Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata,

مكسبة فيها بعض الدناءة خير من مسألة الناس

“Pekerjaan yang padanya ada unsur kehinaan masih lebih baik daripada meminta-minta pada manusia.” (Mausu’ah Ibn Abid Dunya, VII/475 melalui Hayatus Salaf, hlm. 300)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (05:50) 28 Shafar 1441 / 27 Oktober 2019

Syuja’ bin Al-Walid berkisah,

كنت أحج مع سفيان الثوري رحمه الله، فما يكاد لسانه يفتر من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ذاهبا وراجعا

“Saya pernah naik haji bersama Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, dan lisan beliau nyaris tidak pernah diam untuk memerintah orang melakukan kebaikan dan melarang dari perbuatan mungkar, demikian terus selama pulang pergi.” (Tahdzib al-Hilyah, II/696 melalui Hayatus Salaf, hlm. 166)

Tidak sanggup dengan kata-kata maka mengajak dengan sikap teladan yang baik, atau dengan memberikan buku saku bacaan yang bermanfaat, atau dengan memberi majalah Islam yang bermutu, seperti asy-Syari’ah, misalnya, atau Qudwah, ataupun yang lainnya dari majalah majalah Ahlus Sunnah. Semoga kita dimudahkan.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (19:08) 28 Shafar 1441 / 26 Oktober 2019

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menyatakan,

الرجل إلى العلم أحوج منه إلى الخبز واللحم

“Kebutuhan seseorang kepada ilmu melebihi kebutuhannya terhadap roti dan daging.” (Tahdzib al-Hilyah, II/404 melalui Hayatus Salaf, hlm. 65)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (18:45) 28 Shafar 1441 / 26 Oktober 2019

Makhul (seorang tabi’in) rahimahullah, beliau pernah mengatakan,

من ذهب إلى علم يتعلمه فهو في طريق الجنة حتى يرجع

“Barang siapa yang pergi untuk belajar ilmu (agama) maka dia berada di jalan surga sampai pulang.” (Tahdzib al-Hilyah, II/181 melalui Hayatus Salaf, hlm. 64)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (18:41) 28 Shafar 1441 / 26 Oktober 2019

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

من مات وعليه دين حوسب به يوم القيامة، فيُؤخذ من حسناته، فيجعل في حسنات غريمه، فإن لم يكن له حسنات أخذ من سيئات صاحب الدين، فيجعل على الغريم

“Barang siapa yang meninggal sedang dia masih mempunyai utang maka dia akan dihisab tentang hal tersebut pada hari kiamat. Akan diambil dari pahalanya lalu dipindahkan kepada orang yang yang memberinya utangan. Bila dia tidak punya kebaikan maka akan diambil dari dosa yang memberikan pinjaman lalu  dipindahkan kepadanya yang berutang.” (Mausu’ah Ibn Abid Dunya, VI/245 melalui Hayatus Salaf, hlm. 315)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (06:17) 28 Shafar 1441 / 27 Oktober 2019

Di sini [ https://t.me/nasehatetam/3293 ] kita sudah menyebutkan 4 bentuk kalimat pujian pada Allah setelah seseorang bersin. Lalu mana yang paling utama dari keempat jenis tersebut?

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah saat beliau membahas masalah ini,

وَالَّذِي يَتَحَرَّرُ مِنَ الْأَدِلَّةِ أَنَّ كُلَّ ذَلِكَ مُجْزِئٌ لَكِنْ مَا كَانَ أَكْثَرَ ثَنَاءً أَفْضَلُ بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ مَأْثُورًا

“Yang nampak dari dalil dalil yang ada bahwa semuanya sah. Akan tetapi jika pujiannya lebih banyak maka lebih afdal dengan ketentuan itu dzikir yang ma’tsur (dari Rasulullah ﷺ).” (Fathul Bari, X/601)

Selengkapnya

Jadi alhamdulillah saja sudah dapat pahala sunnahnya, bila ingin lebih maka dia ambil yang lebih panjang bacaannya.

SUARA ALHAMDULILLAH HARUS KEDENGARAN

Yahya bin Abi Katsir menghikayatkan ucapan sebagian ulama,

حق على الرجل إذا عطس أن يحمد الله وأن يرفع بذلك صوته

“Hendaklah seseorang yang habis bersin dia memuji Allah dengan mengangkat suaranya.” (Syarhus Sunnah, XII/312)

Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin juga menyampaikan hal yang sama,

ولابد أن يكون حمد العاطس مسموعا

“Ucapan alhamdulillah orang yang bersin harus terdengar.” (Syarah Riyadhus Shalihin, IV/442)

Di antara tujuannya ialah agar orang yang mendengar alhamdulillah yang dia ucapkan jadi mendoakannya dengan yarhamukallah.

Semoga berfaedah.

— Madrasah Imam Nawawi @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (10:57) 25 Shafar 1441 / 24 Oktober 2019

Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah,

من سجد ورفع إحدى رجليه حال السجود فإن صلاته تبطل لأنه ركنا من أركانها، ومن ترك ركنا من أركان الصلاة بطلت صلاته

“Barang siapa yang sujud sedang salah satu kakinya terangkat ketika sujud tersebut maka shalatnya batal. Karena dia telah meninggalkan salah satu rukun shalat [ yaitu sujud ]¹. Sedang orang yang meninggalkan salah satu rukun shalat maka batal shalatnya.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram III/40)

¹ Karena sujud yang teranggap sah ialah ketika ketujuh anggota sujud menempel di lantai.

— Tering @ Kutai Barat
— Hari Ahadi, (08:04) 21 Shafar 1441 / 20 Oktober 2019

Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata,

كَانُوا يَأْمُرُونَنَا وَنَحْنُ صِبْيَانٌ إِذَا ضَحِكْنا فِي الصَّلَاةِ أَنْ نُعِيدَ الصَّلَاةَ

“Saat kami masih kecil dulu, mereka (para sahabat nabi dan tabi’in senior) memerintahkan kami untuk mengulangi shalat jika kami tertawa ketika shalat.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3915)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (06:34) 25 Shafar 1441 / 24 Oktober 2019

Setiap kita menyadari betapa nikmat keadaan seseorang sehabis bersin, karena itulah disyariatkan bagi yang habis bersin untuk mengucap kalimat pujian pada Allah.

Berikut ini empat lafazh yang bisa kita gunakan secara berganti-ganti saat habis bersin. Tiga di antaranya diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ, sedangkan satunya ialah dari ucapan sahabat yang kemudian disetujui oleh Nabi Muhammad ﷺ

1 – Alhamdulillah

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

-إذا عَطَسَ أحدُكم فلْيقلْ : الحمدُ للهِ

“Jika salah seorang dari kalian bersin hendaklah dia ucapkan, ‘Alhamdulillah’..” HR. Al-Bukhari (6224)

Selengkapnya

2 – Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahuanhu, Rasulullah ﷺ menyatakan,

إذا عَطَسَ أحدُكم فلْيقلْ : الحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ

“Jika salah seorang dari kalian bersin hendaklah dia ucapkan, ‘Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin’..” -SHAHIH- (Shahih al-Jami’, 686) HR. An-Nasa’i (Al-Kubro, 9981) dan Ath-Thahawi (Musykil Al-Atsar, 4008)

Ketika menyebutkan empat amalan sunnah bagi orang yang bersin [ At-Tanwir, II/142 ], Imam ash-Shan’ani menyebutkan sunnah yang ketiga ialah seorang yang bersin membaca alhamdulillahi robbil ‘aalamiin sehabis bersin.

3 – Alhamdulillah ‘alaa kulli haal (segala puji bagi Allah pada tiap keadaan)

Dari Abu Hurairah dan Ali bin Abi Thalib, Nabi ﷺ bersabda,

إذا عَطَسَ أحدُكم فلْيقلْ : الحمدُ للهِ على كلِّ حالٍ

“Jika salah seorang dari kalian bersin hendaklah dia ucapkan, ‘Alhamdulillah ‘alaa kulli haal..” -SHAHIH- (Shahih al-Jami’, 687) HR. Abu Dawud (5033) dan Ahmad (973)

4 – Alhamdulillahi hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu robbunaa wa yardhoo (segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak serta baik dan penuh keberkahan, sebagaimana yang sebagaimana dicintai dan diridhai oleh Rabb kami)

Dari Rifa’ah bin Rafi’ ia bercerita,

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَعَطَسْتُ، فَقُلْتُ : الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ، فَقَالَ : ” مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ ؟ ” فَلَمْ يُكَلِّمْهُ أَحَدٌ. ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ : ” مَنِ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ ؟ ” فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ : أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ : ” كَيْفَ قُلْتَ ؟ ” قَالَ : قُلْتُ : الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدِ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا “

“Aku pernah shalat di belakang Rasulullah ﷺ lalu aku bersin dan mengucapkan, ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu robbunaa wa yardhoo.

Setelah Rasulullah ﷺ selesai dari shalat, beliau bertanya, ‘Siapa yang berbicara saat shalat tadi?’

Maka tidak ada seorang pun yang menjawab. Lalu beliau ﷺ mengulangi untuk kedua kalinya, ‘Siapa yang berbicara saat shalat tadi?’

Rifa’ah bin Rafi’ bin Afra’ berkata, ‘Aku wahai Rasulullah’.

Kemudian beliau ﷺ bertanya, ‘Bagaimana yang kamu ucapkan tadi?’

Rifa’ah menjawab; ‘Aku mengucapkan, ‘Alhamdulillahi hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu robbunaa wa yardhoo’.

Lantas Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh, lebih dari tiga puluh malaikat berebut untuk membawa naik (bacaan itu)’.” HR. Abu Dawud (773), At-Tirmidzi (404), An-Nasa’i (931)

Di antara ulama yang menegaskan bahwa dzikir di poin keempat ini termasuk dalam dzikir setelah bersin ialah Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab Tuhfatudz Dzakirin (hlm. 263).

Bersambung..

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (06:18) 24 Shafar 1441 / 23 Oktober 2019

Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

أن ما كان سبباً للضرر فإنه منهي عنه؛ ومن أجل هذه القاعدة عرفنا أن الدخان حرام؛ لأنه يضر باتفاق الأطباء، كما أن فيه ضياعاً للمال أيضاً؛ وقد نهى صلى الله عليه وسلم عن إضاعة المال

“Semua perkara yang jadi penyebab munculnya bahaya maka hukumnya terlarang. Dari kaedah ini kita bisa mengetahui bahwa merokok hukumnya haram. Karena merokok itu membahayakan berdasarkan kesepakatan semua dokter. Dan juga termasuk perbuatan menyia-nyiakan harta, sedangkan Nabi Muhammad ﷺ telah melarang dari menyia-nyiakan harta.” (Tafsir Surah Al-Baqarah, II/390)

— Mushalla Al-Ihsan [ Barong Tongkok ] @ Kutai Barat
— Hari Ahadi, (12:55) 20 Shafar 1441 / 19 Oktober 2019