Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا عَمِلْتَ سيئةً فأتبِعْهَا حسنةً تَمحُهَا

“Bila kamu melakukan suatu kejelekan; susulkanlah dengan perbuatan kebaikan; niscaya kebaikan itu akan menghapuskan dosanya.”

Lalu aku bertanya,

قلتُ يا رسولَ اللهِ ! أمِنَ الحسَناتِ لا إلهَ إلَّا اللهُ؟

‘Wahai Rasulullah, apakah laa ilaaha illallah juga termasuk kebaikan?’

هيَ أفضَلُ الحسَناتِ.

‘(Bahkan) laa ilaaha illallah ialah kebaikan yang terbaik.’ Jawab beliau ﷺ.” -SHAHIH- (Shahih At-Targhib, 3162) HR. Ahmad (21525)

Di samping memperbanyak mengulang dzikir kalimat tauhid [ laa ilaaha illallah ] ini, penting pula untuk menghadirkan hati saat membacanya.

Meyakini bahwa hanya dan hanya Allah yang berhak untuk disembah dan diibadahi. Semua yang diserahi ibadah -dari selain Allah- maka itu batil. Semoga bisa menjadikan kita rajin membaca dzikir teragung ini.

— Ma’had Ibnul Mubarak @ Kota Tepian
— Hari Ahadi, (14:38) 15 Rabi’ul Akhir 1440 / 22 Desember 2018

Semangat ibadah. Itu lah salah satu dari hal yang agak mencolok dari kalangan yang mulai mengenal sunnah. Walhamdulillaah. Tapi ternyata, ada satu sisi ibadah yang juga tidak boleh kita lalaikan.

Dinukil dari sebagian ulama terdahulu :

أدركنا السلف وهم لا يرون العبادة في الصوم ولا في الصلاة، ولكن في الكف عن أعراض الناس

“Kami mendapati masa salaf, yang mana mereka tidak menganggap bahwa ibadah terletak pada puasa dan shalat sunnah. Namun pada sikap menahan lisan dari menjatuhkan orang lain.” (Al Ihya’, III/152)

Subhanallah. Benar bahwa puasa dan shalat sunnah ialah ibadah. Tapi kita pun harus sadar bahwa menjaga dan tidak menjatuhkan kehormatan saudara kita juga ibadah! Karenanya Rasulullah ﷺ bersabda :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim ialah tindak kefasikan.” HR. Al Bukhari (48) & Muslim (64)

Dan lebih terang dari itu,

إنَّ الدِّرْهَمَ يُصِيبُهُ الرجلُ من الرِّبا أَعْظَمُ عندَ اللهِ في الخَطِيئَةِ من سِتٍّ وثلاثِينَ زَنْيَةً يَزْنِيها الرجلُ ، وإِنَّ أَرْبَى الرِّبا عِرْضُ الرجلِ المسلمِ

“Sesungguhnya satu dirham yang didapatkan oleh seseorang melalui jalur riba; dosanya lebih besar di sisi Allah dari pada dosa tiga puluh enam kali berzina. Dan sesungguhnya riba yang paling berat ialah melecehkan kehormatan seorang muslim.” (Shahih at-Targhiib wa at-Tarhiib, 2831)

Semoga Allah memberikan taufiiq-Nya agar kita mampu mewujudkan nilai ibadah ini.

— Ma’had Darus Salaf, @Bontang

— Hari Ahadi, ba’da shubh di penghujung Syawal 1439 / 13 Juli 2018

Semua memerlukan proses. Dan proses ke arah lebih baik itu jangan lagi kita hambat dengan dosa.

Dunia sekarang seakan sangat sempit dengan adanya medsos. Semua orang bisa akrab meski tinggal berjauhan jarak. Sepakat? Tidak! No problem. Tapi itu realitanya.

Karenanya, bila ingin menggunakan medsos, silakan. Tapi jaga adab, jaga hati, jaga pandangan. Jangan sampai ‘kenakalan’ masa lalu terulang saat telah hijrah, meski objeknya beda, kan hakikatnya sama.

Mandangin dan mencari-cari gambar-gambar wanita berhijab yang memamerkan dirinya. Atau kasus sebaliknya, para Akhwat yang mencuri pandang ke sebagian Ikhwan yang sedang tampil di sebuah foto atau video.

Kita harus ingat, bahwa :

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Allah mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa saja yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir : 19)

Jangan sampai tertunduknya pandangan kita hanya ketika ada Ikhwan atau Akhwat di dekat kita.

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka.” (QS. An-Nisaa’ : 108)

Harapannya, semoga kita semua dibantu agar bisa hijrah secara kaffah.

— Masjid Abu Hurairah, @Kota Raja

— Hari Ahadi, ba’da ‘isya 17 Syawal 1439 / 30 Juni 2018

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah punya penjelasan bagus tentang hal ini. Berikut pernyataan beliau:

إذا رأيت أن المريض يحب أن تُطيل المقام عنده، فأطل
المقام؛ فأنت على خير وعلى أجر، فأطل المقام عنده، وأدخل عليه السرور، ربما يكون في دخول السّرور على قلبه سببًا لشفائه ؛ لأن سرور المريض وانشراح
صدره من أكبر أسباب الشفاء.

فإذا رأيت أنه يحبّك تبقى فابق عنده، وأطل الجلوس عنده حتى تعرف أنّه قد ملَّ.

أمَّا إذارأيت أن المريض متكلّف ولا يحب انك تبقى، أو يحب أن تذهب عنه حتى يحضر أهله ويأنس بهم فلا تتأخر، اسأل عن حاله ثم انصرف.

“Bila kamu memandang bahwa saudaramu yang sakit itu senang kamu duduk lama bersamanya; maka bertahanlah. Niscaya engkau berada dalam kebaikan dan limpahan pahala.

Perlamalah duduk bersamanya dan buat dia bahagia. Boleh jadi kebahagiaannya menjadi sebab dia sembuh. Karena kebahagiaan dan kelapangan yang dirasakan oleh orang sakit merupakan sebab terbesar dia jadi sembuh.

Maka bila kamu melihat dia masih suka kamu menemaninya maka bertahan dan perlamalah duduk bersamanya; hingga kamu lihat dia telah bosan.

Sedang jika kamu melihat dia merasa berat dan tidak suka kamu bertahan atau nampak dia ingin agar kamu pergi sehingga dia bisa bersama keluarganya dan menenteramkan hati bersama mereka; maka cukup tanyakan kabarnya lalu pamit.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/51)

Jadi sederhananya, lihat kondisi. Miliki kepekaan dari melihat bahasa tubuhnya. Semoga manfaat.