• Dari Naufal Al-Asyja’i radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah berpesan kepadanya,

” اقْرَأْ ( قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ )، ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا ؛ فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ “

“Bacalah surah ’qul ya ayyuhal kaafiruun’ kemudian tidurlah kamu saat selesai membacanya. Karena surah itu bentuk berlepas diri dari kesyirikan.”SHAHIH– (Shahih Abu Dawud) HR. Abu Dawud (5055)

  • Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah mengatakan,

وهذا يدل على مشروعية قراءة هذه السورة عند المنام

“Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya membaca surah Al-Kafirun sebelum tidur.” (Transkrip Syarah Sunan Abu Dawud dalam Asy-Syamilah)

— Sungai Mahakam @ ??
— Hari Ahadi, (22:30) 08 Syawal 1440 / 11 Juni 2019

Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan,

أما أن يقول إنه تائب من الذنب وهو مصر عليه، فإنه كاذب مستهزئ بالله

“Jika seseorang mengatakan bahwa ia sudah bertaubat dari suatu dosa tapi masih terus tetap melakukannya maka dia berarti telah berbohong dan memperolok Allah ‘azza wa jalla.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/131)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (21:56) 04 Syawal 1440 / 07 Juni 2019

Al-Allamah Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

فإن تاب وأقلع عن الذنب، لكن في قلبه أنه إذا حانت الفرصة عاد إلى ذنبه، فإن ذلك لا يقبل منه، فهذه توبة لاعب

“Bila seseorang bertaubat dan berhenti dari suatu dosa tapi tersimpan di hatinya jika ada kesempatan maka kembali melakukannya maka yang seperti ini tidak diterima taubatnya. Karena ini taubat orang yang main-main.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/132)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:52) 05 Syawal 1440 / 08 Juni 2019

Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

واعلم أنك إذا تبت إلى الله توبة نصوحاً؛ فإن الله يتوب عليك، وربما يرفعك إلى منزلة أعلى من منزلتك

“Ketahuilah, jika kamu bertaubat sungguh-sungguh pada Allah niscaya Allah akan menerima taubatmu. Bahkan bisa jadi Dia mengangkat derajatmu jadi lebih tinggi dari sebelumnya.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/134)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:56) 05 Syawal 1440 / 08 Juni 2019

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat berfikir atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” QS. Al-Hajj : 46

Selengkapnya

  • Berkata Al-Qurthubi rahimahullah ketika sampai pada ayat ini,

أضاف العقل إلى القلب؛ لأنه محله، كما أن السمع محله الأذن

“Allah (dalam ayat di atas) menyandarkan akal pada hati karena tempatnya akal ialah di hati. Sebagaimana pendengaran letaknya di telinga.” (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, XII/77)

  • Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah menerangkan,

وهذه الآية تقتضي أن العقل في القلب وذلك هو الحق، ولا ينكر أن للدماغ اتصالا بالقلب يوجب فساد العقل متی اختل الدماغ

“Konsekuensi dari ayat ini bahwa akal berada di dalam hati. Dan inilah pendapat yang benar. Meski tidak diingkari bahwa otak memang memiliki keterkaitan dengan hati yang dapat membuat akal rusak manakala otak rusak.” (Al-Muharrar Al-Wajiz, IV/127)

Dan hal ini ialah pendapat mayoritas ulama. Pembahasan ini agar kita menyadari, bersih atau tidaknya hati kita menentukan seberapa baik dan lurus cara berpikir kita. Karena letak akal itu di hati.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:18) 06 Syawal 1440 / 09 Juni 2019

Diajukan sebuah pertanyaan pada Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,

السؤال: فَضِيلَةُ الشيخ، هل الفتور في عَمَلِ الصالحات بَعدَ رمضانَ دَليلٌ عَلَى عَدم الْقَبُولِ، فأنا أحس بفتور وأخشى ألا يَكُونَ اللَّهُ قَدْ تَقَبّلَ مِنّي؟

Wahai Syaikh yang Mulia, apakah melemahnya semangat ibadah setelah usainya bulan ramadhan merupakan pertanda bahwa amal kita tidak diterima? Saya merasakan melemahnya kesemangatan dan saya khawatir kalau-kalau Allah tidak menerima ibadah saya.

Selanjutnya

Maka beliau rahimahullah menjawab,

الجواب: لا، ليس دليلا على أنّ الله لم يقبل مِنك، لكنه دليل على ضعف الهمّة وعدم الرغبة، ولذلك ينبغي للإنسان أنْ يُصَبِّرَ نَفْسَهُ، وَأَنْ يَحمِلَها عَلَى الْعَمَلِ الصالح؛ لأن رمضانَ مدرسة في الواقع، ثلاثونَ يَوْمًا أَوْ تِسْعَة وَعِشرُونَ يَوْمَا تمضي وأنتَ متلبس بالعبادات المتنوعة، فَلا بُدّ أن يُؤَثِّرَ على قلبك وعلى مَسِيرك، فاغتَنِم هذه الفرصة أمّا أنْ نقول: إنّ مَنْ عَادَ إلَى الْمعَاصِي بَعَد رمضان؛ فإنه علامة على عَدم القبول. فلا نستطيع أنْ نَقُولَ هكذا

“Tidak. Melemahnya semangatmu dalam ibadah setelah ramadhan bukanlah tanda bahwa Allah tidak menerima amalanmu. Namun itu menunjukkan akan lemahnya semangat dan tidak adanya keinginan.

Oleh sebab itu, wajib bagi seseorang untuk menyabarkan dirinya dan membawa jiwanya untuk terus melakukan amal shalih. Sebab bulan ramadhan layaknya sekolah dalam kehidupan nyata.

Tiga puluh atau dua puluh sembilan hari kamu lalui dengan beragam macam bentuk ibadah. Maka dia mesti memberikan pengaruh baik pada hatimu dan jalan hidupmu. Maka gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik mungkin.

Adapun untuk kita mengatakan, ‘Orang yang kembali bermaksiat setelah ramadhan itu adalah tanda ibadahnya tidak diterima’ maka kami tidak sanggup mengatakan demikian.” (Al-Liqa-at Asy-Syahriyah, III/93)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (21:40) 02 Syawal 1440 / 05 Juni 2019

EBOOK GRATIS: CATATAN FIKIH PUASA SUNNAH

CATATAN FIKIH PUASA SUNNAH

Judul Buku
Catatan Fikih Puasa Sunnah (Ragam Ibadah Puasa Sunnah dalam Setahun)

Penyusun
Hari Ahadi

Muraja’ah
Al-Ustadz Abu Utbah Ibrahim

Info Buku
132 Halaman

Publikasi
Nasehatetam
Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

 

Silahkan download ebook gratis di halaman tautan berikut;

https://www.nasehatetam.net/wp-content/uploads/2020/05/CATATAN-FIKIH-PUASA-SUNNAH-1.pdf

Ketika bulan suci ramadhan mencapai ujungnya; Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk membesarkan dan mengagungkan-Nya (bertakbir), pengagungan tulus dari hati dan teralirkan di lisan.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (bulan ramadhan); dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 185)

  • KAPAN TAKBIR IDUL FITHRI DIMULAI

Dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Sebagian menyatakan bahwa :

  • Takbir dimulai saat malam hari raya. Inilah yang jadi pendapat Syafi’iyah, dan sebelum mereka ada Sa’id bin Musayyib, Abu Salamah, dan ‘Urwah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Al Fatawa, XXIV/221) dan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahumallah juga memilih pendapat ini (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, XVI/271)

Sedang pendapat lain mengatakan :

  • Takbir dimulai saat berangkat menuju shalat ‘id.

Selanjutnya

Al ‘Allamah Ibnu Rusyd (dalam Bidayah Al Mujtahid, I/500) dan Al Hafizh An Nawawi rahimahumallah, menyandarkan pendapat kedua -takbir dimulai saat berangkat shalat ‘id- kepada mayoritas ulama.** Disebutkan dalam Al-Majmu’ (V/48) oleh Imam Nawawi rahimahullah,

وقال جمهور العلماء: لا يكبر ليلة العيد إنما يكبر عند الغدو إلى صلاة العيد , حكاه ابن المنذر عن أكثر العلماء قال : وبه أقول , قال : وبه قال علي بن أبي طالب وابن عمر وأبو أمامة وآخرون من الصحابة , وعبد الرحمن بن أبي ليلى وسعيد بن جبير والنخعي وأبو الزناد وعمر بن عبد العزيز وأبان بن عثمان وأبو بكر بن محمد والحكم وحماد ومالك وأحمد وإسحاق وأبو ثور , وحكاه الأوزاعي عن الناس

Mayoritas ulama mengatakan, ‘Malam hari raya tidak ada takbiran. Baru mulai takbir di saat berangkat menuju shalat ‘id.’ Ibnul Mundzir telah menghikayatkan pendapat ini dari kebanyakan ulama, lalu beliau berkata, ‘Pendapat ini yang saya pilih.’

Lebih lanjut, Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan, ‘Pendapat ini dipilih oleh Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Umamah, dan sejumlah sahabat nabi yang lain. Juga menjadi pendapat Abdurrahman bin Abi Laila, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakha’i, Abuz Zinad, Umar bin Abdil ‘Aziiz, Abaan bin ‘Utsman … Malik bin Anas, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur…” (Selesai dari Al-Majmu’)

Bila kita melihat kepada yang diamalkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat beliau, nampaknya –wallahu a’lam-, pendapat mayoritas ulama ialah pendapat yang benar. Berikut sejumlah dalil yang menunjukkan hal itu :

  • Riwayat dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah,

كان صلى الله عليه وسلم يخرج يوم الفطر فيكبر حتى يأتي المصلى، وحتى يقضي الصلاة، فإذا قضى الصلاة ؛ قطع التكبير

“Adalah Rasulullah ﷺ bila berangkat menuju shalat ‘idul fithri; beliau bertakbir hingga datang ke lapangan shalat. Dan terus bertakbir hingga shalat; ketika shalat ‘id selesai baru beliau menghentikan takbir.” (baca takhrij riwayat ini dalam Ash-Shahiihah no. 171)

  • Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج فى العيدين مع الفضل بن عباس وعبد الله والعباس وعلي وجعفر والحسن والحسين وأسامة بن زيد , وزيد بن حارثة وأيمن بن أم أيمن رضى الله عنهم رافعا صوته بالتهليل والتكبير

“Rasulullah ﷺ pernah pergi shalat ‘id bersama dengan Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al Abbas, Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummu Ayman -radhiyallahu ‘anhum-. Sembari beliau mengeraskan suaranya dalam bertahlil dan bertakbir.” HR. Al-Baihaqi, III/279 (baca : Al Irwa’, III/123)

Terlihat dalam dua riwayat di atas, bahwa takbirnya Rasulullah ﷺ ialah saat berangkat ke lapangan. Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah, juga condong pada pendapat ini (lihat : Qom’ul Mu’anid, II/366-367).

Sedikit mirip dengan ini, ialah pendapat Syaikh Al Albani rahimahullah yang menyatakan bahwa takbir idul fithri dimulai dari ba’da shalat shubh. (Jaami’ At-Turats fi Al Fiqh, VI/266). Yang itu merupakan waktu awal berangkat menuju lapangan shalat ‘id.

  • KESIMPULAN & CATATAN :
  • Yang lebih nampak, bahwa takbir dimulai di saat berangkat menuju lapangan sampai dikerjakannya shalat ‘id. Meski demikian, tidak diingkari pihak yang mengambil pendapat pertama.
  • Sengaja kami membawakan perselisihan ulama di sini agar diketahui, bahwa bukan satu pendapat saja yang ada dalam masalah ini.
  • Sejumlah dalil yang dikemukakan oleh pendapat pertama sengaja tidak kami sebutkan dalam rangka menyederhanakan pembahasan.

— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi

EBOOK GRATIS: CATATAN PENGINGAT ZAKAT FITRAH

CATATAN PENGINGAT ZAKAT FITRAH

Judul Buku
Catatan Pengingat Zakat Fitrah

Penyusun
Hari Ahadi

Info Buku
52 Halaman

Publikasi
Nasehatetam
Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.


Silahkan download ebook gratis di halaman tautan berikut;
https://www.nasehatetam.net/wp-content/uploads/2020/05/CATATAN-PENGINGAT-ZAKAT-FITRAH.pdf

[FIKIH SHALAT WITIR Bagian – 4]

Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata,

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Rasulullah ﷺ mengajari saya kalimat-kalimat untuk saya baca pada qunut witir,

“Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang Engkau beri hidayah; berilah aku keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan dunia akhirat; perhatikan dan jagalah urusan-urusanku bersama orang-orang yang Engkau perhatikan dan jaga urusannya; berkahilah aku pada apa saja yang yang Engkau berikan; jagalah aku dari kejelekan apa saja yang Engkau tetapkan; sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi wali-Mu (dalam penjagaan dan pertolongan-Mu) dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi; Mahaberkah Engkau, wahai Rabb kami, lagi Mahatinggi.” –SHAHIH– (Ghayah al-Muna, XVIII/118) HR. Abu Dawud (1425), at-Tirmidzi (464), an-Nasa’i (1745), Ibnu Majah (1178), Ahmad (1718)

Selanjutnya

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Hadits ini menunjukkan disyariatkannya qunut pada shalat witir. Berdasarkan pernyataan Al-Hasan, ‘kalimat-kalimat untuk saya baca pada qunut witir’. Akan tetapi apakah ada riwayat bahwa nabi melakukan qunut pada shalat witir? Jawabnya, tidak ada. Namun ketika beliau mengajarkan kepada Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu maka ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa memang disyariatkan qunut witir. Bersama dengan itu, saya berpendapat untuk tidak dilakukan secara terus-menerus sampai kita mendapatkan hadits dengan ucapan dan juga secara perbuatan.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, III/322)

Dan sebagian ulama memandang, bahwa qunut witir di malam ke 16 sampai akhir Ramadhan semakin ditekankan karena itu dilakukan berdasarkan perintah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Juraij mengatakan,

قُلْتُ لِعَطَاءٍ: الْقُنُوتُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ قَنَتَ. قُلْتُ: النِّصْفُ الْآخِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Saya bertanya kepada Atha’, ‘Apakah qunut dilakukan pada bulan Ramadhan?’

Beliau menjawab, ‘Yang pertama kali melakukannya adalah Umar radhiallahu ‘anhu.’

Ibnu Juraij berkata, ‘Di pertengahan terakhir Ramadhan?’

Atha’ menjawab, ‘Ya.'” –HASAN LI GHAIRIHI– Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah

  • QUNUT SEBELUM RUKUK ATAU SETELAH

Kedua-duanya boleh, karena keduanya memiliki dasar dalil. Tentang qunut sebelum rukuk,

• berkata Alqamah rahimahullah

أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ، وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْوَتْرِ قَبْلَ الرُّكُوعِ

“Sesungguhnya Ibnu Mas’ud dan para sahabat nabi mereka melakukan qunut witir sebelum rukuk.” -SANADNYA HASAN– Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (6911)

Dan tentang qunut setelah rukuk,

• Al-Hasan rahimahullah berkata, 

أَنَّ أُبَيًّا أَمَّ النَّاسَ فِي خِلَافَةِ عُمَرَ فَصَلَّى بِهِمِ النِّصْفَ مِنْ رَمَضَانَ، لَا يَقْنُتُ فَلَمَّا مَضَى النِّصْفُ، قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ

“Ubay menjadi imam shalat tarawih di masa pemerintahan Umar, beliau menjadi imam sampai di pertengahan Ramadhan yang pertama dan beliau tidak qunut. Ketika sudah lewat pertengahan Ramadhan beliau melakukan qunut setelah rukuk.” –HASAN LI GHAIRIHI– Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (6935)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menerangkan,

أَمَّا الْقُنُوتُ: فَالنَّاسُ فِيهِ طَرَفَانِ وَوَسَطٌ: مِنْهُمْ مَنْ لَا يَرَى الْقُنُوتَ إلَّا قَبْلَ الرُّكُوعِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَرَاهُ إلَّا بَعْدَهُ. وَأَمَّا فُقَهَاءُ أَهْلِ الْحَدِيثِ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ فَيُجَوِّزُونَ كِلَا الْأَمْرَيْنِ لِمَجِيءِ السُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ بِهِمَا. وَإِنْ اخْتَارُوا الْقُنُوتَ بَعْدَهُ؛ لِأَنَّهُ أَكْثَرُ وَأَقْيَسُ

“Dalam hal qunut (witir) ini manusia ada dua pendapat yang berseberangan dan ada satu yang pertengahan;
– ada yang berpendapat qunut hanya dilakukan sebelum rukuk,
– ada juga yang berpendapat qunut hanya dilakukan setelah rukuk,
– Sedangkan para pakar fiqih ahli hadits seperti Ahmad dan yang lainnya mereka membolehkan kedua cara yang ada (sebelum ataupun sesudah rukuk). Karena keduanya ditunjukkan dalam hadits yang shahih. Meskipun mereka memilih (yang afdal) qunut setelah rukuk karena haditsnya lebih banyak dan lebih sesuai.” (Majmu’ al-Fatawa, XXIII/100)

Jika kita memilih yang afdal ialah setelah rukuk maka hendaklah tetap dilakukan juga yang sebelum rukuk dengan lebih jarang, dalam rangka terus menjalankan semua sunnah yang ada. Demikian pula bila kita memilih pendapat sebaliknya.

  • MENGANGKAT TANGAN SEWAKTU QUNUT

Al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

من السنة أن يرفع الإنسان يديه عند دعاء القنوت؛ لأن ذلك وارد عن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في قنوته حين كان يقنت في الفرائض عند النوازل ، وكذلك صح عن أمير المؤمنين عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – رفع اليدين في قنوت الوتر ، وهو أحد الخلفاء الراشدين الذين أمرنا باتباعهم

“Termasuk sunnah jika seseorang mengangkat kedua tangannya pada saat doa qunut, sebab hal ini telah ada di hadits Rasulullah ﷺ pada saat beliau qunut nazilah di shalat wajib. Demikian juga shahih dari Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau mengangkat kedua tangannya di qunut witir, dan beliau ialah salah satu dari Khulafa’ur Rasyidin yang kita diperintahkan untuk mengikuti mereka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, XIV/136)

  • APAKAH MENGUSAP WAJAH SETELAHNYA

Imam Abu Bakr al-Baihaqi rahimahullah menerangkan,

فأَمّا مَسحُ اليَدَينِ بالوَجهِ عندَ الفَراغِ من الدُّعاءَ فلَستُ أحفَظُه عن أحَدٍ مِنَ السَّلَفِ فى دُعاءِ القُنوتِ، وإِن كان يُروَى عن بَعضِهِم فى الدُّعاءِ خارجَ الصَّلاةِ، وقَد رُوِى فيه عن النبىِّ -صلى اللَّه عليه وسلم- حَديثٌ فيه ضَعفٌ، وهو مُستَعمَلٌ عندَ بَعضهِم خارجَ الصَّلاةِ، وأما فى الصَّلاةِ فهوَ عَمَلٌ لم يَثبُتْ بخَبَرٍ صَحيحٍ ولا أثَرٍ ثابِتٍ ولا قياسٍ، فالأولَى ألَّا يَفعَلَه، ويَقتَصرَ على ما فعَلَه السَّلَفُ -رضي اللَّه عنهم- مِن رَفعِ اليَدَينِ دونَ مَسحِهِما بالوَجهِ فى الصَّلاةِ، وبِاللَّهِ التَّوفيقُ

“Terkait masalah mengusap wajah dengan tangan ketika selesai berdoa maka saya tidak mengetahui satupun dari kalangan salaf melakukannya di doa qunut. Benar ada riwayat dari sebagian mereka mengusap wajah sehabis berdoa di luar shalat, dan telah ada juga riwayat dari nabi hadits tentang ini namun memiliki kelemahan.

Tapi menurut sebagian ulama itu dilakukan di luar shalat. Sedangkan di dalam shalat maka ini amalan yang tidak ada dasar dari hadits dan atsar yang shahih maupun kias. Sebaiknya tidak dilakukan dan mencukupkan dengan yang dilakukan oleh salaf, yaitu mengangkat tangan namun tanpa mengusapkan tangan ke wajah ketika di dalam shalat.” (As-Sunan al-Kubro, IV/157)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [ Penggalan pembahasan Risalah Fushul fish Shiyam ]