HUKUM MEMANGGIL ISTRI DENGAN ‘ADIK’, ‘BUNDA’, ‘MAMA’, ‘UMMI’ ATAU YANG SEMISAL

1 menit baca
HUKUM MEMANGGIL ISTRI DENGAN ‘ADIK’, ‘BUNDA’, ‘MAMA’, ‘UMMI’ ATAU YANG SEMISAL
HUKUM MEMANGGIL ISTRI DENGAN ‘ADIK’, ‘BUNDA’, ‘MAMA’, ‘UMMI’ ATAU YANG SEMISAL

Pertanyaan,

السؤال: هل يجوز للرجل أن يقول لزوجته: يا أختي بقصد المحبة فقط، أو يا أمي؟

Apakah boleh seorang suami memanggil istrinya dengan ‘Wahai saudariku..’ dengan maksud sebagai ungkapan sayang saja. Atau memanggil dengan ‘Wahai ummi..’?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

نعم، يجوز أن يقول لها: يا أختي ويا أمي وما أشبه ذلك من الكلمات التي توجب المودة والمحبة، وإن كان بعض أهل العلم كره أن يخاطب الرجل زوجته بمثل هذه العبارات، ولكن لا وجه للكراهة، وذلك لأن الأعمال بالنيات، وهذا الرجل لم ينوِ بهذه الكلمات أنها كأخته في التحريم والمحرمية، وإنما أراد أن يتودد إليها ويتحبب إليها، وكل شيء يكون سبباً للمودة بين الزوجين سواءٌ كان من الزوج أو من الزوجة فإنه أمرٌ مطلوب

“Ya, seorang suami boleh memanggil istrinya dengan ‘Wahai saudariku’ ‘Wahai ummi’ atau kalimat yang semisal, yang dapat memunculkan rasa sayang dan cinta.

Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa makruh menggunakan kalimat-kalimat ini untuk memanggil istri, akan tetapi tidak ada alasan untuk menganggapnya makruh. Sebab tiap perbuatan bergantung pada niatnya.

Si suami tidak memaksudkan dengan panggilan tersebut bahwa istrinya persis seperti saudarinya yang haram untuk dia nikahi. Dia hanya bermaksud memperlihatkan rasa sayang dan cintanya kepada istrinya.

Sedangkan segala sesuatu yang menjadi sebab (hadir dan bertambahnya) rasa cinta antara suami-istri, baik itu dilakukan oleh suami atau istri, maka dituntut untuk dilakukan.”

— Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no. 185
— Penerjemah: Hari Ahadi