HUKUM MENGELAP BEKAS AIR WUDHU

Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani rahimahullah menyatakan,

والقول بأنه منهي عنه في الوضوء والغسل لما فيه من إماطة أثر العبادة مما لا أصل له في الشرع

“Pendapat yang mengatakan bahwa tidak boleh mengelap bekas air wudhu atau mandi junub dikarenakan itu sama dengan menghilangkan bekas ibadah ialah pendapat yang tidak memiliki dalil dalam syari’at.” (At-Ta’liq ‘alal Misykah, I/136)

BUKANKAH ADA HADITSNYA?

• Ada riwayatnya, namun statusnya sangat lemah, berikut redaksinya,

من توضأ فمسح بثوب نظيف فلا بأس به ومن لم يفعل فهو أفضل، لأن الوضوء نور يوم القيامة مع سائر الأعمال

“Barang siapa yang berwudhu lalu dia lap dengan kain yang bersih maka tidak masalah. Namun siapa yang tidak melakukannya maka itu lebih utama. Sebab wudhu ialah cahaya pada hari kiamat bersama dengan amalan lainnya.” -SANGAT LEMAH- hukum Asy-Syaikh Nashir.

• Beliau menyatakan setelah membawakan hadits ini,

وهذا الحديث أصل القول الذي يذكر في بعض الكتب، وشاع عند المتأخرين أن الأفضل للمتوضئ أن لا ينشف وضوءه بالمنديل لأنه نور! وقد عرفت أنه أصل واه جدا فلا يعتمد عليه

“Hadits ini merupakan dasar dari sebuah pendapat yang disebutkan di sebagian buku-buku fikih dan populer di kalangan belakangan yaitu bahwasanya yang afdal bagi orang yang berwudhu untuk dia tidak mengeringkan bekas wudhunya dengan lap, dikarenakan wudhu itu cahaya. Namun telah kamu ketahui bahwa hadits ini sangat lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil.” (Adh-Dha’ifah, IV/178)

Nukilan-nukilan di atas kami ambil melalui Jami’ Turats Al-Allamah Al-Albani fil Fiqh (I/204-205).

Dari sini kita pahami bahwa tidak masalah bagi seseorang untuk ia mengeringkan bekas wudhunya dengan lap, handuk, atau yang semisal. Wallahu waliyyut taufiiq.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:30) 27 Sya’ban 1440 / 03 Mei 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *