BERAPA LAMA SEBAIKNYA MENJENGUK ORANG SAKIT

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah punya penjelasan bagus tentang hal ini. Berikut pernyataan beliau:

إذا رأيت أن المريض يحب أن تُطيل المقام عنده، فأطل
المقام؛ فأنت على خير وعلى أجر، فأطل المقام عنده، وأدخل عليه السرور، ربما يكون في دخول السّرور على قلبه سببًا لشفائه ؛ لأن سرور المريض وانشراح
صدره من أكبر أسباب الشفاء.

فإذا رأيت أنه يحبّك تبقى فابق عنده، وأطل الجلوس عنده حتى تعرف أنّه قد ملَّ.

أمَّا إذارأيت أن المريض متكلّف ولا يحب انك تبقى، أو يحب أن تذهب عنه حتى يحضر أهله ويأنس بهم فلا تتأخر، اسأل عن حاله ثم انصرف.

“Bila kamu memandang bahwa saudaramu yang sakit itu senang kamu duduk lama bersamanya; maka bertahanlah. Niscaya engkau berada dalam kebaikan dan limpahan pahala.

Perlamalah duduk bersamanya dan buat dia bahagia. Boleh jadi kebahagiaannya menjadi sebab dia sembuh. Karena kebahagiaan dan kelapangan yang dirasakan oleh orang sakit merupakan sebab terbesar dia jadi sembuh.

Maka bila kamu melihat dia masih suka kamu menemaninya maka bertahan dan perlamalah duduk bersamanya; hingga kamu lihat dia telah bosan.

Sedang jika kamu melihat dia merasa berat dan tidak suka kamu bertahan atau nampak dia ingin agar kamu pergi sehingga dia bisa bersama keluarganya dan menenteramkan hati bersama mereka; maka cukup tanyakan kabarnya lalu pamit.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/51)

Jadi sederhananya, lihat kondisi. Miliki kepekaan dari melihat bahasa tubuhnya. Semoga manfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *