Pertanyaan,

السُّؤالُ: مَن يخافُ أن يَنصَحَ أحدًا فهل يُعتبَرُ جبانًا؟

Apakah orang yang merasa takut saat ingin menasihati orang lain tergolong pengecut?

Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjawab,

لا، هذا مَرضٌ، وعلاجُه أن يُكثِرَ من قراءةِ الأورادِ الشرعيةِ، كآيةِ الكُرسيِّ والآيتين الأَخيرتين من البَقرةِ، و﴿قُلْ هُوَ اللَّ‍هُ أَحَدٌ﴾، و﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ﴾، و﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾، وكلما أحسَّ برُعبٍ أو خوفٍ قال: أعوذُ بالله من الشيطانِ الرَّجيمِ، اللَّهمَّ آمِن رَوعاتِي، واستُر عَوراتي

“Bukan! Tapi ini penyakit. Penanganannya dengan dia memperbanyak dzikir syar’i; seperti membaca ayat kursi, dua ayat terakhir surah Al-Baqarah, qul huwallaahu ahad, qul a’uudzu birobbil falaq, serta qul a’uudzu birobbinnaas.

Tiap kali dia merasa cemas dan takut hendaklah dia baca,

أَعُوْذُ بالله من الشيطانِ الرَّجيمِ، اللَّهمَّ آمِن رَوْعَاتِيْ، وَاسْتُرْ عَوْرَاتِيْ

A’uudzu billaahi minasy syaithanir rajiim. Allahumma Aamin rou’aati wastur ‘aurooti

‘Aku berlindung pada Allah dari gangguan setan yang terkutuk. Ya Allah amankanlah aku dari rasa takutku dan tutupilah auratku.’ (Fatawa Su’al ‘alal Hatif, I/128-129)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (10:03) 29 Dzulhijjah 1440 / 30 Agustus 2019

Aun bin Abdillah rahimahullah mengatakan,

إذا أزرى أحدكم على نفسه، فلا يقول: ما في خير، فإنّ فينا الوحيد، ولكن ليقل: قد خشيت أن يهلكني ما في من
الشر

“Jika salah satu di antara kalian mencela diri sendiri¹, janganlah dia mengucapkan, ‘Saya tidak ada baiknya!’

Disebabkan kita masih memiliki tauhid. Tapi hendaklah dia mengucapkan, ‘Saya khawatir binasa disebabkan kejelekan yang ada padaku’.” (Syu’ab Al Iman, 7109)

¹ Jika pada diri sendiri pun jangan; apalagi kepada orang lain.

— Tepian Mahakam @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (10:40) 23 Jumadil Akhir 1440 / 28 Februari 2019

Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda,

َ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

“Jika salah seorang dari kalian selesai makan maka janganlah dulu dia bersihkan tangannya hingga ia menjilatnya atau dijilatkan.” HR. Al-Bukhari (5456) dan Muslim (2031)

Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

أنه ينبغي الأكل باليد وهو خير من الأكل بالملعقة؛ لقوله : «فلا يَمسح يَدَهُ »، مما يدل على أن الذي الآلة التي باشرت الأكل هي اليد، فلا شك أن الأكل باليد أفضل من الأكل بالملعقة

Sepantasnya makan dengan tangan langsung. Dan yang demikian lebih baik daripada makan menggunakan sendok. Berdasarkan sabda nabi ﷺ [ di atas ],

فلا يَمسح يَدَهُ

“… janganlah dulu dia bersihkan tangannya hingga..”

Yang menunjukkan bahwa alat yang digunakan untuk memegang langsung makanan ialah tangan.

Tidak diragukan bahwa makan dengan tangan langsung lebih utama daripada makan dengan sendok.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, XV/43)

Beliau menambahkan,

أما إذا كان لعذر، فلا شك في جوازه، كما لو كان في يده اليمنى جروح، ما يستطيع أن يأكل بها وأكل بالملعقة فلا بأس، أو كان الطعام حارًا يلسع يده فأكل بالملعقة فلا بأس

“Sedangkan bila ada udzur maka jelas hukumnya boleh. Seperti jika;
– di tangan kanannya terdapat luka sehingga tidak mampu makan langsung dengannya lalu dia pun makan menggunakan sendok, ini tidak masalah.
– Atau jika makanan itu panas sehingga dapat membuat sakit tangannya maka tidak masalah makan dengan sendok.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, XV/43)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (16:26) 27 Dzulhijjah 1440 / 28 Agustus 2019

Pada uraian ini, Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah akan menjelaskan tentang,
– status suara seorang wanita di hadapan laki-laki, serta
– hal-hal yang harus dijaga oleh seorang muslimah saat berbicara dengan lawan jenis.
Semoga bermanfaat.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin berkata,

صوت المرأة ليس بعورة، لكن المرأة تنهى أن تخضع بالقول، فيطمع الذي في قلبه مرض، بمعنى ألا تتكلم كلاماً ليناً سواء في كلماته، أو ليناً في أدائه، أو تكون حين أداء الصوت متغنجة أو ما أشبه ذلك فإن هذا حرام، أما الكلام العادي فإنه ليس بحرام وليس بعورة

Suara wanita bukan aurat. Namun wanita dilarang berbicara dengan suara yang halus (di depan laki-laki) yang itu dapat memunculkan rasa pada orang yang hatinya berpenyakit.

Dalam arti, jangan seorang wanita berbicara dengan;
– halus dalam kalimat-kalimatnya yang keluar dan
– lembut dalam nada berbicaranya.
– Dan jangan dia saat mengeluarkan suara tersebut dengan nada manja atau yang semisal ini,
karena hukumnya haram.

Adapun ucapan yang biasa maka tidak haram dan bukan aurat.” (Silsilah Al-Liqa’ Asy-Syahri, no 11)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (14:24) 23 Dzulhijjah 1440 / 24 Agustus 2019

Karena berulangnya setiap hari ibadah ini, maka untuk pengingat bagi kami pribadi maupun yang lainnya, disusunlah tulisan ini. Semoga bisa diambil sedikit manfaatnya.

1. MOTIVASI UNTUK SELALU MELAKSANAKAN DUA RAKA’AT SEBELUM SUBUH

Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan,

ركعتَا الفجرِ خيرٌ من الدُّنيا وما فيها

“Dua raka’at sunnah sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” HR. Muslim (725)

Selengkapnya

Menerangkan hadits ini, Al-Allamah Muhammad Al-Utsaimin mengatakan,

الدُّنيا منذ خُلقت إلى قيام الساعة بما فيها مِن كُلِّ الزَّخارف مِن ذَهَبٍ وفضَّةٍ ومَتَاعٍ وقُصور ومراكب وغير ذلك، هاتان الرَّكعتان خيرٌ مِن الدُّنيا وما فيها؛ لأنَّ هاتين الرَّكعتين باقيتان والدُّنيا زائلة

“Dunia semenjak dia diciptakan hingga hari kiamat dengan segala macam perhiasan yang ada padanya seperti emas, perak, istana-istana, beragam macam kendaraan, dan lain sebagainya maka dua raka’at sebelum shalat subuh ini jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. Karena (pahala) dua raka’at ini akan kekal sedangkan dunia akan hancur.” (Asy-Syarh Al-Mumti’, IV/70)

Karena keutamaannya yang sangat besar, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat ini.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengisahkan tentang Nabi Muhammad ﷺ,

لم يكُنِ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على شيءٍ مِن النوافلِ أَشدَّ تعاهُدًا منْه على رَكعتَي الفجرِ

“Tidaklah ada shalat sunnah yang lebih dijaga oleh Nabi Muhammad ﷺ yang melebihi dua raka’at sebelum subuh.” HR. Al-Bukhari (1169) dan Muslim (724)

Pada riwayat lain dengan lafazh,

ولم يكُن يَدَعُهما أبدًا

“Nabi tidak pernah meninggalkan dua raka’at itu sekalipun.” HR. Al-Bukhari (1159)

2. KAPAN MULAI BOLEH MENGERJAKAN SHALAT INI

Asy-Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan,

ركعتا الفجر مثل صلاة الفجر فلا تصلى سنة الفجر إلا بعد طلوع الفجر

“Dua raka’at sebelum subuh sebagaimana halnya shalat subuh. Tidak boleh mengerjakan qabliyah subuh kecuali saat fajar telah terbit.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, XIV/276)

Waktu fajar terbit artinya saat waktu subuh masuk. Karena masuknya waktu subuh ialah ketika fajar terbit. Jadi saat sudah dipastikan masuk waktu subuh saat itulah seseorang boleh mengerjakan shalat qabliyah subuh.

3. YANG SUNNAH UNTUK DIBACA SETELAH MEMBACA AL-FATIHAH

Ada dua sunnah di sini;

Raka’at pertama Al-Kafirun raka’at kedua Al-Ikhlas (HR. Muslim, 726 dari Abu Hurairah)

ATAU

Raka’at pertama Al-Baqarah ayat 136,

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.”

dan raka’at kedua Ali Imran ayat 52,

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.’

Didasari dengan (HR. Muslim, 727 dari Ibnu Abbas).

Yang paling utama ialah berganti-gantian dalam menerapkan dua sunnah ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan,

وَمِنْ تَمَامِ السُّنَّةِ فِي مِثْلِ هَذَا: أَنْ يُفْعَلَ هَذَا تَارَةً وَهَذَا تَارَةً وَهَذَا

“Bentuk paling sempurna dalam sunnahnya [ ketika ada riwayat shahih yang berbeda-beda] ialah dengan menerapkan ini di satu waktu dan menerapkan satunya di waktu yang lain.” (Majmu’ Al Fatawa, XXII/67)

Jika misalnya, waktu cukup mepet dengan iqamah, tidak masalah bila mencukupkan dengan surah Al-Fatihah saja.

Al-Allamah Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

لا حرج أن تقتصر على الفاتحة في ركعتي الفجر

“Tidak masalah bila seseorang mencukupkan dengan Al-Fatihah saja pada dua raka’at qabliyah subuh.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, XIII/155)

4. PADA SHALAT INI YANG UTAMANYA ADALAH TIDAK PANJANG

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ ، حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ ؟!

“Nabi Muhammad ﷺ biasa mengerjakan shalat sunnah dua raka’at sebelum subuh dengan cepat. Sampai-sampai aku mengatakan, ‘Apakah beliau ada membaca Al-Fatihah?!'” HR. Al-Bukhari (1165) dan Muslim (724)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata,

‏الإنسان الذي يصلي سنة الفجر بسرعة أفضل من الذي يصليها بطول قراءة وطول ركوع وسجود؛ لأن هذا هو السنة فهو أحسن،

“Orang yang mengerjakan shalat qabliyah subuh dengan cepat lebih utama daripada yang mengerjakannya dengan bacaan yang panjang serta rukuk dan sujud yang lama. Karena demikianlah memang sunnahnya sehingga ia lebih baik.” (Syarah Al-Kafiyah Asy-Syafiyah, I/369)

5. KAN LEBIH LAMA LEBIH BAIK?

Asy-Syaikh Al-Utsaimin mengatakan,

لو أراد أحد أن يُطيل رَكعتي سُنَّة الفجر بالقراءة والرُّكوع والسُّجود، لكونه وقتاً فاضلاً بين الأذان والإِقامة لا يُرَدُّ الدُّعاء فيه، قلنا: خالفتَ الصَّواب؛ لأن النَّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم كان يُخفِّف

“Jika ada seseorang yang ingin memperpanjang bacaan, rukuk, dan sujud pada qabliyah subuh dengan alasan itu waktu yang punya keutamaan yang terletak antara adzan dan qamat sehingga doa tidak tertolak, kami katakan, ‘Kamu menyelisihi yang benar. Sebab nabi ﷺ beliau mengerjakan shalat ini dengan cepat’.” (Asy-Syarh Al-Mumti’, I/407)

6. JIKA KESIANGAN DAN TIDAK SEMPAT MELAKSANAKANNYA

Karena bangun sedikit terlambat, saat datang ke masjid orang-orang sedang mengerjakan shalat subuh dan ia pun langsung bergabung bersama jamaah. Lantas kapan mengerjakan qabliyah-nya?

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menerangkan,

يخير بين أدائها بعد الصلاة أو تأجيلها إلى ما بعد ارتفاع الشمس؛ لأن السنة قد ثبتت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – بالأمرين جميعا. لكن تأجيلها أفضل إلى ما بعد ارتفاع الشمس

“Dia bisa memilih antara;
– mengerjakannya langsung sehabis melaksanakan shalat subuh¹ atau
– dia tunda hingga matahari mulai naik.²
Karena shahih dari sunnah nabi ﷺ kedua hal ini sekaligus. Tapi menundanya hingga matahari naik lebih utama.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat, XI/373)

Yang beliau maksudkan dengan saat matahari mulai naik ialah awal waktu dhuha, yaitu ± 15 menit setelah waktu syuruq.

¹ SHAHIH (Shahih Sunan At-Tirmidzi, I/133) HR. At-Tirmidzi (422)
² SHAHIH (Shahih Sunan At-Tirmidzi, I/133) HR. At-Tirmidzi (424)

7. BILA KESIANGAN DAN WAKTU SHALAT SUBUH SUDAH HABIS

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz mengatakan,

يبدأ بسنة الفجر ثم يصلي الفريضة كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم لما نام هو وأصحابه في بعض الأسفار عن صلاة الفجر.

“Dia shalat qabliyah lebih dulu kemudian baru mengerjakan shalat subuhnya. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat beliau saat tertidur dari mengerjakan shalat subuh.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat, XI/377)

Ini yang bisa dihimpun. Wallahu waliyyut taufiiq.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (23:17) 23 Dzulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019 


Pertanyaan,

أُسْرَةٌ لَدَيْهَا ابنٌ ينامُ فلا يستيقظُ بسُهُولَةٍ، فيَلْجَأُ أَحَدُ الأبَوَيْنِ عندما يُرِيدُ أنْ يُوقِظَهُ لأداءِ الصَّلاةِ أَنْ يَقُولَ له: قُمْ، جَاءَ فلانٌ. أَحَدُ أصدقائِه، أَوْ أَحَدُ أَقْرِبَائِه، فيقومُ بِسُرْعَةٍ، فهل هذا جائزٌ؟

Ada sebuah keluarga yang memiliki seorang anak yang dia susah untuk bangun.

Hingga salah satu orang tuanya menempuh cara untuk membangunkannya shalat dengan mengatakan, ‘Cepat bangun! Si fulan datang..’ (lalu dia sebut salah satu nama teman atau kerabat anaknya tersebut) maka si anak pun bangun dengan cepat.

Apakah perbuatan seperti ini boleh?

Al-Allamah Al-Utsaimin menjawab,

نَعَمْ، يجوزُ، لكِنْ لا بُدَّ أنْ يَتَأَوَّلَ، فيَقْصِدَ أنَّ فلانًا قد جَاءَ إلى أَهْلِهِ، أو ما أَشْبَهَ ذلكَ

“Ya, boleh. Tapi dia harus memaksudkan dari ucapannya itu perkara yang lain. (Seperti) Dia maksudkan si fulan datang ke keluarganya, atau yang semisal ini.” (Fatawa ‘alath Thariq, hlm. 200)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:09) 21 Dzulhijjah 1440 / 22 Agustus 2019

Tentunya, kalimat syukron atau terimakasih dalam Bahasa Indonesia yang ditujukan pada orang yang berbuat baik pada kita merupakan suatu adab yang sangat terpuji, dan alangkah lebih baik lagi bila dia menyertakannya pula dengan doa.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin mengatakan,

وكثير من الناس الآن إذا صُنع إليه معروف قال: «شكرًا لك»
وربما قال: «شكرا» فقط، فالأحسن أن يقول: «جزاك الله خيرًا» حتى يُبلغ في الثناء، لكن لو زاد فيها كما لو قال: «جزاك الله ألف خير»، فلا بأس، أو قال: «جزاك الله خيرا كثيرًا» فلا بأس إن شاء الله

“Banyak orang di zaman sekarang jika mendapatkan suatu kebaikan dari orang lain dia mengucapkan, ‘Terimakasihku padamu’ atau ‘Terimakasih’ begitu saja.

Yang lebih baik dari ini dia mengucapkan ‘Jazaakallahu khoyron‘ -semoga Allah membalasmu dengan kebaikan- yang dengan ungkapan ini dia telah memberikan pujian yang terbaik.

Jika dia mau tambahkan seperti dengan kalimat ‘jazaakallahu alfa khoyrin‘ -semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan- maka tidak masalah. Atau kalimat ‘jazaakallahu khoyron katsiron’ -semoga Allah membalasmu dengan banyak kebaikan- juga tidak mengapa, insyaallah.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, XIV/442)

baca juga: https://t.me/nasehatetam/2989

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:08) 22 Dzulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إن من موجبات المغفرة بذل السلام وحسن الكلام

“Sesungguhnya termasuk amalan yang pasti mendatangkan ampunan ialah menyebarkan salam dan berucap dengan ucapan santun.” -SHAHIH- (Ash-Shahihah, 1035) HR. Al-Khoro’ithi dalam Makarimul Akhlak, hlm. 23

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (13:20) 20 Dzulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

Dari keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah maupun selain beliau, yang jadi ukuran seseorang mendapatkan suatu shalat berjamaah ialah bila dia menyempati satu raka’at dari shalat tersebut. Dan batasan paling minimalnya ialah dia mendapatkan rukuk imam di raka’at terakhir.

Lalu bagaimana bila dia datang ke masjid ketika imam sudah di tahiyat akhir? Yang berarti dia sudah tidak mendapati lagi shalat berjamaah tersebut. Simak penjelasan dari Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berikut ini.

Beliau menjelaskan,

هذا فيه تفصيل: إذا جاء إلى المسجدِ وهو في التشهد الأخير إن كان معه أحد يعني: حوله أحدُ سيُصلّي معه – انتظر، وإذا لم يكن حَولهُ أحَد فليدخل مع الإمام؛ لأن إدراك بعض الصّلاة خير من عدم الإدراك. أما إذا كان سيدرك ركعةً كاملةً فلا ينتظر أحدًا؛ لأنه: « مَن أَدْرَك ركعةً من الصَّلاة، فقد أدركَ الصَّلاة

“Kondisi ini perlu dirincikan,

Bila ia datang ke masjid saat keadaan sudah tahiyat akhir maka;

jika ada orang lain yang akan shalat bersamanya saat itu maka dia tunggu orang tersebut,

tapi jika tidak ada siapa-siapa lagi maka hendaklah dia langsung bergabung dengan shalatnya imam karena mendapatkan sebagian dari shalat berjamaah itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Adapun jika dia bisa mendapati satu raka’at sempurna [ yang minimalnya mendapatkan rukuk di raka’at terakhir tersebut, pent ] maka jangan menunggu siapapun. Karena, ‘Siapa yang mendapatkan satu raka’at shalat maka berarti dia telah mendapati shalat tersebut.’.” (Liqa-at Al-Baab Al-Maftuh, VII/205-206)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (14:56) 20 Dzulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menjelaskan,

فقد ثبت عن النبي ﷺ ما يدل على أن التسبيح باليمين أفضل، ومن سبح باليسار فلا بأس أو سبح بهما جميعًا باليمنى واليسرى كل ذلك لا بأس به

“Telah shahih dari Nabi Muhammad ﷺ riwayat yang menunjukkan bahwa berdzikir dengan tangan kanan ialah yang paling utama. Tapi jika ada yang menghitung dzikir dengan tangan kiri maka tidak masalah atau jika dia menghitung dengan kedua tangannya sekaligus semua itu tidak mengapa.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/14149/جواز-عقد-التسبيح-باليد-اليسرى)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (07:34) 20 Dzulhijjah 1440 / 21 Agustus 2019