Ditanyakan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :

P : Apa hukumnya anak kecil puasa?

جـ : صيام الصبي كما أسلفنا ليس بواجب عليه بل هو سنة، له أجره إن صام، وليس عليه إثم إن أفطر، ولكن على ولي أمره أن يأمره به ليعتاده

J : “Puasanya anak kecil sebagaimana telah kami terangkan; hukumnya tidak wajib, namun sebatas sunnah. Sehingga jika dia berpuasa maka dapat pahala. Jika tidak maka tidak berdosa. Tapi orang yang mengurusnya hendaklah memerintah dia agar puasa hingga akhirnya terbiasa.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, XIX/84)

— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi

Asy-Syaikh Nashir Al-Albani rahimahullah menjelaskan,

هذه ليست رجلاً يجب غسلها أو يجب مسحها، لذلك بس الرجل السليمة

“Kaki buatan tidak dihukumi sebagai kaki yang harus dicuci atau diusap. Oleh sebab itu cukup pada kaki yang sesungguhnya saja.” (Jami’ Turats Al-Allamah Al-Albani fil Fiqh, I/206)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:42) 27 Sya’ban 1440 / 03 Mei 2019

P : Pada usia berapakah tepatnya anak mesti dibiasakan untuk puasa?

J : Sebagian ulama menganalogikan puasa dengan ibadah shalat. Yaitu pada usia tujuh tahun sudah mesti diperintah untuk puasa, jika saat berusia sepuluh tahun dia tidak puasa; maka dipukul. (Lihat : Al-Mughni, IV/412-413)

Nampaknya, keterangan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut bisa menjadi acuan kita dalam masalah ini, beliau berkata,

إذا كان صغيراً لم يبلغ فإنه لا يلزمه الصوم ، ولكن إذا كان يستطيعه دون مشقة فإنه يؤمر به ، وكان الصحابة رضي الله عنهم يُصوِّمون أولادهم ، حتى إن الصغير منهم ليبكي فيعطونه اللعب يتلهى بها ، ولكن إذا ثبت أن هذا يضره فإنه يمنع منه

“Anak kecil yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Namun jika dia sudah bisa puasa dengan tanpa kesulitan; maka saat itu dia mulai diperintah. Dan dahulu para sahabat, mereka biasa melatih anak-anaknya untuk berpuasa saat masih kecil.

Bahkan sampai-sampai di antara anak-anak mereka ada yang menangis, lalu diberi mainan (agar pikirannya teralihkan). Tapi jika dilatih puasa itu bakal membahayakan kondisi si anak maka jangan.” (Majmu Fatawa wa Rasa’il, XIX/83)

Artinya, tidak ada batasan usia kapan mulai memerintah mereka puasa. Kapan kira-kira tidak membuat mereka terkena mudharat (bahaya karena tidak kuat berpuasa); maka saat itulah mulai dilatih. Namun mesti diingat, ada perbedaan antara susah menjalankan puasa dengan mudharat :

– Susah menjalankan puasa bagi anak kecil; belum tentu akan membahayakan dirinya. Kondisi susah yang dialami si anak lantaran puasa merupakan hal yang sangat wajar, sehingga jangan sampai hal ini menjadikan orangtua enggan melatih mereka puasa.

– Namun jika memudharatkan; sudah barang tentu mereka kesusahan. Pada kondisi inilah orangtua tidak boleh memaksa mereka untuk puasa.

Pada Allah kita mohon petunjuk.

— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi

P : Adakah hadits shahih yang khusus berisikan ancaman bagi orang yang tidak puasa ramadhan?

J : Ya. Terdapat ancaman yang begitu keras lagi mengerikan bagi mereka yang tidak berpuasa ramadhan dengan tanpa uzur.

Bahkan konteks hadits pun membicarakan tentang mereka yang berpuasa namun berbuka dengan sengaja; lantas bagaimana dengan yang tidak berpuasa dari awal.

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعي فأتيا بي جبلاً وعراً فقالا: اصعد، فقلت: إني لا أطيقه، فقالا: إنا سنسهله لك، فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا بأصوات شديدة، قلت: ما هذه الأصوات؟ قالوا: عُواءُ أهل النار، ثم انطلق بي فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم، مشققة أشداقهم، تسيل أشداقهم دماً، قال: قلت: ما هؤلاء؟ قال: الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

“Ketika aku sedang tidur, ada dua orang laki-laki yang mendatangi dan menarik kedua tanganku. Hingga mereka membawaku ke suatu gunung yang sangat tinggi. Mereka berkata, ‘Naiklah!’ Namun aku mengatakan, ‘Aku tidak mampu’. ‘Kami akan membantumu’, Jawab mereka. Aku pun naik, hingga sampai ke puncaknya.

Tiba-tiba terdengar suara-suara yang begitu keras, aku pun bertanya, ‘Suara-suara apa ini?’ Mereka mengatakan, ‘Jeritan penduduk neraka.’ Aku pun kembali dibawa berjalan hingga tiba-tiba berada di hadapan kumpulan orang yang di gantung dengan kait pada urat di atas tumit mereka, mulut-mulut mereka robek dan keluar darinya darah.”

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu pun bertanya pada Rasulullah, “Siapakah mereka itu?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

“Mereka adalah orang-orang yang membatalkan puasa sebelum waktunya.” HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dinilai shahih oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashir dalam Shahiih At-Targhib (1005)

Ya, sebagaimana konteks riwayat; ini tertuju bagi mereka yang mengawali hari dengan puasa lalu berbuka tanpa uzur sebelum waktunya.

Maka dapatkah kita membayangkan bagaimana jika kondisinya memang tidak berpuasa dan bahkan tidak berniat sedikitpun untuk puasa?!

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah pada kita dan kaum muslimin seluruhnya untuk bisa menjalankan rukun-rukun keislaman secara nyata dalam kehidupan. Aamiin..

— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi

Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani rahimahullah menyatakan,

والقول بأنه منهي عنه في الوضوء والغسل لما فيه من إماطة أثر العبادة مما لا أصل له في الشرع

“Pendapat yang mengatakan bahwa tidak boleh mengelap bekas air wudhu atau mandi junub dikarenakan itu sama dengan menghilangkan bekas ibadah ialah pendapat yang tidak memiliki dalil dalam syari’at.” (At-Ta’liq ‘alal Misykah, I/136)

BUKANKAH ADA HADITSNYA?

• Ada riwayatnya, namun statusnya sangat lemah, berikut redaksinya,

من توضأ فمسح بثوب نظيف فلا بأس به ومن لم يفعل فهو أفضل، لأن الوضوء نور يوم القيامة مع سائر الأعمال

“Barang siapa yang berwudhu lalu dia lap dengan kain yang bersih maka tidak masalah. Namun siapa yang tidak melakukannya maka itu lebih utama. Sebab wudhu ialah cahaya pada hari kiamat bersama dengan amalan lainnya.” -SANGAT LEMAH- hukum Asy-Syaikh Nashir.

• Beliau menyatakan setelah membawakan hadits ini,

وهذا الحديث أصل القول الذي يذكر في بعض الكتب، وشاع عند المتأخرين أن الأفضل للمتوضئ أن لا ينشف وضوءه بالمنديل لأنه نور! وقد عرفت أنه أصل واه جدا فلا يعتمد عليه

“Hadits ini merupakan dasar dari sebuah pendapat yang disebutkan di sebagian buku-buku fikih dan populer di kalangan belakangan yaitu bahwasanya yang afdal bagi orang yang berwudhu untuk dia tidak mengeringkan bekas wudhunya dengan lap, dikarenakan wudhu itu cahaya. Namun telah kamu ketahui bahwa hadits ini sangat lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil.” (Adh-Dha’ifah, IV/178)

Nukilan-nukilan di atas kami ambil melalui Jami’ Turats Al-Allamah Al-Albani fil Fiqh (I/204-205).

Dari sini kita pahami bahwa tidak masalah bagi seseorang untuk ia mengeringkan bekas wudhunya dengan lap, handuk, atau yang semisal. Wallahu waliyyut taufiiq.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:30) 27 Sya’ban 1440 / 03 Mei 2019

P : Dalam hadits disebutkan bahwa pada bulan ramadhan setan-setan dibelenggu. Lantas kenapa rasa malas ibadah dan beragam kemaksiatan masih terjadi?

J : Ya. Setan-setan memang dibelenggu saat ramadhan, inilah kenyataannya dan ini pulalah yang jadi keyakinan setiap mukmin. Lantas bagaimana dengan maksiat yang masih terus terjadi?? Jawabnya, karena sumber kemaksiatan tidak hanya berasal dari setan kalangan Jin.

Bahkan kemaksiatan yang terjadi maupun rasa malas ibadah juga berasal dari diri sendiri dan setan dari kalangan manusia yang mengajak untuk menyeleweng dari jalur ketaatan. Oleh sebab itu Nabi Muhammad ﷺ dalam khutbah hajah-nya yang terkenal beliau berkata,

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا

“Kita berlindung pada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kita.”

Ini menunjukkan secara jelas bahwa ada jenis kejelekan yang berpangkal dari dalam diri (jiwa), oleh karenanya Rasulullah ﷺ memohon perlindungan darinya. Pada ayat-Nya yang mulia Allah ta’ala berfirman menghikayatkan ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku.” (QS. Yusuf : 53)

Adapun hadits,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ ؛ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ،وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila ramadhan tiba; maka seluruh pintu surga dibuka dan seluruh pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu.” HR. Al-Bukhari (1898) dan Muslim (1079)

Maka telah berkata Asy-Syaikh Abdul Aziiz Aalu asy-Syaikh hafizhahullah menjelaskan maknanya,

وفي بعض الروايات تقييد التصفيد والغل بمردة الشياطين ؛ فاختلفت أنظار العلماء في شرحه وبيانه

فمنهم من قال: إن التصفيد خاص بمردة الشياطين دون غيرهم تقليلا للشر في هذا الشهر

وقال بعضهم: إن هذا الفضل إنما يحصل للصائمين الصوم الذي حوفظ على شروطه ، وروعيت آدابه .

وقال آخرون -وهو الأقرب إلى الصواب بإذن الله-
إن تصفيد الشياطين على حقيقته ، ولا يلزم من تصفيد جميع الشياطين أن لا يقع شر ولا معصية ؛ لأن لذلك أسبابا غير الشياطين ، كالنفوس الخبيثة والعادات القبيحة ، والشياطين الإنسية ، فالمقصود أنه وبكل حال فإن هذا الشهر فرصة لمن وفقه الله وفتح على قلبه للإقبال على طاعته ، والبعد عن معاصيه لتوفر أسباب ذلك ودواعيه

“Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa yang dibelenggu ialah setan-setan durhakanya. Para ulama berbeda pandangan dalam menjelaskan makna setan yang dibelenggu.

– Sebagian memandang bahwa : Yang dibelenggu khusus setan-setan yang sangat parah kejahatannya, dalam rangka meminimalkan beragam maksiat pada bulan yang mulia ini (ramadhan).

– Sebagian lain memandang bahwa : Yang mendapatkan keutamaan dari dibelenggunya setan hanyalah khusus bagi orang-orang yang berpuasa dengan menjaga syarat-syaratnya dan menyempurnakan adab-adabnya.

– Dan ada pula yang mengatakan -ini yang paling mendekati kebenaran bi idznillaah- : Setan-setan benar-benar dibelenggu. Namun bukan menjadi keharusan saat seluruh setan dibelenggu maksiat dan beragam kejelekan tidak terjadi sama sekali.

Karena kemaksiatan dengan segala bentuknya memiliki sebab-sebab lain, yang bukan berasal dari setan kalangan jin. Seperti jiwa yang jelek, kebiasaan yang buruk, dan juga ajakan-ajakan setan dari kalangan manusia.

Sehingga maksud dari ini semua, bahwa bulan ramadhan bisa benar-benar menjadi momen bagi orang-orang yang Allah beri taufiq dan bukakan hatinya untuk taat serta menjauh dari maksiat; agar kian sempurna sebab-sebab dan jalan-jalan yang menyampaikan ke arah itu. (Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, Edisi 61 – hlm. 8)

— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan,

وليست سعادة الدنيا بكثرة المال؛ لأنه قد يُطغي

“Bahagia dunia bukan dengan banyak harta. Karena banyak harta terkadang membuat seseorang bertindak melampaui batas.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/41)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (22:56) 21 Sya’ban 1440 / 27 April 2019

Dalam artian, masing-masing membaca sendiri-sendiri. Doanya pendek dan mudah dihafal. Datang dari hadits As-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

ما من إنسانٍ يكونُ في مجلِسٍ ، فيقولُ حينَ يريدُ أن يقومَ : سبحانَكَ اللَّهمَّ وبحمدِكَ ، لا إلهَ إلَّا أنتَ ، أستغفرُكَ وأتوبُ إليكَ ، إلَّا غُفِرَ لهُ ما كانَ في ذلكَ المَجلِسِ

“Tidak seorang pun yang duduk di suatu majelis kemudian dia membaca, ‘Subhanakallahumma wa bihamdika, laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika’¹ saat akan pergi; melainkan bakal diampuni hal-hal yang terjadi di majelis tersebut.” -SHAHIH- (Ash-Shahih Al Musnad, 369) HR. Ahmad (15729), Ath-Thahawi (Syarah Al Ma’ani, 6959)

¹ Artinya: “Maha suci Engkau Ya Allah, dengan pujian yang tercurah pada-Mu. Tiada sesembahan yang haq selain Engkau. Aku beristighfar dan bertaubat pada-Mu.”

Dan layak jadi catatan, bahwa doa ini tidak khusus dibaca pada saat menutup kajian ilmu. Bahkan bersifat umum dalam semua kegiatan kumpul-kumpul.

Ada penjelasan bagus dari Al Allamah Ibnu Baaz rahimahullah berkenaan riwayat di atas,

فالسنة لمن قام من المجلس أن يقول هذا الكلام: سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك اللهم وأتوب إليك، سواء كان مجلس علم أو مجلسًا عاديًا للكلام والخوض في حاجات الناس

السنة لمن قام من المجلس أن يقول هذا الكلام، فهو طابع على الخير، وكفارة لما قد يقع من اللغو في المجلس. وهذا الحديث كسائر الأحاديث المطلقة، يحمل على أنه كفارة لما يقع من الصغائر

“Disunnahkan bagi seseorang yang akan meninggalkan suatu majelis [ perkumpulan ] untuk membaca ‘Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu² allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika’.

Baik itu majelis ilmu atau kumpul-kumpul ngobrol biasa atau membicarakan seputar kemaslahatan orang-orang.

Disunnahkan bagi siapapun yang akan membubarkan diri dari majelis untuk membaca dzikir ini. Ia berfungsi sebagai segel kebaikan sekaligus penghapus dosa terhadap ucapan buruk yang mungkin terjadi saat di majelis.

Hadits ini persis sebagaimana hadits-hadits lain yang bersifat mutlak; yaitu dibawa pada makna penghapus dosa-dosa kecil.” ( https://binbaz.org.sa/fatwas/15808/الحكم-على-حديث-كفارة-المجلس )

² Boleh pakai asyhadu boleh juga tidak. Dua-duanya terdapat dalam riwayat yang shahih. Baca lebih lengkap dalam Dzakhirotul ‘Uqba fi Syarh Al Mujtaba, XV/364-368.

✉ PESAN SAJA

• Mari menghafalkan dzikir ini bagi yang mungkin belum hafal. Percayalah, hanya dengan kurang dari sepuluh menit kita sudah bisa menghafalnya, insyaallah.

• Indah sekali jika bisa selalu kita baca tiap kali menyudahi majelis atau kumpul-kumpul kita. Layak diingat, majelis apapun itu.

Semoga manfaat.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (10:21) 15 Jumadil Awal 1440 / 21 Januari 2019

P : Bulan ramadhan dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai bulan diwajibkannya puasa bagi umat Islam. Apakah ada suatu keistimewaan khusus pada bulan ini?

J : Ya. Banyak hal yang spesial dan istimewa pada bulan ramadhan. Seperti:

a. Diturunkannya Alquran pada bulan ramadhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.” QS. al-Baqarah : 185

b. Bahkan bukan hanya Alquran, kitab-kitab suci para Nabi terdahulu pun diturunkan pada bulan ramadhan. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam riwayat Ahmad (IV/107), Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Fadha’il al-Quran (I/53). Dibawakan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashir dalam Ash-Shahihah (1575) IV/104.

c. Pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.

d. Para jin jahat dan durhaka dibelenggu. Dua hal ini ditunjukkan dalam hadits,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ ؛ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ،وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila ramadhan tiba; maka seluruh pintu surga dibuka dan seluruh pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu.” HR. Al-Bukhari (1898) dan Muslim (1079)

e. Hanya saat ramadhan, ibadah umrah yang dilaksanakan saat itu bernilai sebanding dengan haji. Nabi Muhammad ﷺ menyatakan,

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Jika tiba ramadhan maka laksanakanlah umrah. Karena umrah di bulan ramadhan pahalanya sebanding dengan haji.” HR. Al-Bukhari (1782) dan Muslim (1256)

— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi

Al-Allamah Ibnu Baaz rahimahullah mengatakan,

ليس لتحية المسجد قراءة خاصة، بل هي كسائر الصلوات، يقرأ في كل ركعة بالفاتحة وما تيسر معها، والواجب قراءة الفاتحة فقط لأنها ركن الصلاة

“Tidak ada bacaan surah khusus pada Shalat tahiyatul masjid. Bahkan dia sama seperti shalat lainnya; di masing-masing raka’at membaca Al-Fatihah dan surah lain yang mudah baginya. Kadar wajibnya hanya Al-Fatihah sebab ia rukun shalat.” (Majmu’ Fatawa, XI/295 melalui Al-Ikhtiyaraat hlm. 89)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:19) 21 Sya’ban 1440 / 27 April 2019