HUKUM MENELAN MAKANAN DI MULUT SAAT PUASA

1 menit baca
HUKUM MENELAN MAKANAN DI MULUT SAAT PUASA
HUKUM MENELAN MAKANAN DI MULUT SAAT PUASA

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

نُفَطِّرُهُ بِمَا بَيْنَ أَسْنَانِهِ، إذَا كَانَ يَقْدِرُ عَلَى طَرْحِهِ

“Kami berpendapat puasa seseorang batal apabila dia menelan makanan yang berada di antara giginya jika masih bisa dikeluarkan.” (Al-Umm, 2/106)

• Memperjelas ini, Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

وَمَنْ أَصْبَحَ بَيْنَ أَسْنَانِهِ طَعَامٌ؛ لَمْ يَخْلُ مِنْ حَالَيْنِ: أَحَدُهُمَا؛ أَنْ يَكُونَ يَسِيرًا لَا يُمْكِنْهُ لَفْظُهُ، فَازْدَرَدَهُ، فَإِنَّهُ لَا يُفْطِرُ بِهِ؛ لِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ مِنْهُ، فَأَشْبَهَ الرِّيقَ، قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: أَجْمَعَ عَلَى ذَلِكَ أَهْلُ الْعِلْمِ
الثَّانِي، أَنْ يَكُونَ كَثِيرًا يُمْكِنُ لَفْظُهُ، فَإِنْ لَفَظَهُ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ، وَإِنْ ازْدَرَدَهُ عَامِدًا، فَسَدَ صَوْمُهُ فِي قَوْلِ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ

“Orang yang telah memasuki waktu puasa dalam keadaan di giginya terdapat sisa makanan; maka kondisinya tidak keluar dari dua keadaan;

– yang pertama, sisa makanan itu sedikit dan tidak mungkin dikeluarkan [menyatu dengan air liur] lantas dia telan, maka puasanya tidak batal; karena tidak mungkin bisa dihindari, secara hukum mirip seperti air liur. Ibnu Mundzir berkata, ‘Ulama sepakat di atas hal ini.’

– keadaan kedua, makanan itu banyak dalam arti bisa dibuang, apabila dia buang maka puasanya aman; tapi apabila dia telan dengan sengaja maka puasanya batal menurut pendapat mayoritas ulama.” (Al-Mughni, 3/126)

— Hari Ahadi
— Draft buku “Panduan Ibadah di Bulan Suci”