![]() |
| TAKBIR HARI RAYA |
Ketika bulan suci ramadhan mencapai ujungnya; Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk membesarkan dan mengagungkan-Nya (bertakbir), pengagungan tulus dari hati dan teralirkan di lisan.
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (bulan ramadhan); dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 185)
- KAPAN TAKBIR IDUL FITHRI DIMULAI
Dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Sebagian menyatakan bahwa :
- Takbir dimulai saat malam hari raya. Inilah yang jadi pendapat Syafi’iyah, dan sebelum mereka ada Sa’id bin Musayyib, Abu Salamah, dan ‘Urwah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Al Fatawa, XXIV/221) dan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahumallah juga memilih pendapat ini (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, XVI/271)
Sedang pendapat lain mengatakan :
- Takbir dimulai saat berangkat menuju shalat ‘id.
[su_spoiler title=”Selanjutnya” style=”fancy” icon=”caret-square”]
Al ‘Allamah Ibnu Rusyd (dalam Bidayah Al Mujtahid, I/500) dan Al Hafizh An Nawawi rahimahumallah, menyandarkan pendapat kedua -takbir dimulai saat berangkat shalat ‘id- kepada mayoritas ulama.** Disebutkan dalam Al-Majmu’ (V/48) oleh Imam Nawawi rahimahullah,
وقال جمهور العلماء: لا يكبر ليلة العيد إنما يكبر عند الغدو إلى صلاة العيد , حكاه ابن المنذر عن أكثر العلماء قال : وبه أقول , قال : وبه قال علي بن أبي طالب وابن عمر وأبو أمامة وآخرون من الصحابة , وعبد الرحمن بن أبي ليلى وسعيد بن جبير والنخعي وأبو الزناد وعمر بن عبد العزيز وأبان بن عثمان وأبو بكر بن محمد والحكم وحماد ومالك وأحمد وإسحاق وأبو ثور , وحكاه الأوزاعي عن الناس
“Mayoritas ulama mengatakan, ‘Malam hari raya tidak ada takbiran. Baru mulai takbir di saat berangkat menuju shalat ‘id.’ Ibnul Mundzir telah menghikayatkan pendapat ini dari kebanyakan ulama, lalu beliau berkata, ‘Pendapat ini yang saya pilih.’
Lebih lanjut, Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan, ‘Pendapat ini dipilih oleh Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Umamah, dan sejumlah sahabat nabi yang lain. Juga menjadi pendapat Abdurrahman bin Abi Laila, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakha’i, Abuz Zinad, Umar bin Abdil ‘Aziiz, Abaan bin ‘Utsman … Malik bin Anas, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur…” (Selesai dari Al-Majmu’)
Bila kita melihat kepada yang diamalkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat beliau, nampaknya –wallahu a’lam-, pendapat mayoritas ulama ialah pendapat yang benar. Berikut sejumlah dalil yang menunjukkan hal itu :
- Riwayat dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah,
كان صلى الله عليه وسلم يخرج يوم الفطر فيكبر حتى يأتي المصلى، وحتى يقضي الصلاة، فإذا قضى الصلاة ؛ قطع التكبير
“Adalah Rasulullah ﷺ bila berangkat menuju shalat ‘idul fithri; beliau bertakbir hingga datang ke lapangan shalat. Dan terus bertakbir hingga shalat; ketika shalat ‘id selesai baru beliau menghentikan takbir.” (baca takhrij riwayat ini dalam Ash-Shahiihah no. 171)
- Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج فى العيدين مع الفضل بن عباس وعبد الله والعباس وعلي وجعفر والحسن والحسين وأسامة بن زيد , وزيد بن حارثة وأيمن بن أم أيمن رضى الله عنهم رافعا صوته بالتهليل والتكبير
“Rasulullah ﷺ pernah pergi shalat ‘id bersama dengan Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al Abbas, Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummu Ayman -radhiyallahu ‘anhum-. Sembari beliau mengeraskan suaranya dalam bertahlil dan bertakbir.” HR. Al-Baihaqi, III/279 (baca : Al Irwa’, III/123)
Terlihat dalam dua riwayat di atas, bahwa takbirnya Rasulullah ﷺ ialah saat berangkat ke lapangan. Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah, juga condong pada pendapat ini (lihat : Qom’ul Mu’anid, II/366-367).
Sedikit mirip dengan ini, ialah pendapat Syaikh Al Albani rahimahullah yang menyatakan bahwa takbir idul fithri dimulai dari ba’da shalat shubh. (Jaami’ At-Turats fi Al Fiqh, VI/266). Yang itu merupakan waktu awal berangkat menuju lapangan shalat ‘id.
- KESIMPULAN & CATATAN :
- Yang lebih nampak, bahwa takbir dimulai di saat berangkat menuju lapangan sampai dikerjakannya shalat ‘id. Meski demikian, tidak diingkari pihak yang mengambil pendapat pertama.
- Sengaja kami membawakan perselisihan ulama di sini agar diketahui, bahwa bukan satu pendapat saja yang ada dalam masalah ini.
- Sejumlah dalil yang dikemukakan oleh pendapat pertama sengaja tidak kami sebutkan dalam rangka menyederhanakan pembahasan.
— Arsip Tulisan Lama
— Hari Ahadi[/su_spoiler]
