Berkata Maimun bin Siyah [ tabi’in ] rahimahullah:

إذا أراد الله بعبده خيرا حبب إليه ذكره

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya; maka Allah akan buat dia senang berdzikir.” (Tahdzib Al Hilyah, I/468 melalui Hayatus Salaf, hlm. 474)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (09:24) 28 Rabi’ul Akhir 1440 / 04 Januari 2019

Al Allamah Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah berkata:

فقد يكون جسم المرء دميماً ومحتقراً عند الناس، لكنه كريم عند الله؛ لأن قلبه طيب، وهو مؤمن صادق مع الله عز وجل

“Kadang ada orang yang buruk rupa dan diremehkan oleh manusia; tapi terhormat dalam penilaian Allah disebabkan hatinya baik. Dia beriman dan jujur kepada Allah.” (Syarah Kitab Al Kaba’ir, hlm. 24)

— Tepi Mahakam @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:23) 28 Rabi’ul Akhir 1440 / 04 Januari 2019

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

كانت الضفدع تطفئ النار عن إبراهيم وكان الوزغ ينفخ فيه. فنهى عن قتل هذا وأمر بقتل هذا

“Katak berusaha memadamkan api yang membakar Ibrahim; sedangkan cicak meniup apinya agar semakin jadi. Sehingga dilarang membunuh katak dan diperintahkan untuk membunuh cicak.” -SHAHIH- HR. Abdurrazaq (8392)

« Faedah dari Asy-Syaikh Arafat hafizhahullah »

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (20:00) 28 Rabi’ul Akhir 1440 / 03 Januari 2019

Al Allamah Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah menyatakan:

لا بد من العناية بإصلاح القلوب بالتزام الصدق وبالإخلاص والتوبة والإنابة ومراقبة الله -عز وجل- والحذر من الرياء والحذر من الحسد والحذر من الحقد والحذر مما يفسد القلب. فلا بد من تطهير القلب، لأنه لا يدخل الجنة إلا من لقي الله بقلب سليم، والقلب السليم هو الذي يسلم من هذه الأدواء من الشرك والكذب والبطر والأشر والحسد والبغضاء في سبيل الشيطان إلى آخر الصفات الذميمة

“Menjadi suatu keharusan untuk perhatian terhadap perbaikan kondisi hati; dengan cera memegang teguh kejujuran, ikhlas, taubat, inabah, merasa diawasi oleh Allah.

Juga dengan mewaspadai riya’, dengki, menyimpan dendam, dan semua hal lain yang bisa merusak hati.

Sehingga harus ada usaha untuk membersihkan hati! Karena tidak ada yang masuk ke dalam surga selain orang yang bertemu Allah dengan hati yang sehat.

Yaitu hati yang bersih dari ragam penyakit hati; seperti syirik, bohong, angkuh, sombong, dengki, membenci karena setan, dan sifat-sifat tercela lainnya.” (Al Majmu’ Ar-Ra’iq, hlm. 202-203)

Faedah melalui: @din_nasiha

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (13:39) 27 Rabi’ul Akhir 1440 / 03 Januari 2019

Al Allamah Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

أن المنافقين يلمزون المؤمنين، إن تصدّق المسلمون بكثير قالوا : هؤلاء مراؤون، وإن قلّلو بحسب طاقتهم قالوا : إن الله غني عن عملك

“Sesungguhnya orang-orang munafik gemar memperolok orang beriman. Bila ada umat Islam yang bersedekah banyak; si munafik akan berkata, ‘Mereka ini riya’.’ Bila ada umat Islam yang bersedekah sedikit sesuai kemampuan yang dimilikinya; kaum munafik kembali berkata, ‘Allah tidak perlu dengan amalmu ini!’.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/137)

Keterangan beliau ini tersarikan dari firman Allah dalam QS. At-Taubah : 79.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (17:00) 27 Rabi’ul Akhir 1440 / 03 Januari 2019

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

فضيله برّ الوالدين؛ وأنه من الأعمال الصالحة التي تفرّج بها الكربات

“Berbakti pada orangtua termasuk amalan yang jadi sebab teratasinya kesulitan dan kesusahan.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/82)

Dan tentunya, di samping keutamaan-keutamaan lainnya yang akan didapat oleh seorang anak yang berbakti.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (07:24) 27 Rabi’ul Akhir 1440 / 03 Januari 2019

Asy-Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

ترك غض البصر وحفظ الفرج؛ كل ذلك من أسباب الهلاك، وأسباب الشقاء، وأسباب البلاء

“Tidak menundukkan pandangan dan tidak menjaga kemaluan (dari yang haram) merupakan sebab kebinasaan, kesengsaraan, dan malapetaka.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/94-95)

Maka menahan pandangan jauh lebih ringan daripada menanggung akibatnya yang berkepanjangan.

— Masjid Abu Hurairah @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (13:02) 26 Rabi’ul Akhir 1440 / 02 Januari 2019

Berkata Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah:

ولكن كثيرًا من النّاس إذا وقع في خطأ، وقع في غلو، وقع في شيء فلا يرجع -عياذا بالله- وهذا بلاء مُهلك نَسْأَلُ اللَّه الْعَافِيَةَ

“Kebanyakan orang bila terjatuh dalam kesalahan, sikap ghuluw, dan semisal; tidak kembali [ pada kebenaran ]. Kita berlindung pada Allah dari yang demikian. Sikap semacam ini adalah musibah yang membinasakan. Kita mohon keselamatan pada Allah.” (Ats-Tsabat ‘ala As-Sunnah, hlm. 17)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (22:57) 24 Rabi’ul Akhir 1440 / 30 Desember 2018

Imam Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:

كفى غشا للمسلمين أن يتمنى غلاء سعرهم

“Cukup sebagai bukti ketidaktulusan seseorang pada umat Islam; ketika dia mengangankan harga barang jadi mahal.” (Asy-Syu’ab, VII/526)

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (22:12) 25 Rabi’ul Akhir 1440 / 31 Desember 2018

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah punya penjelasan bagus tentang hal ini. Berikut pernyataan beliau:

إذا رأيت أن المريض يحب أن تُطيل المقام عنده، فأطل
المقام؛ فأنت على خير وعلى أجر، فأطل المقام عنده، وأدخل عليه السرور، ربما يكون في دخول السّرور على قلبه سببًا لشفائه ؛ لأن سرور المريض وانشراح
صدره من أكبر أسباب الشفاء

فإذا رأيت أنه يحبّك تبقى فابق عنده، وأطل الجلوس عنده حتى تعرف أنّه قد ملَّ

أمَّا إذارأيت أن المريض متكلّف ولا يحب انك تبقى، أو يحب أن تذهب عنه حتى يحضر أهله ويأنس بهم فلا تتأخر، اسأل عن حاله ثم انصرف

“Bila kamu memandang bahwa saudaramu yang sakit itu senang kamu duduk lama bersamanya; maka bertahanlah. Niscaya engkau berada dalam kebaikan dan limpahan pahala.

Perlamalah duduk bersamanya dan buat dia bahagia. Boleh jadi kebahagiaannya menjadi sebab dia sembuh. Karena kebahagiaan dan kelapangan yang dirasakan oleh orang sakit merupakan sebab terbesar dia jadi sembuh.

Maka bila kamu melihat dia masih suka kamu menemaninya maka bertahan dan perlamalah duduk bersamanya; hingga kamu lihat dia telah bosan.

Sedang jika kamu melihat dia merasa berat dan tidak suka kamu bertahan atau nampak dia ingin agar kamu pergi sehingga dia bisa bersama keluarganya dan menenteramkan hati bersama mereka; maka cukup tanyakan kabarnya lalu pamit.” (Syarah Riyadhus Shalihin, I/51)

Jadi sederhananya, lihat kondisi. Miliki kepekaan dari melihat bahasa tubuhnya. Semoga manfaat.

— Jalur Masjid Agung @ Kota Raja
— Hari Ahadi, (16:47) 24 Rabi’ul Akhir 1440 / 31 Desember 2018