Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Lindungilah diri kalian dari siksa neraka meski hanya dengan sedekah setengah butir kurma.” HR. Al-Bukhari (1417) dan Muslim (1016)

▫️ Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,

وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى الصَّدَقَةِ وَأَنَّهُ لَا يَمْتَنِعُ مِنْهَا لِقِلَّتِهَا وَأَنَّ قَلِيلَهَا سَبَبٌ لِلنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ

“Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bersedekah dan jangan seseorang menahan diri untuk bersedekah karena jumlahnya yang sedikit. Yang di mana jumlah yang sedikit pun bisa menyelamatkan seseorang dari neraka.” (Al-Minhaj, VII/101)

▫️ Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

وَأَنَّ الْيَسِيرَ مِنَ الصَّدَقَةِ يَسْتُرُ الْمُتَصَدِّقَ مِنَ النَّارِ

“Sedekah yang sedikit sekalipun bisa melindungi seseorang dari azab neraka.” (Fathul Bari, III/284)

▫️ Berkata Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah,

وفيه دليل على أن الصدقة ولو قلت تنجي من النار.. فالحمد لله أن شق التمرة تنجي من النار

“Dalam hadits di atas terdapat dalil bahwa sedekah kendati nilainya kecil bisa menyelamatkan dari neraka.. Maka alhamdulillah, dengan setengah butir kurma saja pun sudah bisa menyelamatkan dari siksaan nereka.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/203)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (23:12) 08 Dzulhijjah 1440 / 08 Agustus 2019

Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

إذا كان الإنسانُ يُصلِّي فريضةً فإنَّه لا يُجيبُ أُمَّه ولا غيرَها؛ لأنَّ مَن دخل في فريضةٍ حرُمَ عليه قطْعُها، اللَّهمَّ إلَّا عِندَ الضَّرورةِ

“Jika seseorang sedang mengerjakan shalat wajib maka dia tidak boleh memenuhi panggilan ibunya ataupun panggilan selain ibunya. Karena orang yang telah memasuki shalat wajib haram membatalkannya kecuali dalam keadaan darurat.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/231)

— Mushalla Fastabiqul Khairat @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (16:11) 06 Dzulhijjah 1440 / 07 Agustus 2019

Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

إذا أصابه التثاؤبُ فالأفضلُ أن يُمسِكَ ما استطاعَ، ويكظِمَ التَّثاؤُبَ، فإنْ عجَز فلْيضعْ يدَه على فمِه؛ اليدَ اليمنى أو اليدَ اليسرى، ويَضَع باطنَ اليُسرَى أو باطنَ اليُمنَى، فالأمرُ واسعٌ.

“Jika seseorang menguap yang paling afdalnya ialah dia tahan semaksimal kemampuannya. Tapi bila dia tidak kuat maka hendaknya dia letakkan tangannya di mulut –baik tangan kanan atau tangan kiri, telapak tangan yang kanan atau yang kiri– perkaranya luas.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/223)

Artinya bebas saja. Yang penting usahakan mulut tertutup saat menguap.

Baca lebih lengkap tentang bahasan menguap di : https://t.me/nasehatetam/1706

— Mushalla Fastabiqul Khairat @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (18:46) 04 Dzulhijjah 1440 / 04 Agustus 2019

“Seseorang pernah bertanya pada Nabi ﷺ tentang, ‘Amalan apa yang paling utama dalam Islam?'” Maka beliau menjawab:

تُطعِمُ الطعامَ، وتَقرَأُ السلامَ، على مَن عرَفتَ، وعلى مَن لم تَعرِفْ

Kamu (1) memberi orang makan dan (2) mengucapkan salam pada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.HR. Al Bukhari (12) dan Muslim (39)

Selengkapnya

▫️ Asy-Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

سلِّم على من عرفت ومن لم تعرف، وعلى من يرد ومن لا يرد، إذا سلّمت ولم يرد نلت الأجر ونال هو الوزر، لكن لا تُسلِّم سلاماً خفياً؛ لأن بعض الناس يُسلّم سلاماً خفياً لا يُسمع، سلِّم سلاماً يسمعه المسلَّم عليه، وإذا قُدّر أنه لايسمع أشر بيدك مع السلام. يظن بعض الناس الجهال أن الرجل إذا كان معروفاً بعدم الرد فلا تُسلّم عليه فتوقعه في الإثم، وهذا خطأ. الحديث « ألقِ السلام على من عرفت ومن لم تعرف » وإذا لم يرد باء بالإثم. أنا فاعل سبب الخير لي وله، وإذا ترك الخير فعليه

“Ucapkanlah salam pada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal. Dan ucapkanlah salam baik pada orang yang membalas salam-mu maupun tidak.

Bila kamu mengucapkan salam namun tidak dijawab olehnya; maka kamu dapat pahala dan dia berdosa. Tapi jangan sampai mengucapkan salam ini dengan suara lirih.

Sebab terkadang ada sebagian orang yang ketika salam suaranya samar hingga tidak terdengar. Ucapkan salam itu dengan suara yang terdengar oleh saudaramu.

Dan seandainya juga bakal tidak terdengar; berikan isyarat dengan tangan di samping ucapan salam.

Sebagian pihak yang tidak berilmu menyangka bahwa orang yang sudah terkenal tidak menjawab salam; maka jangan ucapkan salam kepadanya agar tidak membuatnya jatuh dalam dosa.

Yang seperti ini keliru! Sebab hadits berbunyi:

Ucapkan salam pada yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal!

Bila dia tidak menjawab maka dia berdosa. ‘Saya yang memulai salam, sebagai sebab kebaikan untukku dan dia. Bila dia meninggalkan kebaikan itu; maka dia yang rugi.” (Liqa-at Al Baab Al Maftuh, no. 234)

Pada awalnya, memang terasa malu dan sungkan untuk mengucap salam pada yang belum kita kenal, tapi bila bukan kita yang sudah belajar; lantas siapa lagi yang akan menghidupkan amalan mulia ini.

Insyaallah, dengan berjalannya waktu dan pembiasaan; niscaya tidak akan ada lagi rasa berat untuk menebarkan salam pada siapa pun. –Allahumma yassir-.

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (06:53) 20 Rabi’ul Akhir 1440 / 27 Desember 2018

Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menyatakan,

بعض الناس يحج ويعتمر لكنه يتهاون بالصلاة، والصلاة هي الركن الثاني من أركان الإسلام والحج هو الركن الخامس، فالصلاة آكد من الحج، بعض الناس يحج ولكنه لا يُصلي، هذا ليس له حَج.. فالحَج إنما هو نوع من أنواع العبادة، فمن اقتصر عليه وترك أنواع العبادة الأخرى لم يقبل حجه

“Sebagian orang ada yang berhaji dan juga umrah tapi meremehkan ibadah shalat. Padahal shalat rukun Islam kedua sedangkan haji rukun Islam kelima.

Shalat lebih ditekankan daripada haji.

Sejumlah pihak ada yang mengerjakan haji tapi tidak shalat; orang seperti itu tidak sah hajinya…

Haji hanyalah salah satu dari ibadah-ibadah yang ada. Jadi siapa yang hanya menunaikan haji tapi meninggalkan ibadah-ibadah lain maka hajinya tidak diterima.” (Durus wa Fatawa Al-Hajj, I/225-226)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (22:54) 02 Dzulhijjah 1440 / 02 Agustus 2019

Pertanyaan,

ماذا بقِيَ من علاماتِ السَّاعةِ؟

Tanda-tanda kiamat apa lagi yang masih tersisa?

▫️ Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

علاماتُ السَّاعةِ كثيرةٌ، وبقي منها كثيرٌ، ولكن أقولُ لك أيُّها السَّائلُ: استعِدَّ للسَّاعةِ أنتَ، وساعةُ الإنسانِ موتُه، فمَن مات فقد قامتْ قيامتُه، فأنتَ استعدَّ لها، فاعملْ عملًا صالحًا قبلَ أنْ تأتيَكَ السَّاعةُ

“Tanda-tanda kiamat banyak dan yang masih belum muncul banyak. Tetapi aku menasihatkan padamu wahai penanya,

Persiapkanlah dirimu untuk menghadapi kiamatmu! Kiamatnya seseorang ialah kematiannya.’

Orang yang meninggal berarti telah terjadi kiamatnya. Maka persiapkan dirimu menyambutnya. Lakukan amal shalih sebelum kiamat datang padamu.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/100)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (15:29) 29 Dzulqa’dah 1440 / 01 Agustus 2019

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ الل‍َّهَ لَيَرضى عَنِ العبْدِ يأكُلُ الأكْلةَ فيحمَدُهُ عليها، ويشرَبُ الشَّرْبةَ فيحمَدُهُ عليها

Sesungguhnya Allah betul-betul ridha pada seorang hamba yang makan lalu dia memuji Allah atas nikmat makanan tersebut dan dia minum lalu memuji Allah atas nikmat minuman tersebut.” HR. Muslim (2734)

▫️ Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,

فيه دلالة على أن شكر النعمة وإن قلت سبب نيل رضا الله تعالى

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa mensyukuri nikmat –meskipun kecil– merupakan sebab menggapai ridha Allah.” (Dinukil melalui Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj, XLII/450)

Selanjutnya

LUAR BIASA BESAR MANFAAT RIDHA ALLAH

▫️ Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

ورِضا الل‍َّهِ يحصُلُ به كلُّ مقصودٍ، فيحصُلُ به مغفرةُ الذُّنوبِ، وتكفيرُ السَّيِّئاتِ، ورِفعةُ الدَّرجاتِ؛ ولهذا ينبغي للإنسانِ كلَّما أكَلَ أو شرِبَ أنْ يحمَدَ الل‍َّهَ على ذلك؛ حتَّى يحصُلَ له هذا الخيرُ الكثيرُ، وهو أنْ يَرضَى الل‍َّهُ عنه

Dengan ridha Allah semua tujuan jadi tercapai, akan diampuni dosa-dosa, dihapuskan kesalahan-kesalahan, dan bakal ditinggikan derajat. Oleh karenanya, hendaklah tiap kali seseorang makan atau minum agar dia memuji Allah karenanya sehingga dia bisa mendapatkan kebaikan yang banyak ini, yaitu Allah meridhainya.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/205)

LAFAZH APA YANG DIBACA UNTUK MEMUJI ALLAH SEHABIS MAKAN ATAU MINUM?

▫️ Imam Nawawi rahimahullah berkata,

وَقَدْ جَاءَ فِي الْبُخَارِيِّ صِفَةَ التَّحْمِيدِ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُودَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا وَجَاءَ غَيْرُ ذَلِكَ ولواقتصر عَلَى الْحَمْدِ لِلَّهِ حَصَّلَ أَصْلُ السُّنَّةِ

“Cara memuji Allah (sehabis makan) diterangkan dalam riwayat Al-Bukhari (5458),

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

“Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah, yang senantiasa dibutuhkan, diperlukan dan tidak bisa ditinggalkan, wahai Tuhan kami.”

Dan ada juga selain doa ini.¹ Apabila dia mencukupkan dengan Alhamdulillah maka dia sudah dapat keutamaan sunnahnya.” (Al-Minhaj, XVII/51)

Semoga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Hanya pada Allah kita mohon petunjuk.

¹ baca juga terkait ini : https://t.me/nasehatetam/1830

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:47) 29 Dzulqa’dah 1440 / 01 Agustus 2019

Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah menyatakan,

كل بهيمة أحسنت لها بسقي، أو إطعام، أو وقاية من حر، أو وقاية من برد، سواء كانت لك أو لغيرك من بني آدم، أو كانت من السوائب، فإن لك في ذلك أجراً عند الله

“Semua hewan yang kamu perlakukan secara baik apakah dengan diberi minum, diberikan makan, diberikan naungan dari panas, atau perlindungan dari cuaca dingin –apakah itu milikmu atau milik orang lain atau hewan liar– maka niscaya kamu akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/173)

Dan tentunya, hal ini jika hewan tersebut bukan hewan pengganggu.

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (20:02) 27 Dzulqa’dah 1440 / 29 Juli 2019

Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

كل شيء يدخل السرور على أخيك المسلم فإنه خير وأجر

Segala sesuatu yang membuat bahagia hati saudara muslim-mu maka itu terhitung sebagai kebaikan dan pahala.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/168-169)

— Ma’had Darus Salaf @ Bontang
— Hari Ahadi, (22:14) 25 Dzulqa’dah 1440 / 27 Juli 2019

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan :

والأولى للمأموم أن يسلم عقب فراغ الإمام من التسليمتين، فإن سلم بعد تسليمته الأولى جاز عند من يقول: إن الثانية غير واجبةٍ؛ لأنه يرى أن الإمام قد خرج من الصلاة بتسليمته الأولى، ولم يجز عند من يرى أن الثانية واجبةٌ، لا يخرج من الصلاة بدونها

“Yang utama, ma’mum salam setelah imam menyelesaikan salam yang kedua.

Jika dia langsung salam setelah salam pertama imam; hukumnya sah menurut ulama yang berpendapat bahwa salam kedua tidak wajib.

Sebab menurut pendapat ini, imam telah selesai dari shalatnya dengan satu salam yang dilakukan.

Namun yang seperti ini tidak boleh dilakukan menurut pendapat yang mengatakan bahwa salam kedua juga wajib, yang mana imam belum keluar dari shalat tanpa salam yang kedua.” (Fathul Bari, VII/381)

Menjadi jelas dari uraian di atas; bahwa yang lebih selamat ialah ma’mum salam setelah imam menyelesaikan salam keduanya.

 — Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (16:18) 22 Shafar 1440 / 31 Oktober 2018