AGUNGNYA KEJUJURAN

2 menit baca
AGUNGNYA KEJUJURAN
AGUNGNYA KEJUJURAN

Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Allah subhanahu wa ta’ala menyifatkan diri-Nya dengan sifat jujur.

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا

“Dan siapakah yang lebih jujur perkataannya dari pada Allah?” QS. An-Nisa’: 122

Allah juga menyifatkan para nabi dengan sifat kejujuran, sekaligus menguatkan para nabi dengan berbagai bukti dan ayat (tanda-tanda) besar yang membuktikan kejujuran mereka. Hal ini ialah bukti betapa agungnya suatu kejujuran di sisi Allah.

Setelah kenabian dan kerasulan, sifat para nabi -‘alaihimus salam- yang paling jelas ialah kejujuran dan memiliki ilmu. Jadi ini termasuk sifat yang dimiliki para nabi. Maka hendaknya kita meneladani mereka, berhias diri dengan sifat-sifat mereka. Juga di antara sifat mereka ialah bertauhid, akidah yang benar, mengajak manusia pada kebaikan. Dan termasuk sifat mereka, kejujuran.

Allah menyebut sebagian dari nabi-Nya dengan sebutan shiddiq [sangat jujur dan selalu membenarkan wahyu yang diturunkan], yaitu Ibrahim dan Idris.

{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا} [مريم : 41]

“Ceritakanlah (Hai Nabi) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur dan membenarkan lagi seorang Nabi.” QS. Maryam: 41

Allah berfirman tentang Idris,

{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا} [مريم : 56]

“Dan ceritakanlah (hai Nabi, kepada mereka) kisah Idris (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur dan membenarkan lagi seorang nabi.” QS. Maryam: 56

Dan Dia berfirman tentang Isma’il,

{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا} [مريم : 54]

“Dan ceritakanlah (hai Nabi, kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang jujur janjinya, dan ia adalah seorang rasul dan nabi.” QS. Maryam: 54

Perkara kejujuran sangat-sangat besar. Tidak akan baik kehidupan umat Islam, dalam urusan agama dan dunia, kecuali dengan sifat jujur. Bahkan, tidak akan baik kehidupan seluruh umat manusia melainkan dengan kejujuran.

Manakala kehidupan manusia telah dimasuki oleh kedustaan, maka kehidupan itu akan masuk ke dalam bala dan keburukan (yang banyak), yang hanya diketahui oleh Allah tabaraka wa ta’ala.

— Al-Lubab min Majmu’ Nasha’ih wa Taujihat asy-Syaikh Rabi’ li asy-Syabab, hlm. 284
— Penerjemah: Hari Ahadi