Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, hlm. 663)
— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Penggalan pembahasan hadits 24 dari kitab Arba’in Nawawi]
