TETAPLAH UCAPKAN SALAM MESKI TAHU BAKAL TIDAK DIJAWAB

“Seseorang pernah bertanya pada Nabi ﷺ tentang, ‘Amalan apa yang paling utama dalam Islam?'” Maka beliau menjawab:

تُطعِمُ الطعامَ، وتَقرَأُ السلامَ، على مَن عرَفتَ، وعلى مَن لم تَعرِفْ

❝ Kamu (1) memberi orang makan dan (2) mengucapkan salam pada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.❞ HR. Al Bukhari (12) dan Muslim (39)

Asy-Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

سلِّم على من عرفت ومن لم تعرف، وعلى من يرد ومن لا يرد، إذا سلّمت ولم يرد نلت الأجر ونال هو الوزر، لكن لا تُسلِّم سلاماً خفياً؛ لأن بعض الناس يُسلّم سلاماً خفياً لا يُسمع، سلِّم سلاماً يسمعه المسلَّم عليه، وإذا قُدّر أنه لايسمع أشر بيدك مع السلام. يظن بعض الناس الجهال أن الرجل إذا كان معروفاً بعدم الرد فلا تُسلّم عليه فتوقعه في الإثم، وهذا خطأ. الحديث « ألقِ السلام على من عرفت ومن لم تعرف » وإذا لم يرد باء بالإثم. أنا فاعل سبب الخير لي وله، وإذا ترك الخير فعليه

“Ucapkanlah salam pada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal. Dan ucapkanlah salam baik pada orang yang membalas salam-mu maupun tidak.

Bila kamu mengucapkan salam namun tidak dijawab olehnya; maka kamu dapat pahala dan dia berdosa. Tapi jangan sampai mengucapkan salam ini dengan suara lirih.

Sebab terkadang ada sebagian orang yang ketika salam suaranya samar hingga tidak terdengar. Ucapkan salam itu dengan suara yang terdengar oleh saudaramu.

Dan seandainya juga bakal tidak terdengar; berikan isyarat dengan tangan di samping ucapan salam.

Sebagian pihak yang tidak berilmu menyangka bahwa orang yang sudah terkenal tidak menjawab salam; maka jangan ucapkan salam kepadanya agar tidak membuatnya jatuh dalam dosa.

Yang seperti ini keliru! Sebab hadits berbunyi:

‘Ucapkan salam pada yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal!’

Bila dia tidak menjawab maka dia berdosa. ‘Saya yang memulai salam, sebagai sebab kebaikan untukku dan dia. Bila dia meninggalkan kebaikan itu; maka dia yang rugi.” (Liqa-at Al Baab Al Maftuh, no. 234)

Pada awalnya, memang terasa malu dan sungkan untuk mengucap salam pada yang belum kita kenal, tapi bila bukan kita yang sudah belajar; lantas siapa lagi yang akan menghidupkan amalan mulia ini.

Insyaallah, dengan berjalannya waktu dan pembiasaan; niscaya tidak akan ada lagi rasa berat untuk menebarkan salam pada siapa pun. Allahumma yassir.

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (06:53) 20 Rabi’ul Akhir 1440 / 27 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *