Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan,

– يجوز في صيام التطوع أن يفطر الصائم متى شاء، لكن الأفضل له أن يكمل الصيام، إلا أن تكون هناك حاجة للإفطار، كإكرام ضيف أو شدة حر ونحو ذلك؛ لأنه ثبت عن النبي من حديث عائشة رضي الله عنها ما يدل على ما ذكرنا

“Pada puasa sunnah seseorang boleh membatalkan puasanya kapanpun. Tapi yang utama dia tetap sempurnakan puasanya. Lain halnya bila di sana ada hajat untuk buka. Seperti dalam rangka memuliakan tamu, panas yang sangat terik, atau yang semisal ini. Karena telah shahih dalam hadits Aisyah dari Nabi Muhammad ﷺ yang menunjukkan hukum yang kami sampaikan.” (Majmu’ Fatawa, XV/421 melalui Al-Ikhtiyaraat, hlm. 266)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (20:50) 04 Sya’ban 1440 / 08 April 2019

Al-Allamah Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ننصح المرأة بألا تختار في النكاح إلا رجلا صاحب دين وخلق، وألا تتعجل المرأة بقبول الخاطب حتى يبحث عنه من جميع الجوانب، ولا أعني أن المرأة لا تتزوج من لا يأتي شيئا من الذنوب، لأن هذا متعذر لكن سددوا وقاربوا

“Kami nasihatkan pada para wanita agar jangan mereka menikah kecuali dengan orang yang baik agama dan akhlaknya.

Janganlah seorang wanita buru-buru menerima lamaran seorang laki-laki hingga dicari tahu tentang laki-laki itu dari segala sisi.

Bukan maksudku agar wanita menikah hanya dengan orang yang tidak berbuat dosa sama sekali; sebab ini tidak mungkin. Tapi berusahalah untuk mencari dan mendapatkan yang terbaik.” (Fatawa Nuur ‘alad Darb, X/31)

— Tepi Mahakam @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (20:19) 03 Sya’ban 1440 / 07 April 2019

Dalam Uyunul Akhbar (III/183) disebutkan :

قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه – لرجل همّ بطلاق امرأته: لم تُطَلِّقها؟ قال: لا أحبها. قال : أوكل البيوت بنيت على الحبّ ! وأين الرعاية والتذمم

“Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya pada seseorang yang ingin menceraikan istrinya, ‘Kenapa kamu ingin mencerainya?’

Orang itu menjawab, ‘Saya tidak cinta lagi kepadanya.’

Maka Umar berkata, ‘Apakah tiap rumah tangga harus dibangun di atas cinta?! Di mana sikap penjagaan dan kebaikan?!” -Selesai ucapan beliau-

Mengapa? Karena tujuan berumah tangga bukan hanya urusan bahagia, tapi untuk tangga menuju surga.

— MKJ SATU @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (19:40) 03 Sya’ban 1440 / 07 April 2019

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

وكم ممن أشقى ولده وفلذة كبده في الدنيا والآخرة بإهماله وترك تأديبه، وإعانته له على شهواته. ويزعم أنه يكرمه وقد أهانه، وأنه يرحمه وقد ظلمه وحرمه.. وإذا اعتبرت الفساد في الأولاد رأيت عامّته من قبل الآباء

“Betapa banyak orangtua yang mencelakakan anak dan buah hatinya dunia akhirat dengan sikapnya yang mengabaikan anaknya, tidak mendidiknya, serta membantu anaknya untuk menunaikan (semua yang dia mau) syahwatnya.

Dia menyangka bahwa tindakan semacam itu bentuk memuliakan anak, padahal justru itu tindakkan yang membuat anaknya terhina. Dia mengira bahwa demikianlah bentuk sayang pada anak padahal hakikatnya dia sudah menzalimi dan menghalangi anaknya dari kebaikan..

Jika kamu memperhatikan kerusakan yang ada pada anak-anak, kamu akan dapati bahwa mayoritasnya bersumber dari orangtua.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 351)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:02) 29 Rajab 1440 / 05 April 2019

Al-Allamah Abdul Aziz As-Salman rahimahullah berkata,

الناس لا يسألون كم يوم استغرقت مُدَهُ العَمَل وإنما يُسألون عن جودة صنعته

“Manusia nanti tidak akan ditanya tentang berapa lama waktu yang dihabiskan untuk beramal. Tapi yang akan ditanyakan adalah apakah amal itu sudah dilakukan secara bagus.” (Iyqazhu Ulil Himam, hlm. 73)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (20:12) 28 Rajab 1440 / 03 April 2019

Al-Allamah Abdul Aziz As-Salman rahimahullah menyatakan,

اطلب في الحياة العلم والمال : العلم لإزالة الجهل عن نفسك وعن المؤمنين والمال لاستعماله في ما يرضي الله لا للتكاثر والتباهي تحرز بها الرّيّاسة على الناس

“Carilah ilmu dan harta dalam kehidupan ini. Ilmu untuk menghilangkan kebodohan dari dirimu dari kaum mu’minin lain. Harta untuk digunakan pada perkara yang Allah ridhai, bukan untuk berbanyak-banyak dan berbangga. Dengan dua hal ini niscaya kamu akan dapatkan kepemimpinan di tengah manusia.” (Iyqazhu Ulil Himam, hlm. 72)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:57) 27 Rajab 1440 / 03 April 2019

Asy-Syaikh Zaid al-Madkhali rahimahullah mengatakan,

من بر الوالدين : تعليمهما ، فقد يكون الوالد أو الوالدة في جهل ، فيبذل الولد جهده في تعليمهما أمر الدين الذي أوجبه الله على كل مكلف ، وهذا من أفضل البر والإحسان

“Termasuk bentuk bakti pada orangtua ialah dengan mengajarkan [ menyampaikan ] ilmu agama pada mereka. Sebab boleh jadi kondisi ayah atau ibunya tidak mengerti (agama). Dalam kondisi ini hendaknya anak mencurahkan kesungguhan untuk mengajarkan pada mereka perkara agama yang Allah wajibkan pada tiap mukallaf. Hal semacam ini termasuk bakti dan perbuatan baik pada orangtua yang paling utama.” (Al-Fath wa At-Tasdid, hlm. 16)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (20:51) 28 Rajab 1440 / 03 April 2019

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menyatakan,

يصح الأذان والإقامة بدون طهارة، والأفضل: أن يكون المؤذن والمقيم على طهارة

“Azan dan qamat sah dilakukan meski tanpa bersuci. Tapi yang paling utama orang yang azan dan qamat dalam keadaan suci.” (Majmu’ Fatawa, X/338)

— Danau Aco @ Melapeh [ Kubar ]
— Hari Ahadi, (08:29) 24 Rajab 1440 / 31 Maret 2019

Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata,

ليس في القيام للصلاة وقت الإقامة وقت محدد في الشرع المطهر، بل يجوز للمأموم أن يقوم إلى الصلاة في أول الإقامة، أو في أثنائها، أو في آخرها، الأمر واسع في ذلك

“Dalam syari’at yang suci ini tidak ada waktu tertentu untuk berdiri shalat ketika qamat. Bahkan boleh bagi ma’mum untuk berdiri di awal qamat, di tengahnya, atau di akhirnya. Perkaranya luas.” (Majmu’ Fatawa, X/367)

— Danau Aco @ Melapeh [ Kubar ]
— Hari Ahadi, (08:42) 24 Rajab 1440 / 31 Maret 2019

Al-Allamah Ibnu Baaz rahimahullah menyatakan,

المرأة يشرع لها أن تجهر بالقراءة في الركعتين الأوليين من المغرب والعشاء، وكذلك الفجر كالرجل

“Disyari’atkan bagi wanita untuk mengeraskan bacaannya pada dua raka’at pertama shalat maghrib dan ‘isya serta shalat subuh sebagaimana kaum laki-laki.” (Majmu’ Fatawa, X/357 dengan perantara Al-Ikhtiyaraat, hlm. 55)

Lain perkaranya jika dia singgah di masjid umum, misalnya, yang berpotensi suaranya terdengar oleh laki-laki ajnabi (yang bukan mahramnya); di kondisi seperti ini maka dia membaca dengan lirih.

— Danau Aco @ Melapeh [ Kubar ]
— Hari Ahadi, (08:38) 24 Rajab 1440 / 31 Maret 2019