Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah mengingatkan,

ولا يَحِلُّ للمرأةِ أنْ تفعلَ ما يُثيرُ غضَبَ زَوْجِها، بل يجِبُ عليها أنْ تفعلَ الأسبابَ الَّتي تؤدِّي إلى المعاشَرةِ الحسنةِ

Tidak halal bagi seorang wanita melakukan sesuatu yang dapat membangkitkan kemarahan suaminya. Bahkan dia wajib untuk melakukan sebab-sebab yang dapat mewujudkan interaksi yang baik dalam rumah tangga.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, II/346)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (22:14) 19 al-Muharram 1441 / 18 September 2019

Pertanyaan,

أعمَلُ في مَحَلٍّ صاحبُه لا يصلي ولا يصومُ، وربما لم يحجَّ، فهل أعمل عندَه أم لا؟ وهناك صعوبةٌ في أنْ أجدَ عملًا آخرَ

Saya bekerja di sebuah tempat yang pemiliknya tidak shalat dan tidak puasa. Dan sepertinya juga tidak berhaji. Apakah saya boleh bekerja kepadanya? Dan ada kesulitan bagi saya untuk mencari pekerjaan lain.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjawab,

الجَوَابُ: ابحَثْ عن غيرِه، فالذي لا يُصلِّي لا تَعمَل عندَه؛ لأنَّ عَمَلَكَ عِندَه يعني تنميةَ مالِه، والذي لا يصلي مرتدٌّ. حتى ولو عمِلتَ معَ البَلَدِيَّةِ كَنَّاسًا تكنس الأسواقَ

“Cari pekerjaan di tempat lain! Jangan kamu bekerja di tempat orang yang tidak shalat. Karena saat kamu bekerja padanya itu berarti membuat hartanya bertambah. Sedangkan orang yang tidak shalat (sama sekali) statusnya murtad. Bekerjalah di tempat lain meskipun hanya sebagai tukang sapu yang membersihkan pasar.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, II/597)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:17) 19 al-Muharram 1441 / 19 September 2019

Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin mengatakan,

وكونُ الزَّوجِ يتلفَّظُ على زَوجتِه بألفاظٍ بذيئةٍ أو يهجُرُها بدونِ سبَبٍ شرعيٍّ، فهو آثِمٌ بذلك

“Kondisi seorang suami yang mengeluarkan kata-kata kasar pada istrinya dan memboikotnya tanpa sebab syar’i dia berdosa dengan perbuatannya itu.” (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, II/372)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (22:36) 19 al-Muharram 1441 / 18 September 2019

Al-Allamah Al-Utsaimin mengatakan,

ونسيانُ المرض سبب لشفائه، وكونُ الإنسانِ يعلق قلبه بالمرض فذلك سبب لبقائه

Melupakan penyakit adalah sebab kesembuhan. Maka ketika seseorang terus mengikat hatinya dengan penyakit yang dia derita maka ini bisa jadi sebab penyakit itu terus menetap pada tubuhnya.” (Syarah Riyadhus Shalihin, II/191)

Tentu dengan tetap mengupayakan kesembuhan dengan cara-cara syar’i lainnya.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:12) 16 al-Muharram 1441 / 16 September 2019

Sangat sayang pastinya seseorang yang sanggup menulis ketika ta’lim tapi dia tidak mau menulis hanya karena malas.

Berikut ini kami himpunkan beberapa motivasi dan cerita para ulama tentang pentingnya menulis ilmu.

Semua ini kami pilih dari kitab Taqyidul Ilmi oleh Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah (463 H). Semoga bisa diambil manfaatnya.

Selengkapnya

▫️ Berkata Tsumamah bin Abdillah bin Anas,

أن أنسا كان يقول لبنيه « يا بني قيدوا هذا العلم بالكتاب

“Anas bin Malik sering berpesan pada anak-anaknya, ‘Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu ini dengan cara menulisnya.” (hlm. 233)

▫️ Imam asy-Sya’bi menyatakan,

الكتاب قيد العلم

“Tulisan adalah pengikat ilmu.” (hlm. 240)

▫️ Telah berpesan pula, asy-Sya’bi rahimahullah,

إذا سمعتم مني شيئاً فاكتبوه ولو في حايط

“Bila kalian mendengar ilmu dariku maka tulislah meskipun di dinding.” (hlm. 241)

Tentu hal ini ketika tidak ada media untuk wadah menulis.

▫️ Beliau juga berpesan pada Abu Kibran,

لا تدعن شيئا من العلم إلا كتبته.. وإنك تحتاج إليه يوماً ما

“Janganlah kamu lewatkan suatu ilmu kecuali kamu tulis!.. Sebab kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti.” (hlm. 242)

Di samping menulis, mereka juga menjaga catatan-catatan mereka dengan baik.

▫️ Al-Hasan mengisahkan,

إنا عندنا كتبا نتعاهدها

“Sesungguhnya kami memiliki buku buku catatan yang terus kami jaga.” (hlm. 243)

Berpayah sesaat jelas lebih baik daripada harus lupa ilmu yang sudah pernah didengar bukan?!

▫️ Abu Qilabah mengatakan,

الكتاب أحب إلي من النسيان

“Menulis ilmu lebih aku suka daripada akhirnya melupakannya.” (hlm. 249)

Karena karakter manusia yang sering lupa, sebagian ulama tidak menganggap ilmu seseorang sebagai ilmu manakala dia tidak menulis. Tidak lain dikarenakan besarnya kemungkinan salah yang terjadi padanya.

▫️ Mu’awiyah bin Qurrah rahimahullah berkata,

من لم يكتب العلم فلا تعد علمه علماً

“Barang siapa yang tidak menulis ilmu maka jangan anggap ilmunya sebagai ilmu.” (hlm. 262)

▫️ Beliau juga mengatakan,

كنا لا نعد من لم يكتب العلم علمه علماً

“Kami tidak pernah menganggap ilmu orang yang tidak menulis sebagai ilmu.” (hlm. 262)

Seringkali, ilmu yang ditulis lalu dibaca-baca kembali dapat mendatangkan manfaat bagi seseorang.

▫️ Al-Khalil bin Ahmad menyatakan,

ما سمعت شيئاً إلا كتبته ولا كتبت شيئاً إلا حفظته ولا حفظت شيئاً إلا انتفعت به

“Tidaklah aku mendengar suatu ilmu melainkan aku tulis. Dan tidaklah aku menulis sesuatu melainkan aku jadi hafal. Dan tidaklah aku menghafal suatu ilmu melainkan aku mendapatkan manfaat darinya.” (hlm. 274)

Pada Allah kita mohon petunjuk.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:50) 16 al-Muharram 1441 / 16 September 2019

 

Pertanyaan,

بالنسبة يا سماحة الشيخ إلى تربية الهرة؟

Terkait memelihara kucing wahai Syaikh, apa hukumnya?

Imam Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjawab,

لا حرج، لو رباها لا بأس؛ لأنها قد تؤنس الأطفال، وقد تعين على
إزالة آثار الفأر، لأنها مُسَلّطة على الفأر، قد يؤذي الفأر أهل البيت، فإذا جعلوا الهرّة جاهدت معهم هذا الفأر، وكفتهم شرّه

“Tidak masalah. Jika seseorang memelihara kucing maka ini tidak masalah. Karena terkadang;
– kucing bisa membuat senang anak-anak dan terkadang juga
– dapat menghilangkan gangguan tikus, sebab kucing memang menjadi musuh tikus.

Kadang tikus dapat mengganggu penghuni rumah. Saat mereka memelihara kucing maka kucing tersebut bisa ikut membantu mereka menghadapi tikus itu dan menghentikan kejelekan yang dia timbulkan.” (Syarah Muntaqal Akhbar, hlm. 57)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (15:21) 15 al-Muharram 1441 / 15 September 2019

Dari Abdullah bin Amr, Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لا تَنتِفوا الشَّيبَ؛ فإنَّه نورُ المسلمِ، ما مِن مسلمٍ يَشيبُ شَيبةً في الإسلامِ إلَّا كُتِبَ له بها حسنةٌ، ورُفِعَ بها درجةٌ، أو حُطَّ عنه بها خطيئةٌ

“Jangalah kalian mencabut uban, karena sesungguhnya dia adalah cahaya bagi seorang muslim. Barang siapa tumbuh padanya sehelai uban di dalam Islam maka dengan tiap satu helai uban itu Allah akan;
– tuliskan untuknya satu kebaikan,
– hapuskan darinya satu kesalahan,
– dan mengangkatnya satu derajat.” -SHAHIH LI GHAIRIH- (Tahqiq al-Musnad, 6672) HR. Ahmad (6672) dan Abu Dawud (4202)

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz mengatakan,

هذا فضل كبير.. فلا ينبغي للمؤمن أن يتعرض للشيب ، بل ينبغي له أن يفرح بذلك، ويسرّ بذلك، فما زال يُعطيه الله جل وعلا به حسنة، كل شعرة، ويمحو به السيئة ، ويرفع به الدرجة، هذا خير وفضل كبير

“Ini keutamaan yang besar. Sehingga tidak pantas bagi seorang mu’min untuk memusuhi ubannya. Bahkan hendaknya dia gembira dan senang dengan keberadaan uban.

Allah terus-menerus memberikan kepada orang yang beruban;

– satu kebaikan dari setiap helai ubannya
– dan dihapuskan satu dosa serta
– dinaikkan satu derajat.

Ini merupakan kebaikan dan keutamaan yang besar.” (Syarah Muntaqal Akhbar, hlm. 182)

Maka bayangkan bagaimana bila 10 helai, dan bagaimana lagi jika ratusan helai. Alangkah besarnya keutamaan Allah.

— Ma’had Ibnul Mubarak @ Kota Tepian [ Samarinda ]
— Hari Ahadi, (07:43) 16 al-Muharram 1441 / 16 September 2019

Al-Allamah Muhammad Ali Adam al-Ityubi mengatakan,

أن السواك من باب التطييب والتطهير فالمستحب أخذه باليمين

“Sesungguhnya bersiwak masuk dalam bab memperbagus dan membersihkan sehingga dianjurkan untuk menggunakan tangan kanan.” (Ghayatul Muna, I/270)

Hal ini merupakan kesimpulan pembahasan beliau dalam Syarah Sunan An-Nasa’i di atas (Cet. Darul Mi’raj ad-Dauliyah, I/268-270).

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (06:49) 14 al-Muharram 1441 / 14 September 2019

Memotong kuku jadi salah satu aktivitas yang pasti dijalani setiap orang, karena itu mari sedikit kita pelajari serba-serbi tentang masalah ini. Pada Allah kita mohon petunjuk.

1.DIANJURKAN DARI YANG KANAN BARU KIRI

Al-Allamah Muhammad bin Ali bin Adam al-Ityubi menyatakan,

أن اليمين له شرف كما دل عليه حديث عائشة رضي الله عنها وغيره ، فبداءته بيمنى اليدين والرجلين مستحب

“Yang kanan mempunyai keutamaan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha [ Al-Bukhari, 163 ] dan hadits lainnya. Sehingga mendahulukan tangan kanan dan juga kaki kanan [ saat memotong kuku ] ialah hal yang dianjurkan.” (Ghayatul Muna, I/358)

Artinya habis memotong yang kanan baru yang kiri, baik jari tangan atau kaki.

Selengkapnya

2. TERSERAH MAU KUKU JARI TANGAN DULUAN ATAU JARI KAKI

Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah menegaskan,

يَحْتَاجُ مَنِ ادَّعَى اسْتِحْبَابَ تَقْدِيمِ الْيَدِ فِي الْقَصِّ عَلَى الرِّجْلِ إِلَى دَلِيلٍ فَإِنَّالْإِطْلَاقَ يَأْبَى ذَلِكَ

“Pihak yang mengatakan disunnahkan mendahulukan jari tangan daripada jari kaki saat memotong kuku memerlukan pada dalil. Sebab dalil yang bersifat mutlak [ tanpa menyebutkan mana yang didahulukan ] tidak mendukung pendapat tersebut.” (Dinukil oleh Al-Hafizh dalam Fathul Bari, X/345)

3. BOLEH JARI YANG MANAPUN DULUAN

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan,

وَلَمْ يَثْبُتْ فِي تَرْتِيبِ الْأَصَابِعِ عِنْدَ الْقَصِّ شَيْءٌ مِنَ الْأَحَادِيثِ

“Tidak ada satupun hadits shahih yang menunjukkan urutan jari mana yang lebih dulu dipotong kukunya.” (Fathul Bari, X/345)

4. HARI APA BAIKNYA POTONG KUKU

Bila riwayat dari Nabi Muhammad ﷺ secara langsung, maka tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan lebih utamanya potong kuku pada hari tertentu.

Al-Hafizh As-Sakhawi mengatakan terkait hal ini,

لم يثبت في كيفيته ولا في تعيين يوم له عن النبي صلى الله عليه وسلم شيء

“Tidak ada riwayat shahih dari nabi ﷺ tentang tatacara [ memotong kuku ] maupun penetapan hari tertentunya.” (Al-Maqashid Al-Hasanah, hlm. 422)

Namun shahih dalam riwayat Al-Baihaqi (Al-Kubra, III/244) dari Nafi’ beliau berkata,

أن عبدالله بن عمر كان يقلم أظفاره ويقص شاربه في كل جمعةٍ

“Sesungguhnya Abdullah bin Umar memotong kukunya dan mencukur kumisnya pada tiap hari Jum’at.”

Dari riwayat inilah -di samping dalil lain- sebagian ulama menyatakan dianjurkan potong kuku pada hari Jum’at.

Meski tetap, yang menjadi intinya ialah saat perlu dipotong maka saat itulah dia potong.

Imam Nawawi berkata,

أما التوقيب في تقليم الأظفار فهو معتبر بطولها، فمتى طالت قلمها، ويختلف ذلك باختلاف الأشخاص والأحوال

“Masalah waktu memotong kuku yang jadi dasarnya ialah saat panjang. Jika panjang maka dia potong. Yang mana ini berbeda-beda pada masing-masing orang dan keadaan.” (Al-majmu’, I/339)

Dalam artian, sebagian orang ada yang kukunya lebih cepat panjang daripada orang lain.

Sehingga tidak ada keharusan bagi seseorang untuk menunggu hari Jum’at misalnya, ketika kukunya memang telah panjang.

Dari beberapa keterangan ulama di atas juga kita menjadi tahu bahwa tidak ada hari terlarang untuk memotong kuku.

5. BOLEHKAH MALAM HARI

Al-Allamah Ibnu Baaz mengatakan,

قص الأظافر بالليل أو بالنهار جائز، في الليل والنهار مطلقًا مشروع.

“Memotong kuku di malam atau siang hari hukumnya boleh. Di malam atau siang di seluruh waktu tersebut disyari’atkan.” (Fatawa Al-Jami’ Al-Kabir melalui https://binbaz.org.sa/fatwas/1452/حكم-تقليم-الاظافر-ليلا)

6. ADAKAH PERLAKUAN KHUSUS SETELAH KUKU DIPOTONG

Imam Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya tentang pernyataan sebagian orang bahwa kuku yang habis dipotong itu dikubur dan dibacakan beberapa surah Al-Qur’an.

Beliau lalu menjelaskan,

هذا شيء لا أصل له، إذا قص الإنسان أظفاره يرميها ولا بأس، ولا حاجة إلى دفنها، ولا قراءة القرآن عليها، كل هذا خرافة لا أصل لها، ولا أساس لها، متى قص الإنسان أظفاره رجلا أو امرأة فلا حرج في إلقائها في أي مكان

“Perbuatan seperti itu tidak memiliki dasar dalil. Jika seseorang habis memotong kukunya lalu dia lemparkan begitu saja ini tidak masalah. Tidak perlu untuk dikubur atau dibacakan Al-Qur’an.

Semua ini adalah khurafat yang tidak memiliki dasar dan landasan sama sekali. Ketika seseorang habis potong kuku -baik dia laki-laki atau wanita- tidak masalah jika dia buang di manapun.” (Fatawa Nuur ‘alad Darb, V/61)

Sebagian ulama menganjurkan untuk mencuci ujung jari-jemari sehabis potong kuku.

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata,

وَيُسْتَحَبُّ غَسْلُ رُءُوسِ الْأَصَابِعِ بَعْدَ قَصِّ الْأَظْفَارِ

“Dianjurkan untuk membasuh ujung-ujung jari setelah memotong kuku.” (Al-Mughni, I/119)

Hal ini juga diperkuat dengan anjuran para pemerhati kesehatan di zaman sekarang agar seseorang mencuci kukunya sehabis dipotong.

7. HUKUM MEMBIARKAN KUKU PANJANG TANPA DIPOTONG

Imam Ibnu Baaz berkata,

تطويل الأظافر خلاف السنة ، وقد ثبت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال : “الفطرة خمس: الختان، والاستحداد، وقص الشارب، ونتف الإبط، وقلم الأظفار “. ولا يجوز أن تترك أكثر من أربعين ليلة؛ لما ثبت عن أنس – رضي الله عنه – قال: ( وقت لنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في قص الشارب، وقلم الظفر، ونتف الإبط، وحلق العانة: ألا نترك شيئا من ذلك أكثر من أربعين ليلة )، ولأن تطويلها فيه تشبه بالبهائم وبعض الكفرة

Memanjangkan kuku adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah. Telah pasti bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الفطرة خمس: الختان، والاستحداد، وقص الشارب، ونتف الإبط، وقلم الأظفار

“Amalan fitrah ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, memangkas kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.”

Dan tidak boleh dibiarkan panjang sampai lebih empat puluh hari. Berdasarkan pada riwayat yang shahih dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

وقت لنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في قص الشارب، وقلم الظفر، ونتف الإبط، وحلق العانة: ألا نترك شيئا من ذلك أكثر من أربعين ليلة

“Rasulullah ﷺ memberikan batas waktu pada kami untuk memotong kumis, kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur rambut kemaluan, agar jangan dibiarkan (tanpa dipotong) melebihi empat puluh malam.” HR. Muslim (258)

Juga karena memanjangkan kuku padanya terdapat unsur menyerupai hewan dan orang-orang kafir.” (Majmu’ Fatawa, X/50)

Ini yang bisa dihimpun, semoga memberi sedikit manfaat.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (14:48) 14 al-Muharram 1441 / 14 September 2019

Al-Allamah Al-Utsaimin menjelaskan,

لا يُسْتَعْمَلُ مُكَبِّرُ الصوتِ خارجَ المسجدِ وَقْتَ الصَّلاةِ الجهريةِ أو السريةِ؛ لأنَّ ذلك يُشَوِّشُ على مَنْ حَوْلَهُ

“Pengeras suara luar masjid tidak boleh dipakai pada saat pelaksanaan shalat baik yang jahr (bacaannya dikeraskan) ataupun yang sirr, karena hal itu dapat mengganggu orang-orang di sekitar masjid.” (Fatawa ‘alath Thariq, hlm. 320)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:17) 14 al-Muharram 1441 / 14 September 2019