JADILAH YANG WANGI AROMANYA DAN MANIS RASANYA

2 menit baca
JADILAH YANG WANGI AROMANYA DAN MANIS RASANYA
JADILAH YANG WANGI AROMANYA DAN MANIS RASANYA

وعن أَبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ: رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ: لا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يقرأ القرآنَ كَمَثلِ الرَّيحانَةِ: ريحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ: لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ)). متفقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

‘Rasulullah ﷺ bersabda,

“Perumpamaan orang beriman yang membaca Al-Qur’an ialah bagaikan buah Utrujjah, yang aromanya wangi dan rasanya lezat. Sedangkan orang beriman yang tidak membaca Al-Qur’an, maka ia layaknya kurma, tidak beraroma tetapi manis rasanya.

Lalu permisalan bagi orang munafik yang membaca Al-Qur’an ialah seperti raihan, baunya wangi tetapi rasanya pahit. Dan permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah hazhalah, tidak wangi dan pahit pula rasanya.” HR. Al-Bukhari (5427) dan Muslim (797)

Menjelaskan riwayat ini, Imam ash-Shan’ani rahimahullah berkata,

“• ‘Perumpamaan orang beriman yang membaca Al-Qur’an’ yakni membaca lewat hafalan atau dengan melihat mushaf ‘ialah bagaikan buah Utrujjah’ .. ‘yang aromanya wangi dan rasanya lezat’ hal itu karena saat orang beriman membaca Al-Qur’an maka ia wangi aromanya [karena nyaman didengar bacaannya].

Dan jika ia sedang tidak membaca Al-Qur’an, maka manis pergaulannya, ucapannya, dan nyaman saat berkumpul bersamanya, karena dia menjalankan adab-adab dalam Al-Qur’an. Sehingga [karena manisnya ia dalam hal-hal ini], seakan seperti sesuatu yang dimakan..

• ‘Sedangkan orang beriman yang tidak membaca Al-Qur’an, maka ia layaknya kurma, tidak beraroma…’ Artinya, tidak ada semerbak wangi yang muncul dari bacaan Al-Qur’an. ‘.. tetapi manis rasanya’ dikarenakan ia manis dalam berinteraksi dan bergaul.

• ‘Lalu permisalan bagi orang munafik yang membaca Al-Qur’an ialah seperti raihan, baunya wangi tetapi rasanya pahit.’ aroma bacaannya tercium wangi namun rasanya pahit, karena kemunafikan ialah kekafiran yang disembunyikan. Rasa manis hanya muncul dari keimanan, sedangkan orang munafik yang membaca Al-Qur’an, aroma manis bacaannya tidak melewati pita suaranya [tidak turun ke hati].

• ‘Dan permisalan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah hazhalah, tidak wangi dan pahit pula rasanya.’

Keempat perumpamaan ini sangat dalam dan menakjubkan, yang tidak mungkin berasal kecuali dari orang yang telah Allah sempurnakan dengan menjadi seorang Rasul.” (At-Tanwir, IX/535-536)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi [Pembahasan hadits-hadits Bab Keutamaan Beragam Amal Shalih || Kitab Riyadhus Shalihin]