![]() |
| NAFKAH UNTUK YANG DITINGGALKAN |
Safar bukan hanya urusan berangkat saja. Meninggalkan nafkah yang cukup untuk pihak-pihak yang wajib dinafkahi juga menjadi keharusan yang mesti diperhatikan sebelum berangkat.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ إثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Telah berdosa orang yang menelantarkan nafkah pihak yang harus dia nafkahi.” -SHAHIH- (Irwa’ al-Ghalil, 894) HR. Abu Dawud (1692)
Bahkan sekalipun berniat ibadah, seseorang tidak dibenarkan pergi meninggalkan anak istrinya tanpa nafkah yang cukup.
Maula-nya Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kepada beliau,
إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُقِيمَ هَذَا الشَّهْرَ هَاهُنَا بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ؟
“Saya ingin menetap selama bulan ini di Baitul Maqdis.”
Abdullah bin Amr lalu menanyakan,
تَرَكْتَ لِأَهْلِكَ مَا يَقُوتُهُمْ هَذَا الشَّهْرَ؟
“Apakah kamu sudah menyiapkan nafkah yang cukup untuk keluargamu?”
Dia menjawab, ‘Belum.’ Lalu Abdullah bin Amr menasihatkan,
فَارْجِعْ إِلَى أَهْلِكَ، فَاتْرُكْ لَهُمْ مَا يَقُوتُهُمْ ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضِيعَ مَنْ يَقُوتُ “
“Pulang kembali pada keluargamu! Dan tinggalkan untuk mereka nafkah yang cukup. Karena saya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Telah berdosa orang yang menelantarkan nafkah pihak yang harus dia nafkahi.’.” -SHAHIH- (Tahqiq al-Musnad) HR. Ahmad (6842)
Bahkan, Al-Allamah Muhammad al-Utsaimin berkata,
فيؤخذ من هذا أن إضاعة من يقوت من كبائر الذنوب
“Diambil dari sini, bahwa ketika seseorang mengabaikan nafkah pihak-pihak yang wajib dia nafkahi, ini tergolong perbuatan dosa besar.” (Fath Dzil Jalali wal Ikram, XII/416)
— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Draft buku Bekal Muslim dalam Perjalanan]
