TAUBAT NASUHA

2 menit baca
TAUBAT NASUHA
TAUBAT NASUHA

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha.” QS. At-Tahrim: 8

Imam al-Qurozhi rahimahullah berkata,

يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ وَالْإِقْلَاعُ بِالْأَبْدَانِ وَإِضْمَارُ تَرْكِ الْعَوْدِ بِالْجَنَانِ وَمُهَاجَرَةُ سَيِّئِ الْإِخْوَانِ

“Taubat nasuha menghimpun empat amalan;
– beristighfar dengan lisan,
– meninggalkan maksiat dengan anggota badan,
– bertekad di dalam hati untuk tidak lagi mengulang kemaksiatan,
– dan tidak menjadikan orang-orang jelek sebagai teman.” (Ma’alim at-Tanzil, VIII/169)

Dari Al-Agharr bin Yasar al-Muzani radhiyallahu ‘anhu,

Rasulullah ﷺ bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلى اللهِ واسْتَغْفِرُوهُ، فإنِّي أتُوبُ في اليَومِ مائةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia! Bertaubat dan beristighfar-lah kalian kepada Allah. Karena sesungguhnya saya bertaubat seratus kali dalam sehari.” HR. Muslim (2702)

Al-Allamah Abul Abbas Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata,

والتوبة واجبة على الدوام، فإن الإنسان لا يخلو عن معصية، لو خلا عن معصية بالجوارح لم يخل عن الهم بالذنب بقلبه، وإن خلا عن ذلك، لم يخل عن وسواس الشيطان بإيراد الخواطر المتفرقة المذهلة عن ذكر الله تعالى، لو خلا عنه لم يخل عن غفلة وقصور في العلم بالله تعالى وصفاته وأفعاله، وكل ذلك نقص، ولا يسلم أحد من هذا النقص، وإنما الخلق يتفاوتون في المقادير، وأما أصل ذلك، فلا بد منه

“Taubat wajib untuk dilakukan terus-menerus, karena tidak ada orang yang terbebas dari maksiat. Kalaupun dia terbebas dari maksiat anggota badan maka;

– tidak lepas hatinya dari keinginan untuk berbuat dosa,
– jika bersih dari hal itu juga, maka tidak kosong hatinya dari bisikan-bisikan setan setan yang memunculkan beraneka ragam pikiran pikiran ragam pikiran pikiran yang membuat lalai dari mengingat Allah,
– kalau pun juga bersih dari hal ini, maka tidak kosong seseorang dari kelalaian dan kekurangan dalam mengenal Allah, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya.

Yang ini semuanya merupakan bentuk kekurangan. Tidak ada satupun manusia yang terbebas dari kekurangan ini. Meski mereka berbeda-beda dalam hal ukurannya. Adapun pada keberadaan kekurangan ini maka setiap orang memilikinya.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hlm. 256)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Mutiara Hikmah Salafus Shalih || Taubat]