![]() |
| LARANGAN MENGGUNAKAN SATU ALAS KAKI SAJA Bag.2 |
3. Terlarangnya menggunakan alas kaki hanya pada satu kaki.
Di hadits yang lain disebutkan alasannya,
إنَّ الشَّيطانَ يَمْشي بالنَّعلِ الواحدةِ
“Sesungguhnya setan berjalan dengan satu sandal.” -SANADNYA SHAHIH- (Ash-Shahihah, 348) H.R. Ath-Thahawi (Musykil al-Atsar, 1358)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menerangkan,
ويستثنى من ذلك ما إذا كان هناك ضرورة، مثل أن تكون إحدى الرجلين فيها جروح لا يتمكن معها من لبس النعل، فهنا نقول: لا بأس أن تمشي بنعل واحدة من أجل الضرورة.. فإن قال قائل: ما الحكمة من ذلك؟
قلنا: ذهب بعض أهل العلم إلى أن الحكمة من ذلك هو العدل بين أعضاء البدن، فلا يمكن أن نجعل بعض البدن منتعلا وبعضه حافيا .
“.. Dikecualikan apabila kondisinya memang mengharuskan.
Seumpama salah satu kaki mengalami luka sehingga tidak memungkinkan untuk menggunakan sandal, di kondisi ini kami katakan, ‘Tidak masalah kamu menggunakan satu sandal saja disebabkan kondisi yang darurat..’
Jika ada yang bertanya, ‘Apa hikmah larangan tersebut?’
Kami jawab, ‘Sebagian ulama berpendapat bahwa hikmahnya ialah agar adil terhadap anggota badan sehingga kurang pas jika yang satu menggunakan sandal dan satunya tidak’.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, XV/68-69)
Di tempat lain,
Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah menambahkan,
لأن البدن يتضرر إذا لبست إحداهما دون الأخرى؛ فإن الدورة الدموية لا بد أن تكون متوازنة، ولذلك نهى عن جلوس الإنسان بين الشمس والظل؛ لأنه إذا جلس بين الشمس والظل انتقل الدم من منطقة باردة إلى منطقة حارة، وبالعكس، وحصل في هذا ضرر
“.. Tubuh akan terserang bahaya jika kamu hanya menggunakan satu sandal saja, sebab peredaran darah itu harusnya seimbang. Karena ini pula, seseorang dilarang duduk antara (cahaya) matahari dan tempat yang teduh. Karena jika dia duduk antara (paparan sinar) matahari dan tempat yang teduh, maka darah akan berjalan dari bagian (tubuh) yang dingin menuju bagian yang panas, dan juga sebaliknya, dari hal itu dapat membahayakan.” (Asy-Syarh al-Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram, III/658)
4. Larangan ini berlaku untuk sandal dan juga pakaian, demikian yang diterangkan oleh Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin, seumpama ada yang mengenakan jaketnya hanya pada satu tangan, maka ini juga terlarang. Adapun bila wanita menggunakan gelang hanya di satu tangan, misalnya, maka ini tidak masuk.
Asy-Syaikh al-‘Utsaimin berkata,
فإن قيل: وهل من ذلك لبس المرأة للحلي في يد دون الأخرى، أو لبس السماعة في أذن دون أخرى، أو لبس نظارة في عين دون أخرى؟ نقول: الشيء الذي تیقنا من دخوله في هذا هو ما ورد في الحدي، وهو المشي، ولا فرق فيه بين التعل والخف، وما عدا ذلك فإلحاقه فيه نظر فيبقى على الأصل وهو الج
“Jika ada yang bertanya, apakah masuk dalam larangan jika wanita hanya menggunakan perhiasan di satu tangannya saja, atau menggunakan alat mendengar hanya di satu telinga saja, atau yang menggunakan satu kaca mata hanya untuk satu matanya saja?
Kami sampaikan, bahwa yang kita yakini, hukum yang masuk dalam larangan ini ialah tentang berjalan (dengan satu alas kaki), tidak ada bedanya antara sandal atau sepatu. Adapun selain ini, maka untuk menyamakan hukumnya perlu ditinjau kembali. Sehingga tetap pada hukum asalnya, yaitu boleh.” (Syarah Shahih al-Bukhari, VII/527)
— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Penggalan pembahasan hadits ke 13 Kitab al-Jami’ dari Bulughul Maram]
