|
|
| JANGAN BERTINDAK ZALIM |

JANGAN BERTINDAK ZALIM
وعَنْ أبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِيما يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ قالَ: «يا عِبادِي! إنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلى نَفْسِي، وجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلا تَظّالَمُوا». أخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad ﷺ, beliau meriwayatkan dari Rabb-nya, Allah berfirman,
“Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman bagi Diri-Ku dan Aku jadikan perbuatan zalim haram dilakukan di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi.”
H.R. Muslim [2577].
————————————————————————
? Petikan Pelajaran dari Hadits
1. Perbuatan zalim ialah salah satu akhlak yang terburuk dan termasuk kategori dosa besar. [Syarah Kitab al-Jamiʼ karya Ibnu Baaz, hlm. 125]
Kezaliman ada tiga jenis:
– Zalim terkait hak Allah: yaitu perbuatan syirik.
– Zalim terkait hak sesama: yaitu merampas harta, menyakiti atau menumpahkan darahnya, dan menjatuhkan kehormatannya.
– Zalim kepada diri sendiri: yaitu dengan melakukan maksiat. [Ithaful Kiram, hlm. 172]
2. Segala jenis kezaliman antar sesama manusia hukumnya adalah haram.
Tidak pandang siapa menzalimi siapa, kezaliman tetap kezaliman. “Aku jadikan perbuatan zalim haram dilakukan di antara kalian.”
Suami menzalimi istri; ibu menzalimi anak; guru menzalimi murid; dan seterusnya. Seluruh hukumnya haram. [Syarah Kitab al-Jamiʼ li Abdil Muhsin al-Qasim, hlm. 112]
3. Allah memanggil dengan panggilan kasih sayang kepada kita agar tidak melakukan maksiat, “Wahai hamba-hamba-Ku”. Padahal Allah tidak memerlukan kita sedikit pun. [Syarah Kitab al-Jamiʼ li Abdil Muhsin al-Qasim, hlm. 112]
4. Kezaliman rentan terjadi saat seseorang merasa disakiti atau mungkin juga dizalimi.
Sah-sah saja jika ingin membalas sama. Tetapi dalam keadaan marah, bisa saja tidak terkontrol dan akhirnya terjadi balasan berkali-kali lipat. Apalagi kondisinya mampu berbuat. Harus benar-benar hati-hati.
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata, “Tidak pantas bagi seorang mukmin untuk bersikap zalim, sebaliknya, harus waspada dari kezaliman. Terutama jika memiliki mampu melakukannya, harus berhati-hati dan membiasakan diri untuk memaafkan, lapang dada, berbuat baik, dermawan, dan murah hati.” [Syarah Kitab al-Jamiʼ karya Ibnu Baaz, hlm. 126]
✍ — Hari Ahadi @ Kota Raja
Serial Hadits Kitabul Jamiʼ | Bab: Ancaman dan Peringatan dari Akhlak-akhlak Tercela