BENARKAH TIDURNYA ORANG YANG PUASA IBADAH

Ada riwayat yang menunjukkan hal ini, berikut redaksinya,

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح

“Tidurnya orang puasa terhitung ibadah dan diamnya dia adalah tasbih.”

Namun riwayat di atas dihukumi lemah oleh para ulama. Sehingga tidak dapat dipakai sebagai dasar beramal.

Penyebabnya
Penyebabnya, di masing-masing jalur riwayatnya tidak kosong dari keberadaan rawi yang lemah dan bahkan tertuduh pendusta. Silakan baca keterangan akan lemahnya hadits ini dalam Takhrij Ahadits Al-Ihya’, I/310 dan Adh-Dha’ifah X/230-231.
TIDURNYA ORANG PUASA TERNILAI IBADAH JIKA NIATNYA TIDUR AGAR SANGGUP MENJALANKAN PUASA
▫️Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,
“Jika seorang yang puasa berniat dengan tidurnya -pada waktu yang tepat- agar kuat puasa maka ini ibadah, ia tidur dengan tujuan agar puasanya sampai; maka yang seperti ini tidurnya terhitung ibadah.
Karena ia memaksudkan dengan tidur tersebut untuk kuat melalui ibadah. Sebab wasilah menuju suatu tujuan memiliki hukum yang sama dengan tujuan itu.
Namun ini berlaku bagi orang yang tidak meninggalkan shalat. Tidak berlaku untuk orang yang tidur di sepanjang waktu siang lalu mengatakan, ‘Saya puasa’.
Orang yang puasa tidak boleh meninggalkan shalat
. Sebab shalat lima waktu lebih utama daripada puasa.” « Simak keterangan beliau di sini, https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=164148 »
Kesimpulannya dari sini bahwa tidur orang yang puasa bukanlah ibadah pada zat tidur itu sendiri. Namun saat dimaksudkan merehatkan badan agar kuat melewati puasa. Lengkapnya ada pada keterangan Al-Allamah Al-Fauzan hafizhahullah di atas.
— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:52) 02 Ramadhan 1440 / 07 Mei 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *