JIKA DIBATALKAN MAKA TIDAK WAJIB DI-QADHA

2 menit baca
JIKA DIBATALKAN MAKA TIDAK WAJIB DI-QADHA
JIKA DIBATALKAN MAKA TIDAK WAJIB DI-QADHA

Setelah membahas masalah ini dalam delapan halaman,

Asy-Syaikh Muhammad Ali Adam al-Ityubi hafizhahullah menyimpulkan,

يجوز للصائم المتطوّع الفطر مطلقًا، ولا قضاء عليه إلا أن يشاء؛ إذ لم يصحّ دليل على وجوبه، وقد عرفت ضعف الأحاديث التي احتجّ بها الموجبون، وعلى تقدير صحتها، يحمل الأمر فيها بالقضاء على الندب؛ جمعًا بين الأدلة

“Boleh hukumnya bagi orang yang berpuasa sunnah untuk membatalkan puasanya dalam seluruh keadaan [ada udzur maupun tidak], dan tidak ada kewajiban untuk men-qadha kecuali jika dia ingin. Alasan tidak wajib di-qadha karena tidak ada satu pun dalil shahih yang mewajibkan qadha.

Kamu telah mengetahui lemahnya hadits-hadits yang digunakan oleh ulama yang mewajibkan qadha. Anggaplah riwayat-riwayat itu shahih, maka kandungannya dimaknakan sebagai anjuran men-qadha [bukan keharusan], agar dengannya diterapkanlah seluruh dalil yang ada.” (Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajjaj, XXI/400)

Al-Faqih Abul Qasim Abdul Karim ar-Rafi’i rahimahullah berkata,

ولو أفطر فيستحب القضاء؛ ولا يكره الخروج منه بعذر

“Jika seseorang membatalkan puasa sunnahnya maka dianjurkan untuk di-qadha. Dan tidak makruh membatalkannya di saat ada udzur.” (Al-Aziz fi Syarh al-Wajiz, IV/513)

Terdapat atsar yang menguatkan pendapat ini, yaitu dianjurkannya men-qadha puasa sunnah.

Dari Utsman al-Batti rahimahullah,

عَنْ أَنَسِ بْنِ سِيرِينَ، «أَنَّهُ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَعَطِشَ عَطَشًا شَدِيدًا فَأَفْطَرَ، فَسَأَلَ عِدَّةً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَمَرُوهُ أَنْ يَقْضِيَ يَوْمًا مَكَانَهُ»

Dari Anas bin Sirin, “Bahwa beliau (Anas bin Sirin) pernah melakukan puasa Arafah, ketika itu beliau merasakan kehausan yang sangat hingga akhirnya membatalkan puasanya. Kemudian beliau menanyakan tentang peristiwa itu kepada beberapa sahabat Nabi ﷺ, dan mereka memerintahkan untuk men-qadha.'” -ATSAR SHAHIH- Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (Al-Mushannaf, 9093)

Kesimpulannya, sunnah hukumnya men-qadha jika seseorang membatalkan puasa sunnahnya. Kalaupun tidak, maka juga tidak berdosa.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Penggalan pembahasan Puasa Sunnah dari ad-Durus al-Fiqhiyyah]