![]() |
| ADAB BERPAKAIAN BAGI LAKI-LAKI: MENGGUNAKAN PAKAIAN DI ATAS MATA KAKI Bag.5 |
Perlu juga untuk kita pahami, bahwa menggunakan pakaian di atas mata kaki ialah salah satu karakteristik orang yang shalih.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,
دخلتُ على النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، وعليَّ إزارٌ يتقَعْقَعُ ، فقال : من هذا ؟ قلتُ : عبدُ اللهِ بنُ عمرَ ، قال : إن كنتَ عبدَ اللهِ فارفعْ إزارَكَ ، فرفعتُ إزاري إلى نصفِ السَّاقَينِ
“Aku pernah menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan sarungku menyeret di atas tanah.
Beliau berkata padaku, ‘Siapa ini?’
Aku menjawab, ‘Abdullah bin Umar’
‘Bila engkau benar Abdullah [Hamba Allah], maka naikkanlah kain sarungmu.’ Kata beliau ﷺ.
Maka akupun mengangkat sarungku hingga seukuran pertengahan betis.”
Berkata Zaid,
فلم تزلْ إزرتُه حتى مات
“Dan terus demikian keadaan sarung Ibnu Umar hingga beliau wafat.”
SHAHIH (Ash-Shahihah, 1568) H.R. Ahmad (6263) dan Ath-Thabrani (al-Aushath, 4340)
Mengomentari riwayat ini,
Asy-Syaikh Muhammad Nashir al-Albani rahimahullah berkata,
وفي الحديث دلالة ظاهرة على أنه يجب على المسلم أن لا يطيل إزاره إلى ما دون الكعبين، بل يرفعه إلى ما فوقهما، وإن كان لا يقصد الخيلاء، ففيه رد واضح على بعض المشايخ الذين يطيلون ذيول جببهم حتى تكاد أن تمس الأرض، ويزعمون أنهم لا يفعلون ذلك خيلاء! فهلا تركوه اتباعا لأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بذلك لابن عمر، أم هم أصفى قلبا من ابن عمر؟ !
“Dalam hadits ini terdapat dalil yang terang bahwa setiap lelaki muslim wajib untuk tidak menggunakan sarung (atau celana) yang melewati maka kaki. Bahkan harus diangkat sampai di atas mata kaki. Meskipun latar belakangnya bukan untuk sombong.
Dalam hadits ini juga terdapat bantahan jelas bagi sebagian syaikh yang memanjangkan jubahnya hingga hampir menyentuh tanah lalu beranggapan bahwa itu dilakukan bukan karena sombong.
Tidakkah sebaiknya mereka tinggalkan perbuatan itu untuk mengikuti yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Umar di atas. Atau mereka merasa lebih bersih hatinya daripada Ibnu Umar?!” (Ash-Shahihah, IV/95)
— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Penggalan pembahasan hadits ke 14 Kitab al-Jami’ dari Bulughul Maram]
