Bahkan pun bila rasa sayang dan kasihan itu tertuju pada hewan yang akan disembelih.

Dari Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَحِمَ وَلَو ذَبِيحَةَ عُصْفُورٍ رَحِمَهُ اللهُ يومَ القيامَةِ

“Siapa yang mengasihani seekor burung yang akan disembelih¹; maka Allah akan merahmatinya² pada hari kiamat.” -HASAN- (Shahih Al Jami’, 6261) HR. Al Bukhari (Al Adab Al Mufrod, 381)

¹ Bila dia sendiri yang akan menyembelihnya; itu terwujud dengan menajamkan pisaunya namun tidak di hadapan hewan tersebut. (Syarah Al Adab Al Mufrod Syaikh Muhammad Ruslan, II/1715)

Hal demikian ini otomatis akan dilakukan oleh orang yang memiliki rasa kasihan dan rahmat pada hewan.

² Rahmat Allah pada hamba itu berarti Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Jadi ini balasan yang tidak main-main.

Jika seperti ini janji bagi mereka yang sayang pada hewan; lantas bagaimana lagi besarnya pahala untuk mereka yang peduli pada sesamanya.

— Masjid Abu Hurairah @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (18:.) 26 Jumadil Awal 1440 / 01 Februari 2019

Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ومن أعظم الكذب: ما يفعله بعض الناس اليوم، يأتي بالمقالة كاذبًا يعلم أنها كذب، لكن من أجل أن يُضحك الناس

“Termasuk kebohongan paling besar adalah yang dilakukan sebagian orang di zaman sekarang. Yaitu dia menyampaikan sebuah hal bohong yang dia tahu itu kebohongan; supaya orang tertawa.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/296)

Baca juga tentang ini di : https://t.me/nasehatetam/1772

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (13:05) 24 Jumadil Awal 1440 / 30 Januari 2019

Kita memang belum melihat pahala apa yang Allah persiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang mendapatkan musibah lalu menyikapinya dengan kesabaran.

Namun Nabi Muhammad ﷺ memberikan sedikit gambaran tentang betapa besarnya pahala untuk mereka.

Saking besarnya pahala mereka, orang-orang yang sehat dan aman dari ujian di dunia ini berangan-angan agar dapat ujian yang sangat pedih supaya juga dapat pahala besar tersebut. Berikut ini riwayatnya.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَوَدُّ أهلُ العافيةِ يومَ القيامةِ – حين يُعْطَى أهلُ البلاءِ الثوابَ – لو أن جُلُودَهم كانت قُرِضَتْ في الدنيا بالمَقارِيضِ

“Pada hari kiamat nanti -ketika orang-orang yang kena musibah diberi pahala-; mereka yang aman dari musibah sangat ingin andaikata di dunia dulu kulit mereka dipotong-potong dengan gunting.” -HASAN LI GHAIRIH- (Takhrij Al Misykah, 1514) HR. At-Tirmidzi (2402), Ath-Thabrani (Ash-Shagir, 241)

Karena kaum shalih terdahulu memahami benar hakikat ini, mereka pun justru suka terhadap musibah yang mengenai mereka. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

وقد كان السلف يفرحون بالمصائب نظرًا إلى ثوابها قال أبو الدرداء رضي الله عنه : ثلاث يكرههن الناس وأحبّهن الفقر والمرض والموت

“Kaum salaf dahulu, mereka gembira terhadap musibah karena melihat pada pahala di baliknya. Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu menyatakan, ‘Tiga perkara yang dibenci oleh orang-orang namun aku menyukainya; kemiskinan, sakit, dan kematian’.” (At-Tabshiroh, hlm. 762)

Bukan artinya musibah itu ditunggu-tunggu, tapi saat datang, kepedihannya cepat berlalu dari mereka karena ingat besarnya pahala. Semoga kita bisa terapkan ini.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:48) 25 Jumadil Awal 1440 / 31 Januari 2019

Malik bin Dinar rahimahullah mengatakan:

البكاء على الذنوب يحط الخطيئة كما تحطّ الريح الورق اليابس.

“Menangis saat mengingat dosa bisa menggugurkan kesalahan sebagaimana angin menggugurkan daun-daun kering.” (At-Tabshiroh oleh Ibnul Jauzi, hlm. 791)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (08:57) 25 Jumadil Awal 1440 / 31 Januari 2019

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

أنّ الصّادق هو الذي له العاقبة، والكاذب هو الذي يكونُ عمله هباء. ولهذا يُذكر أنّ بعض العامة قال: إنَّ الكذب ينجي، فقال له أخوه: الصدتُ انجى وانجى . وهذا صحيح

“Sesungguhnya orang yang jujurlah yang akan menuai hasil akhir yang baik. Dan orang yang berbohong; kesudahan urusannya menjadi debu (kehancuran).

Oleh sebab itu, dikisahkan bahwa sebagian orang awam berkata, ‘Sesungguhnya bohong itu bisa menyelamatkan.’

Maka saudaranya berkata, ‘Tapi kejujuran, jauh dan jauh lebih menyelamatkan!’. Dan pernyataan ini yang tepat.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/293)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (12:20) 24 Jumadil Awal 1440 / 30 Januari 2019

Mengapa jika sanggup? Karena bila mengakibatkan malas dan justru malah jadi tidak shalat sunnah sama sekali dikarenakan banyak penghalang jika pulang ke rumah; maka tentu saja dikerjakan di masjid jadi lebih baik baginya.

Sedang jika sanggup, jelas saja di rumah itu yang terbaik. Simak tiga hadits berikut ini.

[1] . Dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

صلاةُ الرجلِ تطوعا حيثُ لا يراهُ الناسُ تعدلُ صلاتَه على أعيُن الناسِ خمسا وعشرين

“Shalat sunnah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat oleh manusia; itu sebanding dengan dua puluh lima kali shalat sunnahnya di tengah orang-orang.” -SHAHIH- (Shahih Al Jami’, 3821) HR. Ad-Dailami (II/244)

[2] . Dan tersebut satu hadits lain semakna dengan ini, kata Nabi Muhammad ﷺ:

تطوُّعُ الرجل في بيتِهِ يزيدُ على تطوُّعِه عندَ الناس، كفضْلِ صلاة الرجل في جماعةٍ على صلاتهِ وحدَه

“Shalat sunnah seseorang di rumahnya lebih utama daripada shalat sunnah yang dikerjakannya di tengah manusia. Seperti keutamaan shalat berjama’ah di atas shalat sendirian.” -SHAHIH- (Ash-Shahihah, 3149) HR. Ibnu Abi Syaibah (II/256)

[3] . Lantaran banyak manfaat¹ bila shalat sunnah itu dikerjakan di rumah, Rasulullah ﷺ memesankan hal ini kepada umatnya:

لا تتركوا النوافل فيها

“Jangan tinggalkan pengerjaan shalat sunnah di rumah-rumah.” -HASAN LI GHAIRIH- (Ash-Shahihah, 1910) HR. Ad-Dailami (II/141)

¹ Seperti: lebih mudah untuk ikhlas, menghidupkan rumah dengan ibadah, dan memberi contoh baik pada istri dan anak-anak.

Bila kita muslim, semoga bisa diamalkan. Sedang jika muslimah, harapannya bisa memotivasi suami atau saudara laki-lakinya untuk mengisi rumah dengan shalat sunnah.

— Masjid Darul Ilmi – Ma’had Ibnul Mubarak @ Kota Tepian
— Hari Ahadi, (12:06) 21 Jumadil Awal 1440 / 27 Januari 2019

Boleh jadi, amalan yang langsung kita lupakan [ karena dianggap hanya amalan sepele ] malah jadi sumber kebahagiaan abadi kita. Siapa yang tahu. Hadits berikut ini jadi bukti sahih.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sesungguhnya aku telah melihat seseorang yang bernikmat-nikmat di dalam surga disebabkan dia menyingkirkan pohon yang terbentang di tengah jalan yang mengganggu orang-orang.” HR. Muslim (1914)

Oleh sebab itu, sangat wajar jika Rasulullah ﷺ melarang kita meremehkan satupun kebaikan. Sebab memang, kita tidak pernah tahu mana di antara amal kita yang mendatangkan rahmat Allah hingga akhirnya kita dimasukkan ke surga.

Resapi pernyataan Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berikut ini, semoga kita bisa mengambil manfaatnya:

فلا ينبغي للمؤمن العاقل أن يحتقر شيئاً من أعمال البرّ، فربما غفر له بأقلّها

“Tidak pantas bagi seorang mu’min yang berakal untuk ia meremehkan satu amal kebaikan pun. Boleh jadi ia dapat ampunan dengan sebab amalannya yang paling ringan.” (At-Tamhid, XXII/12 melalui Al Bahr Al Muhith Ats-Tsajaj, XLI/104)

Wallahul muwaffiq.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (11:40) 23 Jumadil Awal 1440 / 29 Januari 2019

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah mengatakan :

الله أكبر!؛هذه العبادات فيها مصالح للعباد ، المرء يتوضأ :يغسل يديه فتسقط كل خطيئة اكتسبها بيديه، ويغسل وجهه فتسقط كل خطيئة نظر إليها بعينه . وإذا ختم الوضوء هذا بقوله :أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله ، فتحت له أبواب الجنة ، ألا ترى هذه مصلحة الوضوء فكيف بالصلاة، وكيف بالزكاة، كيف بسائر العبادات ، فما يشرع الله لعباده من أمر إلا لحكمة وإلا لمصالح عباده -سبحانه وتعالى

”Allahu akbar! Dalam ibadah-ibadah yang ada terdapat kemaslahatan untuk para hamba. Ketika seseorang berwudhu; saat dia mencuci tangannya maka berjatuhan semua dosa yang diperbuat oleh tangannya.

Saat dia membasuh wajahnya; berjatuhan semua dosa yang berasal dari pandangannya…

Dan bila selesai wudhu dia membaca, ‘Asyhadul allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah’ dibukakan untuknya pintu-pintu surga.

Bagaimana pendapatmu bila keuntungan-keuntungan wudhu saja sudah seperti ini?

Lantas bagaimana lagi dengan shalat?! Zakat?! Dan ibadah-ibadah lainnya?! Tidak ada satupun ibadah yang Allah syari’atkan melainkan memiliki hikmah, memiliki banyak maslahat bagi hamba-hamba-Nya.” (Nafahatul Huda wal Iman, hlm. 30)

— Jalur MTS @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:00) 10 Rabi’ul Awal 1440 / 18 November 2018

Al Allamah Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ويحرم أن يسمي الإنسان بأسماء من خصائص أسماء الكفار، مثل جورج وما أشبه ذلك من الأسماء التي يتلقب بها الكفار؛ لأن هذا من باب التشبّه بهم، وقد قال النبي ﷺ «من تشبه بقوم فهو منهم

“Haram bagi seseorang memberi nama yang sifatnya milik khusus orang-orang kafir. Seperti, George, atau yang semisal ini dari nama-nama yang biasa tersemat pada orang kafir. Sebab masuknya ini pada perbuatan ‘menyerupai orang-orang kafir’. Nabi Muhammad ﷺ telah menyatakan [ berkenaan tentang ini ], «Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka».” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/265)

— Tenis Lapangan @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (21:11) 20 Jumadil Awal 1440 / 25 Januari 2019

Al Allamah Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa hukumnya tidak bisa dipukul rata. Tergantung pada siapa yang kita benci. Berikut uraian beliau:

فإذا كانت العداوة والبغضاء لأهل الإيمان، فهذا من كبائر الذنوب، وأما إذا كانت لأهل الكفر والنفاق، كان هذا من الإيمان بالله تعالى، وهو مطلوب كما قال تعالى: لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“[ 1 ] Jika sikap permusuhan dan benci ditujukan pada orang beriman; maka ini dosa besar!. Sedang [ 2 ] jika terarah pada orang kafir dan munafiq; maka yang demikian termasuk wujud iman kepada Allah sekaligus sesuatu yang harus ada.

Allah ta’ala berfirman terkait [ jenis kedua ] ini:

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat; saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” QS. Al Mujadilah : 22 -Syarah Kitab Al Kaba’ir, hlm. 83-

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (11:40) 22 Jumadil Awal 1440 / 28 Januari 2019