Di antara keutamaan orang shalih yang hidupnya pas-pasan;

– Umat Islam mendapatkan pertolongan disebabkan mereka,

– Umat Islam juga mendapatkan rezeki dikarenakan mereka,

– Mereka cenderung lebih khusyuk dalam ibadah dan lebih mendalam saat berdoa,

– Hati mereka tidak terikat dengan dunia.

Baik, berikut ini uraiannya.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

Tidaklah kalian ditolong dan mendapatkan rizki melainkan karena orang-orang miskinnya¹ kalian.” HR. Al-Bukhari (2896)

Tafsir hadits ini kita dapati dalam riwayat lainnya,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا ؛ بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلَاتِهِمْ، وَإِخْلَاصِهِمْ

“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanyalah disebabkan orang-orang miskinnya; karena doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.” HR. An-Nasa’i (3178)

Apa sebabnya? Ibnu Baththal rahimahullah berkata,

تَأْوِيلُ الْحَدِيثِ أَنَّ الضُّعَفَاءَ أَشَدُّ إِخْلَاصًا فِي الدُّعَاءِ وَأَكْثَرُ خُشُوعًا فِي الْعِبَادَةِ لِخَلَاءِ قُلُوبِهِمْ عَنِ التَّعَلُّقِ بِزُخْرُفِ الدُّنْيَا

“Apa yang ada dalam hadits ini disebabkan karena orang-orang miskin lebih tinggi keikhlasannya dalam berdoa dan lebih khusyuk dalam ibadah; itu dikarenakan kosongnya hati mereka dari keterikatan dengan gemerlapnya dunia.” (Dinukil oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath VI/89)

¹ Lafazh 'dha'if' dalam hadits yang berarti 'lemah' memang kami terjemahkan dengan 'miskin'. Sebab memang itulah tafsiran ulama terkait kata tersebut. Silakan merujuk pada (Al-Ifshah, 1/344) dan (Aunul Ma'bud, VII/184).

Semoga kita selalu dijadikan sebagai hamba-hamba yang pandai bersyukur.

— Sungai Mahakam || Kalimantan Timur
— Hari Ahadi, (16:52) 14 Syawal 1440 / 18 Juni 2019

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan,

إذا كان الرجل مُعلناً بفسقه فليس له غيبة

“Jika seseorang terang-terangan dalam melakukan dosa maka tidak terlarang men-gibahnya.” (Syarah Manzhumah Al-Adab, hlm. 103)

— Sungai Kedang Pahu @ Ma. Pahu || Kutai Barat
— Hari Ahadi, (16:34) 09 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Berkata Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,

من كان مستوراً لا يُعْرَف بشيء من المعاصي، فإذا وقعت منه هفوة، أو زلة، فإنّه لا يجورُ كشفها ولا هتكها، ولا التحدّث بها؛ لأنَّ ذَلِكَ غيبةً

“Orang yang tersembunyi keadaannya -tidak dikenal gemar bermaksiat- orang seperti ini jika dia terjatuh dalam suatu kekhilafan atau kesalahan; maka tidak boleh diungkap, disebarkan, dan dibicarakan; karena perbuatan demikian gibah.” (Dinukil melalui Syarah Manzhumah Al-Adab, hlm. 174)

— Sungai Mahakam || Kalimantan Timur
— Hari Ahadi, (18:06) 09 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Sebagian salaf mengatakan,

أدركت أقواماً لم تكن لهم عيوب، فذكروا عيوب النّاس، فذكر الناس لهم عيوباً، وأدركت أقواماً كانت لهم عيوب، فكَفّوا عن عيوب النّاس، فَنُسِيَتْ عُيوبُهُم

“Saya mendapati suatu kaum yang mereka (nampak) tidak memiliki aib namun suka menyebut-nyebut aib orang; hingga akhirnya orang-orang pun mengungkap aibnya.

Dan saya juga menjumpai suatu kaum yang mereka terlihat memiliki aib-aib namun menahan diri dari membicarakan aib orang; hingga aib yang ada pada mereka pun terlupakan.” (Dinukil melalui Syarah Manzhumah Al-Adab, hlm. 176)

— Sungai Mahakam || Kalimantan Timur
— Hari Ahadi, (18:06) 09 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

إذا كان اليهودي أو النصراني خبيراً بالطب، ثقة عند الإنسان، جاز له أن يَسْتَطبه

“Jika seorang beragama yahudi atau nasrani ahli dalam ilmu kedokteran dan terpercaya dalam pandangannya; maka boleh berobat kepadanya.” (Syarah Manzhumah Al-Adab, hlm. 315)

Meski tidak diragukan jika ada dokter yang muslim berobat kepadanya lebih baik.

— Sungai Mahakam || Kalimantan Timur
— Hari Ahadi, (22:27) 10 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

أن النبي ﷺ لم يجعل للأب مثل عمل جميع أمته ، ولا يعلم دليلاً على ذلك، وإنما جعل ما يدعوه الابن له من عمله الذي لا ينقطع

Nabi Muhammad ﷺ tidak menetapkan bahwa ayah akan mendapatkan pahala seperti pahala amalan semua anak turunannya. Dan juga tidak diketahui ada dalil yang menunjukkan hal itu. Nabi Muhammad ﷺ hanyalah menetapkan doa dari anak sebagai amalan orangtua yang tidak terputus.” (Jami’ Al-Masa’il, V/266)

Selanjutnya

Beliau juga berkata,

لم يثبت أن كل عمل يعمله الولد يكون لأمه أو الأبيه مثل أجره، وإنما قال : «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم يُنفَع به، أو ولد صالح يدعو له» …. ونحو ذلك مما فيه أن الوالد يحصل له نفع وثواب بعمل ولده، لكن لا يجب أن يكون مثله، ولو كان لكل والد من عمل أولاده لكان لآدم من أعمال الأنبياء من ذريته، وكذلك نوح وغيره، وليس كذلك، بخلاف الداعي إلى الخير كنبينا ، فإن له مثل أعمال أمته التي دعاهم إليها، فأجر المعلم الداعي للخير مثل أجر المدعو العامِل

“Tidak shahih bahwa semua amalan yang dilakukan oleh anak maka ayah ibunya juga akan mendapatkan seperti pahala (amalan) anaknya. Hanya saja Nabi ﷺ bersabda,

Jika seseorang meninggal maka putuslah semua amalannya kecuali dari tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.’

.. Dan yang semisal riwayat ini yang kandungannya ialah orangtua bisa mendapatkan manfaat dan pahala jika anaknya melakukan amalan tersebut.

Jika tiap orangtua akan mendapatkan pahala dari yang dikerjakan anaknya maka tentu saja Nabi Adam akan mendapatkan pahala para Nabi yang berasal dari turunan beliau, demikian juga Nabi Nuh, dan selain beliau; yang keadaannya padahal tidaklah demikian.

Berbeda keadaannya dengan orang yang mengajak pada kebaikan, seperti nabi kita Muhammad ﷺ. Maka beliau mendapatkan pahala sejumlah amalan-amalan yang dilakukan oleh umat beliau. Sebab bagi orang yang mengajarkan dan mengajak pada kebaikan akan mendapatkan pahala seperti orang yang diajak dan lalu mengamalkannya.” (Jami’ Al-Masa’il, V/273-274)

  • ORANGTUA AKAN DAPAT PAHALA DARI AMALAN ANAKNYA JIKA DIA YANG MENGARAHKANNYA

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan; maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” HR. Muslim (2674)

Semoga Allah membantu kita untuk jadi orangtua yang berhasil dengan baik mendidik anak-anak kita di atas Islam dan sunnah. Aamiin.

Masjid Abu Hurairah @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:56) 20 Syawal 1440 / 24 Juni 2019

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan,

بر الوالدين كفارة الكبائر

“Berbakti pada kedua orangtua dapat menghapuskan dosa-dosa besar.” (Syarah Manzhumah Al-Adab, hlm. 272)

— Sungai Mahakam || Kalimantan Timur
— Hari Ahadi, (20:31) 10 Syawal 1440 / 13 Juni 2019

Saat ikhlas, ganjaran dari sebuah sedekah atau infaq yang kita lakukan teramat besar. Mari mencermatinya dalam hadits berikut ini.

• Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلَا يَصْعَدُ إِلَى اللَّهِ إِلَّا الطَّيِّبُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barang siapa bersedekah dengan sesuatu yang seukuran biji kurma dari penghasilan yang baikdan tidak ada yang naik kepada Allah kecuali amal yang baik– maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pelakunya –sebagaimana salah seorang kalian merawat kuda piaraan kecilnyahingga jadi sebesar gunung.” HR. Al Bukhari (7430)

• Allahu akbar! Berapa harga sebutir kurma? Anggaplah seribu rupiah, dan ini pun sudah mahal, kita sedekahkan seribu rupiah itu di jalan kebaikan; maka Allah akan mengelolakan sedekah kita itu hingga kita tuai hasilnya sebesar gunung di akhirat.

• Hanya dengan seribu rupiah saja wahai saudaraku! Lantas bagaimana bila lebih dari ini?! Sehingga jangan pernah melihat nominal yang akan kita keluarkan. Tapi ingatlah hasil apa yang bakal kita dapatkan. Semoga tergerak untuk masuk dalam ibadah indah ini.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (07:53) 19 Jumadil Awal 1440 / 25 Januari 2019