HUKUM MINUM SAMBIL BERDIRI Bag.2

2 menit baca
HUKUM MINUM SAMBIL BERDIRI Bag.2
HUKUM MINUM SAMBIL BERDIRI Bag.2

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menerangkan,

وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ الشُّرْبُ قَاعِدًا، هَذَا كَانَ هَدْيَهُ الْمُعْتَادَ

“Termasuk bimbingan Nabi ﷺ ialah minum dengan posisi duduk. Inilah yang menjadi kebiasaan beliau.” (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril ‘Ibad, IV/209)

Di samping itu, minum sambil berdiri memiliki sejumlah dampak yang kurang baik jika dilakukan terus menerus.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَلِلشُّرْبِ قَائِمًا آفَاتٌ عَدِيدَةٌ مِنْهَا: أَنَّهُ لَا يَحْصُلُ بِهِ الرِّيُّ التَّامُّ،.. وَيَنْزِلَ بِسُرْعَةٍ وَحِدَّةٍ إِلَى الْمَعِدَةِ فَيُخْشَى مِنْهُ أَنْ يُبَرِّدَ حَرَارَتَهَا، وَيُشَوِّشَهَا، وَيُسْرِعَ النُّفُوذَ إِلَى أَسْفَلِ الْبَدَنِ بِغَيْرِ تَدْرِيجٍ، وَكُلُّ هَذَا يَضُرُّ بِالشَّارِبِ، وَأَمَّا إِذَا فَعَلَهُ نَادِرًا أَوْ لِحَاجَةٍ لَمْ يَضُرَّهُ

“Minum sambil berdiri memiliki beberapa dampak negatif, di antaranya:

– Menjadi tidak tercapai rasa lega yang maksimal..
– Air jadi turun dengan cepat dan kuat menuju perut, sehingga dikhawatirkan dapat mendinginkan kehangatan sistem pencernaan dan mengganggunya.
– Dan akan menyebabkan turunnya air ke bagian bawah tubuh dengan cepat secara langsung.

Ini semua dapat membahayakan orang yang minum. Tetapi jika jarang dilakukan atau hanya pada saat diperlukan, maka tidak berbahaya.” (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril ‘Ibad, IV/210)

Sebagai tambahan, hukum makruh ini hilang pada saat ada kebutuhan untuk minum sambil berdiri, artinya benar-benar boleh, tanpa ada unsur makruh sama sekali, atau ketika ada tujuan baik yang diinginkan.

Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah menerangkan,

الشرب قائمًا مكروه إلا لحاجة أو مصلحة، هذا هو القول الراجح في هذه المسألة، أنه مكروه إلا لحاجة، أو مصلحة
فالحاجة: مثل أن يكون المكان ضيقا لا يستطيع الجلوس، أو يكون الإناء الذي يشرب منه مرتفعا، كما يوجد الآن في بعض المبردات، فيها كئوس، نرى فيه أنه لا يستطيع الإنسان أن يشرب وهو قاعد.
والمصلحة: مثل أن يشرب قائما حتى يراه الناس ويتأسوا به في شربه؛ لأن المشروع في الشرب أن يشرب بثلاثة أنفاس، وأن يمص الماء مصا، ولا يعبه عبا

“Minum sambil berdiri hukumnya makruh, kecuali jika saat diperlukan atau ketika ada maslahatnya. Ini pendapat yang kuat dalam masalah ini, yaitu makruh kecuali saat diperlukan atau ada manfaatnya.

Kondisi diperlukan: Seperti jika keadaan sedang penuh sesak sehingga dia tidak mampu duduk, atau letak wadah air berada di tempat yang tinggi, sebagaimana wadah pendingin yang ada saat ini yang (terikat) di situ gelas-gelas, kita melihat bahwa seseorang tidak bisa minum sambil duduk dengan menggunakan gelas tersebut [di kondisi-kondisi ini boleh minum sambil berdiri].

Sedangkan kondisi yang (boleh minum sambil berdiri) saat ada manfaat: Umpamanya dia minum sambil berdiri dengan tujuan agar orang melihatnya dan bisa mencontohnya dalam (menjalankan sunnah) ketika minum. Karena yang disyariatkan pada saat minum ialah bernafas tiga kali (di luar gelas), meneguk secara perlahan, tidak ditelan sekaligus.” (Syarah Shahih Muslim, VI/428)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Penggalan pembahasan hadits ke 11 Kitab al-Jami’ dari Bulughul Maram]