Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

ومِن كبائرِ الذُّنوبِ أنْ يُصلِّيَ وهو جُنُبٌ مَخافةَ النَّاسِ، بل إنَّ بعضَ العلماءِ يقـولُ: إنَّ الإنسانَ إذا صلَّى مُحْدِثًا وهو عالمٌ بحَدَثِهِ صار كافـرًا والعياذُ بالل‍َّهِ. فعلى هذا الرَّجُلِ أنْ يتوبَ إلى الل‍َّهِ ممَّا صنَعَ.. وعليه أيضًا أنْ يُعيدَ هذه الصَّلـواتِ

“Termasuk dosa besar ialah tatkala seseorang shalat dalam keadaan junub karena takut (komentar) manusia (seperti, ‘Eh, kenapa dia tidak shalat’, pent).

Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa jika seseorang shalat dalam keadaan berhadats dalam kondisi dia tahu maka dia kafir, wal ‘iyaadzu billah.

Sehingga wajib bagi orang yang melakukan hal ini untuk bertaubat dari perbuatan tersebut serta wajib atasnya untuk men-qadha shalat (yang ia kerjakan dalam kondisi berhadats).” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/73)

Dan penting diingatkan, saat seseorang batal pada shalat berjamaah dia boleh melewati shaf orang orang yang shalat dengan dasar hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma (Al-Bukhari, 76 dan Muslim, 504).

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (11:58) 10 Dzulqa’dah 1440 / 13 Juli 2019

Al-Allamah Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ما دام مستقيمًا على دينِ الل‍َّهِ في حالِ حياتِه فلا عليه إنْ شاءَ الل‍َّهُ، فالإنسانُ عِندَ الموتِ له أحوالٌ، وربَّما يكون عاجزًا لا لأجْلِ الجَحْدِ والاستكبارِ، وعلى كلِّ حالٍ هو مسلمٌ ويُرْجى له الخيرُ إنْ شاء الل‍َّهُ

“Selama dia orang yang istiqamah di atas agama Allah semasa hidupnya maka hal itu tidak ada masalah insyaallah. Karena manusia bermacam-macam keadaannya ketika meninggal. Boleh jadi dia tidak mengucapkannya karena fisiknya yang sudah lemah dan bukan disebabkan mengingkari atau sombong. Apapun keadaannya, dia muslim dan kita berharap ia akan mendapatkan kebaikan, insyaallah.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/612)

— Saat menyebarang Menuju Pulau Tarakan @ Speed Boat MBE
— Hari Ahadi, (07:50) 26 Syawal 1440 / 30 Juni 2019

Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

دعاء الولد لأبيه، أو أُمِّه أفضلُ مِن أَنْ يَتَصَدَّق لهم، أو يُصَلِّيَ لهم، أو يصومَ لهم، أو ما أَشْبَهَ ذلك

Doa seorang anak untuk ayah atau ibunya itu lebih utama daripada dia bersedekah atau shalat atau puasa atau amalan lainnya dengan niat untuk mereka.” (At-Ta’liq ‘ala Muqaddimah Al-Majmu’, hlm. 47)

Beliau juga menyatakan,

أَقولُ وأُكَرِّرُ دائِمًا: إنَّ الدعاءَ للميِّتِ أفضَلُ، حتى من الصدقةِ والحجِّ والعُمرةِ

“Saya katakan dan selalu saya ulang-ulang bahwa doa kebaikan untuk orang yang sudah meninggal ialah yang paling utama bahkan melebihi sedekah, haji, dan umrah dengan niat untuknya.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/632)

Di tempat lainnya beliau mengatakan,

والإِحسانُ للمَيتِ بالدُّعاءِ أنفَعُ للمَيِّتِ وأفضَلُ وأَهدى وأرشَدُ؛ لأنَّه الأَمرُ الذي أرشَدَ إليهِ نَبِيُّنا صلَّى الله عليهِ وعَلى آلِهِ وسلَّمَ

“Berbuat baik pada orang meninggal dengan mendoakannya lebih bermanfaat baginya serta lebih sesuai petunjuk dan bimbingan. Sebab hal itulah yang dituntunkan oleh nabi kita Muhammad ﷺ.” (Idem, I/633)

— Tanjung Redeb @ Berau
— Hari Ahadi, (08:01) 24 Syawal 1440 / 28 Juni 2019

Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menyatakan,

لَوْ آثرتَ والدك بالصف الأوَّل في المسجد، يَعْني يكون الإِنسَان في الصف الأوَّل، فدخل والدُه فآثَرَه بذلك، فَهَذَا لَا بأس به، بل قَدْ يَكُونُ خيرًا لما فيه مِن إظهار البر للوالد، وكذلك لَوْ آثرت به مَن له حق عليك، فلا بَأْسَ، أمَّا إذا لم يكن هناك سبب، فقد ذكر العُلَماء أنه يُكره الإيثار؛ لأنه يدُلّ على رغبة الإِنسَان عن الخير

“Jika kamu lebih memprioritaskan ayahmu untuk berada di shaf pertama, misalnya kamu telah berada di shaf satu kemudian ayahmu datang dan kamu berikan shaf pertama itu pada beliau; yang seperti ini tidak masalah.

Bahkan bisa jadi itu lebih baik karena padanya terdapat sikap yang menunjukkan bakti pada ayah.

Sama halnya pula jika kamu memprioritaskan shaf pertama itu pada orang yang memiliki hak lebih atasmu (seperti guru atau ustadz, misalnya, pent); yang seperti ini tidak masalah.

Adapun jika ini dilakukan tanpa ada sebab apapun maka ulama mengatakan bahwa hukumnya makruh. Sebab itu menunjukkan kurangnya antusiasme seseorang pada kebaikan.” (At-Ta’liq ‘ala Muqaddimah Al-Majmu’, hlm. 209)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (07:48) 06 Dzulqa’dah 1440 / 10 Juli 2019

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

كثير من المسلمين ـ إن لم يكن أكثر المسلمين ـ يتلون الكتاب للتبرك والأجر فقط، ولكن الذي يجب أن يكون هو أن نقرأ القرآن لنتدبره ونتعظ بما فيه

“Banyak umat Islam -jika tidak dikatakan mayoritasnya- membaca Al-Qur’an hanya untuk dapat berkah dan pahala saja. Padahal yang wajib bagi kita membaca Al-Qur’an dengan mentadabburi dan mengambil nasihat darinya.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/143)

— Tanjung Redeb @ Berau
— Hari Ahadi, (15:56) 23 Syawal 1440 / 27 Juni 2019

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata,

وإذا كان هذا القلب قاسياً، فإن هذا يؤثر على كل الأعضاء قسوةً وجموداً وكسلاً عن طاعة الله جل وعلا

“Di saat hati keras maka akan berdampak pada anggota badan sehingga juga jadi keras, kaku, dan malas melakukan ketaatan pada Allah.” (Syarah Kitab Al-Kaba’ir, hlm. 99)

Banyak sebab yang membuat hati menjadi keras, di antaranya;

– tidak mau mempelajari isi Al-Qur’an,
– bermalas-malas dalam ibadah,
– sibuk dengan dunia hingga lupa agama,
– tidak mau membantu orang yang kesusahan,
– dan juga kelewat banyak bicara yang tidak terkait dengan dzikir. (Baca : Syarah Kitab Al-Kaba’ir oleh Syaikh Al-Fauzan, hlm. 100-109)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja / Tenggarong
— Hari Ahadi, (18:05) 03 Dzulqa’dah 1440 / 06 Juli 2019

Al-Allamah Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

والعُلَماء قالوا: يَنْبغِي عند العُطاس أَنْ يُغَطِّيَ وجهه؛ لئلا يخرج منه شيْء يؤذي المشاهدين

“Para ulama berkata, ‘Salayaknya bagi orang yang bersin untuk menutup wajahnya agar tidak keluar sesuatu yang bisa mengganggu orang yang di dekatnya.'” (At-Ta’liq ‘ala Muqaddimah Al-Majmu’, hlm. 196)

— Tanjung Redeb @ Berau
— Hari Ahadi, (07:40) 22 Syawal 1440 / 26 Juni 2019

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إذا أخبرك إنسان بخبر طريف، أتى به إليك على أنه طُرفة، وكأنك ما علمتَه، وأنت عالم به قَبْلَه، فأَصْغِ إليه، وكأنك لم تعلم به مِن قبل

لكن بعض النَّاس يفخر، فيقول: أعلمُه، وأدريه، فيخجل هذا المسكين، يَعْني مِثل أن تقـع قصـة غريبة مثلًا، ثم يأتي هـذا الرَّجـل يخبرك بها، أنت عندك عِلـم بهـا

عَلِمتَ بها قَبله، فإذا أتى قلتَ: والله بلغني هذا، أنا أعلمه، لا يَنْبغِي هذا، بل أَصْغِ إليه كأنك لم تَعلم بها، قل: سبحان الله هل كان هذا؟! حتى يَفرح؛ لأن الإِنسَان يفرح أنه يُعْلِمُ غيرَه بشيْء مِن طرائف العِلْم، أو الأدب، أو غيرِها

“Apabila seseorang menceritakan padamu suatu kabar yang ‘wah’, dia datang kepadamu mengisahkannya sebagai sesuatu yang menarik; yang dikira kamu belum tahu padahal sudah tahu.

Dalam kondisi ini simaklah ceritanya dan kesankan kamu belum tahu.

Namun ada sebagian orang yang sok, seraya mengatakan, ‘Saya sudah tahu ini.. Sudah dengar..’

Lantas membuat temannya tersebut malu.

Misalnya, ada sebuah peristiwa aneh yang terjadi. Lalu ada orang yang menceritakannya kepadamu dalam keadaan kamu sudah tahu sebelumnya, saat dia mengisahkan kamu berkata, ‘Demi Allah saya sudah dengar kabar ini! Saya sudah tahu..’

Yang demikian tidak pantas!

Bahkan hendaklah kamu dengarkan ceritanya dengan baik seakan-akan kamu belum tahu, ucapkan padanya, ‘Subhanallaah.. Betulkah itu..?

Agar dia bahagia. Sebab orang akan senang jika dia memberitahukan suatu ilmu, atau adab,atau apapun pada orang lain.” (At-Ta’liq ‘ala Muqaddimah Al-Majmu’, hlm. 198-199)

— Tanjung Redeb @ Berau
— Hari Ahadi, (17:01) 22 Syawal 1440 / 26 Juni 2019

Rasulullah ﷺ mengatakan pada para wanita,

تصدَّقْنَ فإنَّكنَّ أكثَرُ أهلِ النَّارِ .. لأنَّكنَّ تُكثِرْنَ اللَّعنَ وتُسوِّفْنَ الخيرَ وتكفُرْنَ العشيرَ

Perbanyaklah sedekah oleh kalian karena kalian ialah mayoritas yang menghuni neraka… Disebabkan kalian;

banyak melaknat,
menunda-nunda kebaikan,
dan mengingkari kebaikan suami.”

SHAHIH– (Takhrij Shahih Ibnu Hibban) HR. Ibnu Hibban (7478)

Maka jalan selamatnya ialah menghindari ketiga hal ini. Semoga Allah memudahkan semuanya.

 — Jalur Masjid Agung @ Kota Raja / Tenggarong
— Hari Ahadi, (07:11) 04 Dzulqa’dah 1440 / 07 Juli 2019