LAKUKANLAH KEBAIKAN DAN JAUHI DOSA

Dari An-Nawwas bin Sim’an radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Saya pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang makna kebajikan dan dosa. Beliau ﷺ menjawab, ‘Kebajikan itu ialah akhlak yang baik. Sedangkan dosa ialah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada, dan kamu tidak senang jika perbuatan itu diketahui orang lain.’.” HR. Muslim (2553)

Selengkapnya

SABDA NABI MUHAMMAD ﷺ: ‘Kebajikan itu ialah akhlak yang baik

Di sini ada 3 poin pembahasan,

01. AKHLAK BAIK ADA DUA; KEPADA ALLAH DAN KEPADA SESAMA

Tentang makna berakhlak baik kepada Allah, Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

حُسْنُ الخلق مع الله عز وجل، بأن يَتلقى الإنسان أحكام الله الكونيّة والشرعيّة بانشراح صدر وطمأنينة، فإذا أمر الله بشيء لا يضيق صدرُه به، وإذا نهى عن شيء لا تتعلق نفسُه به، وإذا قضى الله عليه بأمر قدري من مرض أو حادث أو غير ذلك فليكن منشرح الصدر، وليرض بالله عَزَوَجَلَّ رَبّا

“Berakhlak baik kepada Allah terwujud dengan seseorang menerima hukum Allah yang kauni [ seperti musibah, sakit, dan sebagainya ] serta yang syar’i [ perintah dan larangan dalam agama ] dengan hati lapang dan tenang.

Jadi jika Allah memerintahkan sesuatu hatinya tidak sempit. Jika Allah melarang dari sesuatu maka jiwanya tidak tertarik untuk melakukannya.

Ketika Allah menetapkan suatu perkara takdir pada seseorang, apakah berupa penyakit, kecelakaan, atau yang lainnya; hendaklah dia terima dengan hati yang lapang dan ridha kepada Allah sebagai Dzat yang mengatur segala urusannya.” (Asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram, III/644)

Sebatas gambaran, apabila kita masih;
– berat menerima kewajiban shalat 5 waktu,
– masih tertarik dengan riba padahal jelas Allah sudah haramkan,
– marah ketika Allah memberi kita penyakit,
Berarti akhlak kita kepada Allah belum baik. Harus kita ubah.

Lalu bagaimana dengan akhlak baik kepada sesama? Cakupannya pada 4 hal. Dari 4 hal ini bercabang banyak sekali bentuk bentuk akhlak baik.

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin mengatakan,

أما حسن الخلق مع الناس فقد سبق أنه : بذل الندى، وكف الأذى، والصبر على الأذى، وطلاقة الوجه

Sudah lewat tentang makna berakhlak baik kepada manusia, yaitu;
– memberi,
– tidak mengganggu,
– sabar saat diganggu,
– dan berwajah ceria saat bertemu.” (Syarah Arba’in, hlm. 294)

(1) Memberi bisa dengan memberi harta, pinjaman uang, bantuan tenaga, dukungan moril, dan yang semisal ini.
(2) Tidak mengganggu yaitu tidak menjahili, tidak mengoloknya, tidak memukulnya, tidak menakut-nakutinya, dan seterusnya.
(3) Saat dia mengganggu kita entah dengan ucapan atau sikap, kita bersabar dan memaafkan jika dia memang berhak dimaafkan. Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

كانوا يقولون؛ أفضل أخلاق المؤمنين العفو

“Dahulu para salaf mengatakan, ‘Akhlak orang beriman yang paling utama ialah memaafkan’.” (Az-Zuhd oleh Imam Ahmad, hlm. 233)
(4) Saat bertemu, dia menampakkan wajah ceria pada orang-orang. Dan tentunya, bukan kepada lawan jenis yang bukan mahramnya.

Ini semua sebatas penggambaran, sebab akhlak terpuji pada sesama manusia memiliki banyak sekali bentuk.

Al-Allamah Ibnu Baaz berkata,

يدل على فضل حُسن الخلق، وعدم الغلظة، وعدم الاكفهار، وعدم العبس

“Hadits ini menunjukkan keutamaan akhlak yang baik, tidak kasar, dan tidak bermuka masam atau cemberut.” (Transkrip Syarah Riyadhus Shalihin, dari situs beliau)

Semoga kita bisa mengamalkannya.

02. AKHLAK MULIA TERMASUK KEBAIKAN PALING BESAR

Maka orang yang bersemangat dalam melakukan amal shalih jangan sampai melupakan akhlak yang baik. Karena akhlak baik merupakan salah satu pintu amal terbesar.

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata,

أَنّ حُسنَ الخُلُقِ نَوعٌ عَظيمٌ مِن أنواع البرّ، وَلَيْسَ أنّ البرَّ كُلَّهُ محَصُورٌ في حُسنِ الخُلقِ، وَإِنَّمَا حُسنُ الخُلق هُوَ أغظَمُ أنواع البر

“Sabda beliau ﷺ, ‘Kebajikan itu ialah akhlak yang baik‘ maknanya; akhlak baik merupakan satu bentuk kebajikan besar dari berbagai jenis kebajikan yang ada. Bukan maknanya bahwa kebajikan terbatas pada akhlak baik saja. Tapi maknanya akhlak baik ialah jenis kebajikan yang terbesar.” (Al-Minhah ar-Rabbaniyyah, hlm. 218)

Nabi Muhammad ﷺ banyak menyebutkan tentang balasan untuk orang yang punya akhlak baik. Di antaranya, derajat orang yang akhlaknya baik akan menyamai mereka yang rajin shalat malam dan puasa sunnah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ

“Seorang mukmin dengan akhlak baiknya benar-benar mendapatkan derajat orang yang shalat malam dan puasa di siang hari.” –SHAHIH– (Shahih at-Targhib, 2643) HR. Ahmad (24355) ini lafazh beliau dan Abu Dawud (4798)

Allah paling cinta dengan hamba-Nya yang memiliki akhlak mulia. Rasulullah ﷺ bersabda,

أحب عباد الله إلى الله أحسنهم خلقا

“Hamba yang paling Allah cintai adalah yang paling bagus akhlaknya.” –SHAHIH– (Shahih al-Jami’, 179) HR. Ath-Thabrani (Al-Kabir, 471)

Akhlak mulia juga memiliki kelebihan dari sisi beratnya ketika nanti ditimbang di akhirat. Sampai-sampai, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada satu amal pun yang lebih berat ketika ditimbang melebihi akhlak mulia.” –SHAHIH– (Ash-Shahihah, 876) HR. At-Tirmidzi (2003) dan Abu Dawud (4799)

Bahkan, Rasulullah ﷺ menjamin surga tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak terpuji. Beliau ﷺ bersabda,

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِيْ رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا ، وَبَيْتٍ فِي وَسْطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحاً ، وَبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku penjamin suatu rumah di surga yang paling bawah bagi orang yang meninggalkan debat walaupun dia benar.

Aku penjamin suatu rumah di surga bagian tengah bagi orang yang tidak berdusta walaupun bercanda.

Dan aku penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” –HASAN LI GHAIRIHI– (Ash-Shahihah, 273) HR. Abu Dawud (4800)

Masih banyak manfaat lain yang akan hadir dengan akhlak terpuji yang dimiliki seseorang. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata,

فَحُسنُ الخلقِ يَسْتَمِلُ عَلَى خَيْرَاتٍ كثيرة، وَيُكسبُ محَبَةَ النّاس لِصَاحِبِ الخُلقِ الحَسَنِ، وَأَيْضًا إِذَا كَانَ الدّاعية ذا خُلق حَسَنٍ أدّى ذَلِكَ إلى هداية النّاس بِقَبُولِ دَعْوَتِهِ، وَهَذَا هُوَ أَعْلَمُ أنواع البر.

“Akhlak terpuji mengandung banyak kebaikan dan akan membuat manusia suka kepada orang yang memiliki akhlak baik. Ditambah lagi, apabila dia seorang da’i yang mempunyai akhlak baik maka bisa mengantarkan orang dapat hidayah dengan diterimanya dakwah yang dia sampaikan. Dan ini jenis kebajikan paling besar.” (Al-Minhah ar-Rabbaniyyah, hlm. 219)

03. BAGAIMANA CARA MEMBENTUK AKHLAK BAIK PADA DIRI KITA?

Caranya dengan berusaha sungguh-sungguh dan maksimal untuk membiasakannya pada diri kita.

Al-Allamah Ibnu Baaz rahimahullah menerangkan,

فالواجب على المؤمن أن يُجاهد نفسَه حتى يبتعد عن الغلظة والشدة وسُوء الخلق مع إخوانه المسلمين، وحتى يكون طيب الخلق، حسن الخلق، لين الجانب مع إخوانه المسلمين

Wajib bagi orang beriman untuk berjuang melawan dirinya sampai dia bisa jauh dari sikap kasar, keras, dan buruk akhlak kepada saudara saudaranya sesama umat Islam. Hingga dia dapat berakhlak baik, indah, dan lembut pada sesama umat Islam.” (Transkrip Syarah Riyadhus Shalihin, dari situs beliau)

Jadi umpamanya;
(1) hati kita merasa sayang untuk berbagi makanan yang kita miliki, padahal untuk kita dan keluarga sudah tercukupi, maka saat itu paksa diri kita untuk berbagi.
(2) atau suatu waktu diri kita memiliki keinginan untuk berbohong, maka di saat itu paksakan diri kita untuk tetap jujur. Jangan mengikuti keinginan hati untuk berbohong.
(3) contoh lain, ketika kita bertemu dengan seseorang kita sedang malas tersenyum, maka jangan perturutkan rasa malas itu. Tetap tampakkan wajah ceria.
Dan hal ini terus dia biasakan sampai terbiasa dan akhlak baik pun melekat padanya.

SABDA NABI MUHAMMAD ﷺ: ‘Sedangkan dosa ialah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada, dan kamu tidak senang jika perbuatan itu diketahui orang lain

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata,

“Sabda beliau ini hanya berlaku bagi orang yang hatinya bersih dan sehat.” (Syarah Arba’in, hlm. 294)

Lebih jelas, beliau mengatakan di kesempatan yang lain,

ولكن هذا خطاب للمؤمن، أما الفاسق فإن الإثم لا يحيك في صدره، ولا يهمه أن يطلع عليه الناس؛ بل يجاهر به ولا يبالي، لكن المؤمن لكون الله سبحانه وتعالى قد أعطاه نوراً في قلبه، إذا هم بالإثم حاك في صدره، وتردد فيه، وكره أن يطلع عليه الناس، فهذا الميزان إنما هو في حق المؤمنين.

“Sabda nabi ﷺ ini terarah pada orang beriman. Adapun orang fasik, maka dosa tidak akan membuat sempit dadanya. Dan tidak masalah buatnya kalaupun manusia melihatnya melakukan dosa. Bahkan dia terang-terangan berbuat dosa tanpa peduli.

Sedangkan orang beriman, dengan cahaya yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada hatinya, pada saat dia mau melakukan dosa akan jadi sempit dadanya, merasa bimbang, dan dia merasa tidak senang apabila manusia melihatnya melakukan hal itu. Jadi timbangan semacam ini hanya dimiliki oleh orang orang yang beriman.” (Syarah Riyadhus Shalihin, III/565)

DUA JALAN UNTUK MENGETAHUI BAHWA SUATU PERBUATAN ITU DOSA

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Terkait dosa, ulama menetapkannya berdasarkan dua dalil,

[1] dalil dalil syar’i (Al-Qur’an dan hadits). Yang ditunjukkan oleh dalil itu perbuatan haram maka statusnya dosa. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ

“Katakanlah, ‘Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar.” QS. Al-A’raf: 33

Maka semua perbuatan dosa hukumnya haram. Yang seperti ini diketahuinya dari dalil dalil.

[2] Jika tidak nampak dalam dalil yang ada maka kembalilah pada dirimu, ketika kamu tidak menemukan dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan itu haram atau terlarang maka kembali pada dirimu.

Jika kamu merasakan ketenangan untuk melakukannya maka ketahuilah bahwa hal itu baik.

Sedangkan jika perasaanmu ada rasa ingin menghindarinya, tidak mau menerimanya, dan tidak merasa tenang maka ini bukti bahwa perbuatan itu jelek. Karena hati orang yang beriman tidak akan merasa nyaman dengan perkara buruk, hatinya hanya tenang dengan kebaikan…

Dan ketika seseorang merasa malu melakukannya di depan orang orang ini juga bukti bahwa perbuatan itu dosa. Karena jika itu kebaikan maka dia tidak akan malu pada manusia.” (Tashil al-Ilmam, VI/161)

Dan sudah lewat bahwa untuk poin kedua yang diterangkan oleh Asy-Syaikh al-Fauzan ini tertuju pada orang beriman yang berhati bersih. Semoga kita dijauhkan dari berbagai dosa yang besar atau kecil, yang nampak ataupun tersembunyi.

Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
Hari Ahadi [ Kandungan hadits ke 3 dari Kitab al-Jami’ Bulughul Maram ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *