![]() |
| DALIL BERSUCI DENGAN TAYAMMUM Bag.2 |
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,
يَجُوزُ التَّيَمُّمُ عَنْ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَيَجُوزُ عَنْ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ وَهُوَ الْجَنَابَةُ وَالْحَيْضُ وَالنِّفَاسُ
“Tayammum bisa digunakan untuk hadats kecil berdasarkan al-Qur’an, hadits, dan ijma’. Dan juga bisa untuk hadats besar, yaitu junub, haid, dan nifas.” (Al-Majmu’, II/239)
Di halaman berikutnya, beliau mengatakan,
قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ التَّيَمُّمَ عَنْ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ جَائِزٌ هَذَا مَذْهَبُنَا وَبِهِ قَالَ الْعُلَمَاءُ كَافَّةً مِنْ الصحابة والتابعين ومن بعدهم الا عمربن الْخَطَّابِ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيّ التَّابِعِيَّ فَإِنَّهُمْ مَنَعُوهُ
“Pendapat bolehnya tayammum untuk hadats besar ini merupakan madzhab kami dan juga semua ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang setelah mereka kecuali Umar bin Khatthab, Abdullah bin Mas’ud, dan seorang tabi’in Ibrahim an-Nakha’i yang tidak memperbolehkan.” (Idem, II/240)
— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Penggalan pembahasan hadits pertama Bab Tayammum dari Umdatul Ahkam]
