Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang amalan yang paling utama. Maka beliau menjawab:

.أفضلُ الأعمالِ أن تُدخِلَ على أخيك المؤمنِ سرورًا ، أو تقضى عنه دَيْنًا ، أو تطعمَه خبزًا

“[1] Kamu membuat bahagia saudaramu mu’min, atau [2] kamu melunasi utangnya, atau [3] kamu memberi makan dia roti.” -SHAHIH- (Shahih Al Jami’, 1096) HR. Al Baihaqi (Asy-Syu’ab, 7678), Ath-Thabrani (Makarim Al Akhlak, 91)

Membuat bahagia saudara kita bisa dilakukan dengan cara apapun, bisa dengan:
– ucapan [namun tidak boleh membuat senang dan tertawa saudara kita dengan cara men-ghibah atau mengejek orang lain],
– pemberian,
– atau dengan tenaga yang bisa meringankan pekerjaannya, dll.

Sedangkan point memberi makan, dijelaskan oleh Al Allamah Al Munawi rahimahullah:

أَو تطعمه خبْزًا) فَمَا فَوْقه من نَحْو لحم أفضل وَإِنَّمَا خص الْخبز لعُمُوم وجوده حَتَّى لَا يبْقى للْإنْسَان عذر فِي ترك الْإِطْعَام)

“Sabda Nabi ﷺ (kamu memberi makan dia roti); maka berarti yang lebih dari roti tentu lebih utama lagi, seperti daging umpamanya. Disebutkannya ‘roti’, karena keberadaannya yang sangat umum¹. Sehingga tidak menyisakan udzur lagi bagi seseorang untuk tidak memberi makan roti (bagi saudaranya, pent).” (At-Taisir, I/180)

¹ Bila kita di Indonesia ini, nasi.

Masyaallah. Alangkah indah ajaran Islam.

— Ma’had Ibnul Mubarak @ Kota Tepian
— Hari Ahadi, (15:11) 15 Rabi’ul Akhir 1440 / 22 Desember 2018

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا عَمِلْتَ سيئةً فأتبِعْهَا حسنةً تَمحُهَا

“Bila kamu melakukan suatu kejelekan; susulkanlah dengan perbuatan kebaikan; niscaya kebaikan itu akan menghapuskan dosanya.”

Lalu aku bertanya,

قلتُ يا رسولَ اللهِ ! أمِنَ الحسَناتِ لا إلهَ إلَّا اللهُ؟

‘Wahai Rasulullah, apakah laa ilaaha illallah juga termasuk kebaikan?’

هيَ أفضَلُ الحسَناتِ.

‘(Bahkan) laa ilaaha illallah ialah kebaikan yang terbaik.’ Jawab beliau ﷺ.” -SHAHIH- (Shahih At-Targhib, 3162) HR. Ahmad (21525)

Di samping memperbanyak mengulang dzikir kalimat tauhid [ laa ilaaha illallah ] ini, penting pula untuk menghadirkan hati saat membacanya.

Meyakini bahwa hanya dan hanya Allah yang berhak untuk disembah dan diibadahi. Semua yang diserahi ibadah -dari selain Allah- maka itu batil. Semoga bisa menjadikan kita rajin membaca dzikir teragung ini.

— Ma’had Ibnul Mubarak @ Kota Tepian
— Hari Ahadi, (14:38) 15 Rabi’ul Akhir 1440 / 22 Desember 2018